Bus tua itu meranggas menyusuri jalan berliku ke pegunungan kapur, dan Ratri menatap ke luar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun.
Di pangkuannya tergeletak buntelan kain berisi keris hitam dan segenggam tanah merah, dibungkus rapat seperti sesuatu yang bisa menggigit jika dibiarkan terbuka. Sudah seminggu sejak pemakaman. Tanah di kuburan kerabat yang mati pagi itu—setelah garis kurungan Bara dibuka semalam—masih basah, dan Ratri masih bisa mencium baunya setiap kali ia memejamkan mata. Ia tidak menutup mata sekarang. Ia tidak akan membiarkan dirinya lengah lagi.
Rumah kecil di lereng bukit gersang itu lebih sunyi dari yang ia ingat. Tak ada asap dari dapur. Pintu anyaman bambunya setengah terbuka, berderit pelan ditiup angin. Ratri masuk, dan menemukan Mbah Joyo terbaring di balai-balai, tubuhnya menyusut sampai serupa ranting kering yang dibalut kulit.
"Mbah," panggilnya pelan, berlutut di samping balai.
Mata tua itu terbuka perlahan, dan butuh beberapa saat sebelum mereka menemukan wajah Ratri di antara kabut yang menggantung di sana. "Anak Sastrawijaya," gumamnya. Napasnya berbunyi, tipis seperti kertas yang disobek. "Aku sudah menunggumu. Tapi kupikir kau datang terlambat." Ia terbatuk, dan dari sudut bibirnya keluar busa kemerahan. "Aku sekarat, Nduk. Menolong keluargamu membuatku jadi sasaran. Ia tahu siapa yang merepotkannya."
"Saya bawa keris dan tanah merahnya." Ratri membuka buntelan dengan tangan gemetar. "Mbah pernah bilang ada cara terakhir. Pengikatan-nama. Saya butuh tahu langkahnya. Sekarang. Sebelum—"
"Sebelum aku mati." Mbah Joyo tersenyum, dan tak ada gembiranya di senyum itu. "Bilang saja, Nduk. Kita berdua sudah terlalu tua untuk berputar-putar dengan kata-kata."
Ratri mengatupkan rahangnya. "Sebelum Mbah mati."
Dukun tua itu mengangkat satu jari bengkok, dan Ratri mendekatkan telinganya, sebab suaranya kini tinggal serak.
"Membakar perjanjian gagal. Sudah dibuktikan kakakmu—ia malah menjadi rumahnya. Maka jangan kau bakar lagi. Yang harus kau lakukan adalah mengikatnya. Tapi sesuatu hanya bisa diikat kalau ia punya nama, dan Mbah Demang sudah membuang namanya begitu lama sampai ia sendiri lupa pernah memilikinya." Ia menarik napas yang berbunyi seperti gergaji. "Temukan nama itu, Nduk. Nama manusianya, sebelum ia jadi penunggu. Ucapkan nama itu tepat di tempat ia dikuburkan—di makam tanpa nisan di tepi Gandasuli. Susun garis penanda dengan tujuh daun, panggil tujuh nama tumbal terdahulu sebagai saksi, lalu ikat namanya ke tanah dengan keris hitam dan darah dari garis Sastrawijaya yang diberikan dengan kesadaran penuh. Bukan dipaksa. Bukan ketakutan. Diberikan."
"Diberikan oleh siapa?"
Mbah Joyo menatapnya lama, dan dalam tatapan itu ada iba yang membuat dada Ratri sesak. "Itu, Nduk, yang tak akan kukatakan dengan ringan. Mengikat dhanyang ke tanah menuntut inang ikut terikat. Selama ini kau berpikir kau bisa menyelamatkan kakakmu dan menutup pintu sekaligus. Camkan kata-kataku: harga ini tak lebih ringan dari yang dulu. Mungkin lebih berat. Sebab dulu kakakmu cuma harus mati. Sekarang ada yang harus rela tinggal."
Ratri merasa darahnya dingin. "Tinggal di mana?"
"Di ikatan." Mbah Joyo memejamkan mata. "Kalau kau ikat entitasnya, dan inangnya masih menyatu dengannya, maka inang ikut terkunci. Untuk membebaskan Bara, seseorang harus menggantikannya—atau Bara tinggal di sana selamanya, terikat bersama yang ia tampung." Ia membuka mata sekali lagi, jernih sesaat, seperti lilin yang menyala terang sebelum padam. "Aku tak bisa membuat pilihan itu untukmu. Tak ada dukun, tak ada kitab, tak ada doa yang bisa. Itu pilihan kasih sayang, Nduk. Dan kasih sayang selalu menuntut harga yang paling mahal."
Angin masuk dari pintu anyaman, dingin meski siang, dan lampu minyak di sudut ruangan bergoyang sekali tanpa sebab.
Ratri menggenggam tangan dukun tua itu, dingin di telapaknya, dan untuk pertama kalinya sejak pemakaman, ia mengizinkan dirinya menangis. Bukan tangis menyerah. Tangis orang yang baru saja diberi peta menuju tempat yang sangat ia takuti, dan tahu ia tetap harus berjalan ke sana sendirian.
"Saya mengerti, Mbah," bisiknya. "Saya akan membayarnya. Apa pun harganya."
Mbah Joyo menutup matanya, dan untuk sesaat Ratri kira ia sudah pergi. Tapi dadanya masih naik turun, samar. "Belum sekarang," gumamnya. "Tidurkan dulu orang tua ini. Besok... besok kuajarkan sisanya. Hari ini aku sudah menumpahkan terlalu banyak."
Ratri duduk di samping balai sepanjang malam, menjaga napas dukun itu seperti menjaga bara terakhir yang menolak padam.