Ratri pulang ke joglo dengan tekad yang lebih keras dari kayu jati di tiang-tiangnya.
Hal pertama yang ia lakukan, bahkan sebelum melepas sepatu, adalah menengok kamar tempat kakaknya dikurung. Garis bubuk dan tujuh daun masih utuh di sekeliling ranjang—Ibu dan dua kerabat yang tersisa menjaganya bergantian selama Ratri pergi. Di dalam garis, Bara duduk bersandar di dinding, dan ketika ia mendongak melihat adiknya, sesaat ia adalah Bara yang sesungguhnya: matanya jernih, wajahnya lelah, bibirnya bergetar menahan haru.
"Kamu pulang," katanya parau. "Mbah Joyo?"
Ratri menggeleng pelan.
Bahu Bara turun. "Berarti tinggal kamu sekarang."
"Tinggal aku," kata Ratri. "Tapi aku tahu jalannya. Mbah menyerahkan semuanya sebelum pergi. Aku tahu apa yang harus dikumpulkan, Mas. Aku akan mengumpulkannya semua."
Mulai hari itu, hidup Ratri berubah menjadi daftar panjang yang harus dicoret satu per satu.
Keris hitam ia keluarkan dari kotak kayu hitam, membungkusnya dengan kain putih sebagaimana diajarkan, tidak menyentuhnya langsung dengan kulit. Tanah merah ia pindahkan ke kendi tanah liat dan ia tutup dengan daun pisang yang sudah dijampi—tanah ikatan, kata Mbah Joyo, harus tetap lembap sampai saatnya tiba. Tujuh daun penanda ia siapkan, jenis yang sama dengan yang dulu menyelamatkan Bara di Gandasuli; sebagian tumbuh di pekarangan belakang, sebagian harus ia cari di tepi hutan, dipetik dengan tangan kiri sebelum matahari naik.
Yang paling sulit adalah dua syarat terakhir.
Nama sang demang—nama manusianya sebelum ia jadi penunggu—belum ia ketahui. Itu pekerjaan yang menuntut waktu, makam tua, dan tutur sesepuh, dan Ratri menyimpannya sebagai tugas tersendiri yang akan ia kejar bersama Pak Karto dan kakek warung.
Dan darah. Darah dari garis Sastrawijaya, diberikan dengan kesadaran penuh. Ratri tahu tanpa perlu bertanya bahwa darah itu harus darahnya, atau Ibu, atau salah satu kerabat yang tersisa. Bukan darah Bara—Bara sudah menjadi bagian dari entitas, darahnya tak lagi murni sebagai penawar.
Malam itu, di pendapa, Ratri menjelaskan semua kepada Ibu dan Pakdhe Hartono. Pakdhe Hartono yang dulu—yang membuka garis kurungan dan menyebabkan seorang kerabat mati—kini duduk membungkuk, hancur oleh rasa bersalah, tak lagi membantah apa pun. Itu menyakitkan Ratri lebih dari kemarahan. Lebih mudah membenci paman yang berontak daripada paman yang patah.
"Berapa darah yang dibutuhkan?" tanya Ibu, suaranya tipis.
"Tidak banyak. Tapi harus diberikan dengan rela, dengan kesadaran apa yang sedang dilakukan. Mbah Joyo bilang itu yang penting—bukan jumlahnya, tapi niatnya." Ratri menatap satu per satu wajah mereka. "Dan harus dari kita yang masih bersih dari perjanjian. Bukan dari Mas Bara."
Ibu mengangkat dagunya, dan untuk sesaat di wajah perempuan tua yang rapuh itu muncul sesuatu yang keras dan tua, sesuatu yang Ratri kenal sebagai akarnya sendiri. "Kalau begitu darah Ibu," kata Ibu. "Ibu yang melahirkan kalian. Adil kalau darah Ibu yang menebusnya."
"Bukan hanya Ibu," kata Ratri. "Aku juga. Pakdhe juga, kalau Pakdhe bersedia. Mbah Joyo tidak bilang harus satu orang. Makin banyak garis darah yang memberi dengan rela, makin kuat ikatannya."
Pakdhe Hartono mengangkat wajahnya. Matanya basah. "Setelah apa yang kuperbuat," katanya serak, "kau masih mau darahku?"
"Justru karena itu, Pakdhe," kata Ratri pelan. "Tebusan paling kuat datang dari orang yang paling punya alasan untuk menebus."
Hening menggantung di pendapa. Lampu kristal di atas mereka diam, tidak berdenting, tapi ketenangannya terasa seperti tarikan napas sebelum sesuatu. Ratri menatap kendi tanah merah di pangkuannya, keris terbungkus di sampingnya, daftar yang masih panjang di kepalanya, dan untuk sesaat beban itu nyaris merobohkannya.
Lalu ia mengingat wajah Mbah Joyo, jernih di detik terakhir, dan jari tua yang menyentuh dadanya. *Kau punya orang yang kau cintai cukup untuk membuatmu tak gentar.* Ia menegakkan punggung, mengambil pena, dan mencoret satu lagi baris dari daftar di buku kecilnya.