Mereka memakamkan kerabat yang gugur itu tiga hari kemudian, di pemakaman desa, tidak jauh dari makam tua tempat Ratri menemukan jejak sang demang.
Hujan turun rintik-rintik sepanjang prosesi, langit kelabu dan rendah, seakan ikut berduka. Seluruh desa datang—bukan dengan tatapan takut dan curiga seperti dulu, melainkan dengan duka yang tulus, sebab kabar telah menyebar dengan caranya sendiri bahwa keluarga Sastrawijaya kembali berperang dengan kegelapan lama itu, dan kali ini kalah satu nyawa. Kakek warung kopi datang, bertelanjang dada di bawah payung, menatap liang kubur dengan mata tua yang basah. Mbah Kasiman datang, blangkonnya gelap oleh hujan, berdiri di belakang dengan tangan terkatup. Pakdhe Hartono datang dengan pelipis masih berperban, wajahnya kelabu oleh rasa bersalah—sebab ia tahu, garis yang ia buka itulah yang menagih nyawa kerabatnya, dan bukan dirinya.
Ibu mereka tak berhenti menangis. Ia telah kehilangan seorang kerabat dekat, dan ia tahu—mereka semua tahu—bahwa kematian itu tak perlu terjadi. Bibi Sukma, yang selama ini terlalu lumpuh oleh takut untuk keluar rumah, datang dipapah dengan langkah gemetar, dan ia menggenggam tangan Ratri sepanjang doa.
Ratri berdiri di tepi liang, menatap tanah merah—merah yang sama dengan tanah di kotak hitam, ia sadari dengan ngeri—ditimbun ke atas peti kerabatnya. Ia tidak menangis. Air matanya sudah habis di malam-malam menjaga garis, di pagi puskesmas yang dingin. Yang tersisa di dalamnya bukan lagi duka mentah, melainkan sesuatu yang lebih keras, lebih tajam, yang mengeras di sekitar dukanya seperti kulit di sekitar luka lama.
Sepulang dari pemakaman, ketika rumah joglo sudah sepi dari pelayat dan hujan mereda, Ratri mengumpulkan yang tersisa dari keluarganya di pendapa: ibunya, Pakdhe Hartono yang masih lemah dengan perban di pelipisnya, dan Bibi Sukma. Bara, di kamar, masih terkurung, dijaga Mbah Kasiman. Mereka tak lengkap lagi. Mereka tak akan pernah lengkap lagi.
"Aku ingin mengatakan sesuatu," kata Ratri, dan suaranya tenang, tapi ada baja di bawahnya. "Dan aku ingin kalian mendengarnya, supaya tidak ada lagi yang terjadi seperti yang menimpa kerabat kita semalam."
Ibunya mengangkat wajah yang basah. Pakdhe Hartono menunduk, perban di pelipisnya, hancur oleh rasa bersalah. Bibi Sukma menatap Ratri, gemetar.
"Mbah Demang menawarkan kita jalan mudah," lanjut Ratri. "Tukar satu nyawa, dan semua selesai. Pakdhe percaya tawaran itu, karena dukanya membuatnya buta. Pakdhe membuka garis, mengira menyerahkan nyawanya sendiri—dan justru kerabat kita yang mati membayarnya, bukan karena tawaran itu benar, tapi karena tawaran itu memang dirancang untuk membunuh kita perlahan, satu demi satu, dari dalam. Dia tidak butuh menembus garis. Dia cuma butuh kita saling tidak percaya, saling mengorbankan, saling membuka pintu untuknya." Ratri menatap mereka satu per satu, matanya keras. "Aku bersumpah, di hadapan kalian dan di hadapan tanah merah yang baru saja menutup kerabat kita—aku tidak akan mengakhiri ini dengan menukar satu nyawa kita untuk nyawa yang lain. Tidak akan pernah. Kalau kita menang dengan cara begitu, kita kalah. Kita jadi seperti Kakek, yang membayar dengan darah keluarganya sendiri. Aku tidak akan jadi Kakek. Mas Bara tidak akan jadi Kakek. Dan keluarga ini tidak akan mengubur satu sama lain untuk menyelamatkan diri."
Ibunya menggenggam tangannya. "Lalu bagaimana, Nduk?" bisiknya. "Bagaimana kita mengakhirinya, kalau bukan dengan nyawa?"
"Dengan namanya," kata Ratri. "Aku sudah hampir memecahkan aksara di nisan itu. Mbah Joyo pernah bilang, dan kakek menulisnya juga: dia bisa diikat, bukan cuma dibakar. Diikat kembali ke nama manusianya, ke makamnya, ke perempuan yang dulu dia telan. Itu jalan yang benar. Lebih panjang. Lebih sulit. Mungkin tetap menuntut harga—aku tidak akan berbohong soal itu. Tapi harga yang dibayar dengan kesadaran penuh dan kerelaan sejati, bukan dengan pengkhianatan di tengah malam." Ia mengeratkan genggaman tangan ibunya. "Aku akan ke Gunungkidul lagi. Menemui Mbah Joyo, selagi dia masih hidup. Aku butuh langkah terakhir ritualnya. Dan kali ini, kita melakukannya bersama—seluruh yang tersisa dari keluarga ini, dan desa kalau perlu. Tidak ada lagi yang menjaga sendirian. Tidak ada lagi yang berkorban diam-diam. Kita berdiri bersama, atau kita jatuh bersama."
Hujan telah berhenti sepenuhnya sekarang, dan dari celah awan, sebatang sinar matahari sore yang pucat menembus, jatuh ke lantai pendapa, ke tempat lampu kristal menggantung diam—tidak berdenting, untuk sekali ini. Ibunya mengangguk, perlahan, dan di matanya yang lelah, di balik dukanya, menyala sesuatu yang sudah lama padam: harapan, kecil dan keras kepala.
Di kamar, terkurung dalam garis, Bara—dalam satu jeda jernih sore itu—mendengar suara adiknya dari kejauhan, samar tapi tegas, dan untuk pertama kalinya sejak kerabat mereka gugur semalam, ia menangis bukan karena takut, melainkan karena lega. Adiknya tidak akan menyerah. Adiknya tidak akan menukarnya dengan nyawa siapa pun. Dan selama Ratri masih berdiri, masih bertekad, masih menolak jalan mudah yang ditawarkan kegelapan—masih ada Bara yang tersisa untuk diselamatkan.
Di luar, kepala kerbau kayu di atap berderit pelan dalam angin senja, masih menghadap ke kamar Bara. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ada yang menghadapnya balik tanpa gentar.