Ritual sebesar ini tidak boleh dicoba mentah-mentah, kata Mbah Joyo dalam catatan. Maka Ratri berlatih.
Ia memulai dari yang paling kecil—menyusun tujuh daun dalam pola yang benar, menghafal urutan, mengucap rapalan yang ditulis dukun itu dengan aksara Jawa yang harus ia eja perlahan-lahan. Ia berlatih di siang hari, di pekarangan belakang, saat matahari tinggi dan kuasa entitas paling lemah. Setiap gerakan ia ulang sampai tangannya hafal tanpa berpikir.
Tapi latihan pengikatan tak bisa sepenuhnya dilakukan tanpa sasaran, dan satu-satunya sasaran di rumah ini adalah Bara.
Pertama kali Ratri mengucap salah satu bait rapalan di dekat kamar kakaknya—hanya berlatih, hanya menggumam—Bara yang sedang tenang di dalam garis tiba-tiba menegang. Kepalanya tersentak ke samping, ke kemiringan yang tidak wajar, kemiringan yang Ratri kenal dari pendapa bertahun lalu. Dan dari mulut Bara keluar suara yang bukan suara Bara, banyak suara sekaligus, tua dan muda dan tak berusia.
"Kau pikir bisa mengikatku dengan cicit-cicit dukun mati itu?" Suara itu tertawa, dan tawa itu membuat lampu di kamar bergoyang. "Joyo sudah mati, Nduk. Aku yang membunuhnya, pelan-pelan, dari dalam. Dan kau pikir warisan orang mati cukup untuk melawanku?"
Ratri membeku di ambang pintu, jantungnya menabrak tulang rusuk. Lalu ia memaksa dirinya tetap di tempat, dan melanjutkan rapalan, suaranya gemetar tapi tak berhenti.
Bara—atau yang menghuni Bara—mengejang, dan tangan-tangannya mencengkeram batas garis bubuk dari dalam, tak mampu melewatinya, jari-jarinya menggaruk udara di tepi penanda. "Berhenti," desisnya. "Itu menyakitiku."
Dan untuk satu detik, di antara dua suara itu, Ratri mendengar suara ketiga—suara Bara sendiri, jauh dan tertindih, seperti orang berteriak dari dasar sumur. "Lanjutkan," kata suara itu. "Ratri—lanjutkan—jangan berhenti karena aku—"
Lalu suara banyak-suara menelannya kembali, dan wajah Bara menyeringai dengan terlalu banyak gigi.
Ratri menyelesaikan bait itu, lalu mundur dari ambang pintu, dan bersandar di dinding lorong sampai lututnya berhenti gemetar. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia baru saja membuktikan bahwa rapalan itu bekerja—entitas itu terganggu, tersakiti, terdesak. Tapi ia juga baru membuktikan sesuatu yang lebih menakutkan: setiap kali ia menyentuh entitas itu dengan ritual, Bara yang menanggung rasa sakitnya.
Ibu menemukannya di lorong, masih bersandar di dinding. "Kamu pucat sekali, Nduk."
"Ini menyakiti Mas Bara, Bu," bisik Ratri. "Setiap kali aku berlatih, Mas Bara yang kesakitan. Aku tidak bisa melatih ini tanpa menyiksanya. Dan kalau aku tidak berlatih, aku tidak akan cukup mahir saat malam Sura tiba." Ia menutup wajah dengan tangan. "Mbah Joyo bilang aku punya cinta yang membuatku tak gentar. Tapi justru cinta itu yang membuat aku ragu. Bagaimana aku bisa menyakiti orang yang ingin kuselamatkan?"
Ibu duduk di sampingnya, di lantai lorong yang dingin, dan merangkul bahu putrinya. Lama mereka diam.
"Waktu kalian kecil," kata Ibu akhirnya, "Bara pernah kena paku berkarat di telapak kaki, dalam sekali. Harus dikorek keluar. Dia menjerit, menendang, memohon Ibu berhenti. Dan Ibu tetap korek, sambil menangis, sambil dia membenci Ibu di detik itu. Karena Ibu tahu kalau Ibu berhenti karena tangisnya, lukanya akan membusuk dan dia bisa kehilangan kakinya." Ibu menatap Ratri. "Kadang menyayangi seseorang berarti melukainya untuk menyelamatkannya, Nduk. Yang jahat bukan rasa sakit. Yang jahat kalau kita berhenti karena tak tahan melihatnya kesakitan, lalu membiarkan dia mati pelan-pelan supaya kita tak perlu jadi orang yang melukainya."
Ratri menurunkan tangan dari wajahnya. Di ujung lorong, dari balik garis, ia masih bisa mendengar samar senandung tembang itu—Mbah Demang, menari kembali ke depan, mengambil alih lagi.
"Mas Bara sendiri yang menyuruhku lanjutkan," kata Ratri pelan.
"Maka lanjutkan," kata Ibu. "Hormati keberaniannya dengan tidak menyia-nyiakannya."
Ratri menarik napas panjang, menyeka wajahnya, dan bangkit. Ia masih takut. Ia masih ragu apakah ia cukup kuat tanpa Mbah Joyo. Tapi ia tahu sekarang bahwa ragu bukan alasan untuk berhenti—ragu hanya beban tambahan yang harus dipikul sambil tetap melangkah.
Ia kembali ke ambang pintu, membuka buku kecilnya, dan mulai membaca bait berikutnya.