Ada saat-saat, biasanya di siang yang paling jernih, ketika matahari menerobos lurus ke dalam kamar, di mana entitas itu surut sampai ke dasar dan Bara muncul kembali utuh, seolah-olah air keruh mengendap dan menyisakan air bening di permukaan.
Ratri belajar mengenali saat-saat itu. Bahu Bara akan turun, ketegangan akan luruh dari rahangnya, dan matanya—yang sepanjang malam kosong dan hitam terlalu dalam—akan kembali menjadi mata kakaknya, lelah tapi miliknya sendiri. Di saat-saat itulah mereka bicara seperti dulu, dua kakak-adik di kamar yang sama, terhalang hanya oleh garis bubuk tipis di lantai.
Pada satu siang seperti itu, Bara memanggilnya dengan suara yang tenang dan jelas.
"Ratri. Duduk. Aku punya banyak yang harus kukatakan selagi aku masih aku."
Ratri duduk di luar garis, dekat dengan kakaknya tapi tidak menyentuhnya. Bara menatapnya lama, seakan ingin mengingat setiap garis wajahnya, dan Ratri teringat bagaimana Ibu menatap mereka di subuh sebelum Gandasuli, dengan tatapan orang yang menyimpan rupa untuk berjaga-jaga.
"Aku tahu apa yang Mbah Joyo katakan padamu," kata Bara. "Aku mendengarnya. Bukan dengan telingaku—dengan telinganya, yang ada di dalam diriku. Ia mendengar segala yang menyangkut dirinya, dan ia ketakutan, Ratri. Untuk pertama kalinya dalam tiga generasi, ia ketakutan. Itu artinya rencanamu benar." Ia tersenyum kecil, sedih. "Tapi aku juga mendengar bagian yang lain. Bahwa mengikatnya berarti mengunci inangnya. Bahwa untuk membebaskan inang, seseorang harus menggantikannya, atau inang itu tinggal di sana selamanya."
Ratri menatap lututnya. Ia tidak bisa menatap mata kakaknya. "Aku belum tahu caranya, Mas. Aku masih mencari celah. Pasti ada cara untuk—"
"Ratri." Suara Bara lembut tapi tak bisa dibantah. "Lihat aku."
Ia mengangkat wajahnya.
"Di Gandasuli dulu," kata Bara, "aku yang menyerahkan diri, dan kau yang menarikku keluar. Aku yang siap mati, dan kau yang menyelamatkanku. Kita bertukar janji malam itu—kalau aku ragu, kau tarik aku; kalau kau ragu, aku seret kau pulang. Kita menepatinya." Ia berhenti, dan menelan sesuatu yang terasa berat di tenggorokannya. "Sekarang aku minta satu hal. Kalau ritual ini menuntut nyawa inang—kalau pada akhirnya satu orang harus tinggal terikat supaya yang lain bebas—biarkan aku yang membayar. Aku inangnya. Sudah sewajarnya aku yang tinggal."
"Tidak." Kata itu keluar dari Ratri sebelum ia sempat berpikir. "Tidak, Mas. Kita putus rantai ini supaya tidak ada lagi yang harus mati untuk perjanjian itu. Bagaimana mungkin caranya justru kamu yang—"
"Karena aku sudah setengah di sana, Ratri." Bara menunjuk dirinya sendiri, garis bubuk, kamar yang menjadi penjaranya. "Setiap malam aku makin sedikit. Aku merasakannya menggerogotiku, sepotong demi sepotong. Dalam beberapa bulan, mungkin tidak ada lagi Bara yang tersisa untuk diselamatkan—hanya tubuhku yang dipakai berjalan-jalan oleh sesuatu yang lain. Kalau aku masih punya satu pilihan tersisa di hidupku, biarkan pilihan itu menjadi: aku yang menentukan kapan dan bagaimana aku pergi. Bukan ia. Aku." Matanya berkaca-kaca. "Itu satu-satunya kemerdekaan yang masih bisa kumiliki. Jangan kau rampas dariku karena kau terlalu menyayangiku."
Ratri menangis tanpa suara, dan untuk pertama kalinya sejak ia pulang, Bara mengulurkan tangan—pelan, sampai ke tepi garis, tidak melewatinya—dan Ratri menyambut ujung jari kakaknya dengan ujung jarinya sendiri di tepi yang berseberangan, sedekat yang aman, sejauh yang perlu.
Tangan Bara dingin. Selalu dingin, sejak malam itu. Tapi di balik dinginnya, Ratri masih bisa merasakan kakaknya—Bara yang mengajarinya memanjat pohon mangga, yang menggendongnya saat ia jatuh dari sepeda, yang pulang ke neraka keluarga ini hanya karena tak ingin Ibu menghadapinya sendirian.
"Aku belum berjanji," kata Ratri serak. "Aku akan cari cara lain dulu. Tapi kalau memang tidak ada—" suaranya pecah, "—kalau memang tidak ada cara lain, aku akan menghormati pilihanmu. Itu yang bisa aku janjikan."
Bara mengangguk, dan tersenyum, dan untuk sesaat di kamar yang menjadi penjara itu, ada sesuatu yang terasa hampir seperti damai. Lalu matahari bergeser, bayangan jendela memanjang, dan Ratri melihat mata kakaknya mulai menggelap kembali. Saat itu hampir habis. Ia menarik tangannya, mundur ke luar, dan menyaksikan dengan dada hancur kakaknya tenggelam kembali ke dasar, menyisakan di permukaan sesuatu yang menatapnya dengan terlalu banyak gigi.