Mbah Joyo bertahan tiga hari lagi, dan tiap hari ia menyerahkan sepotong lagi dari apa yang ia ketahui, seperti orang yang mengosongkan rumahnya sebelum pergi untuk selamanya.
Ratri menuliskan semuanya di buku kecil, dengan tangan yang sering berhenti karena gemetar. Urutan ritual. Pantangan tujuh malam menjelang Sura. Cara memurnikan keris yang menolak digunakan. Air dari tujuh sumber. Mana daun yang harus dipetik sebelum fajar dan mana yang harus dipetik setelah magrib. Mbah Joyo mengeja semuanya dengan napas yang makin sedikit, dan Ratri menyerap semuanya seperti tanah kering menyerap hujan pertama.
"Kau bukan dukun, Nduk," kata Mbah Joyo di pagi ketiga, suaranya tinggal embusan. "Kau tak punya ilmuku, tak punya tahun-tahunku. Tapi kau punya satu hal yang tak pernah kupunya, dan itu yang akan menentukan." Ia mengangkat tangan dengan susah payah dan menyentuh dada Ratri, di atas jantung. "Kau punya orang yang kau cintai cukup untuk membuatmu tak gentar. Aku menolong banyak orang seumur hidupku, tapi tak satu pun untuk siapa aku rela mati. Itu kelemahanku dulu. Kau—kelebihanmu justru ada di sana."
Ratri menggenggam tangan kurus itu. "Mbah jangan bicara seperti orang mau pergi."
"Aku memang mau pergi, Nduk." Ia tersenyum. "Dan tak apa. Aku tua. Tugasku selesai. Yang menyedihkan bukan kematianku—yang menyedihkan kalau aku mati tanpa menyerahkan ini padamu lebih dulu." Matanya menerawang ke langit-langit anyaman. "Dengar baik-baik satu hal terakhir. Ketika kau ucapkan nama aslinya, ia akan tampak seperti manusia lagi. Sejenak. Dan ia akan memohon. Ia akan menangis. Ia akan bercerita betapa malangnya nasibnya. Itu benar—semua itu benar—tapi belas kasih tanpa pengikatan hanya akan memindahkan kutukan ke generasi berikutnya. Kau dengar aku? Kasihanilah ia kalau kau mau. Tapi tetap ikat ia. Belas kasih yang tidak menyelesaikan apa-apa bukan kebaikan, Nduk. Itu kepengecutan yang menyamar jadi kelembutan. Persis dosa kakekmu."
"Saya dengar," kata Ratri.
Mbah Joyo mengangguk, puas, dan menutup matanya untuk terakhir kalinya.
Napasnya melambat sepanjang sore. Ratri tidak meninggalkannya. Ia menyalakan dupa di sudut, sebagaimana diajarkan, dan duduk memegang tangan dukun tua itu sampai matahari tenggelam di balik perbukitan kapur dan menyemburatkan langit dengan warna jingga yang lembut. Tepat saat azan magrib mengalun samar dari masjid di lembah, dada Mbah Joyo naik satu kali lagi, lalu turun, dan tidak naik kembali.
Ratri duduk diam dalam gelap yang turun. Ia tidak menangis kali ini. Air matanya sudah habis di malam pertama. Yang tinggal hanya kekosongan dan beban—kesadaran bahwa satu-satunya orang yang tahu jalan ini lebih baik darinya kini sudah tiada, dan mulai detik ini, ia melangkah sendirian.
Ia mengurus jenazah dukun itu bersama beberapa tetangga lereng yang datang setelah mendengar kabar. Mereka memandikan, mengafani, dan menguburkannya keesokan harinya di pemakaman desa, di bawah pohon kemboja yang sudah tua. Tidak banyak yang melayat. Mbah Joyo hidup terpencil, ditakuti sekaligus dibutuhkan, dan kematiannya disambut desa dengan keheningan yang sama yang menyambut hidupnya.
Sebelum pulang, Ratri berjongkok di samping gundukan tanah merah yang masih segar. "Terima kasih, Mbah," bisiknya. "Saya tidak akan membuat semua yang Mbah ajarkan jadi sia-sia. Saya janji."
Angin lereng mengembus, dingin, dan untuk sesaat Ratri kira ia mendengar suara senandung—tembang itu—dibawa angin dari arah utara, dari arah desanya, dari arah rumah tempat kakaknya menunggu dalam kurungan garis. Ia menegakkan punggung. Bulu kuduknya berdiri.
Ia menggendong ranselnya, memeluk buntelan keris dan tanah merah di dada, dan berjalan menuruni lereng menuju jalan, menuju bus tua, menuju pulang. Di sakunya, buku kecil berisi seluruh warisan dukun itu terasa berat seperti batu—dan berharga seperti satu-satunya tali yang membentang di atas jurang.