Mereka membawa Pakdhe Hartono ke puskesmas malam itu juga, dan dokter jaga menjahit luka di pelipisnya, bilang lukanya tidak dalam, bilang ia hanya perlu istirahat dan diawasi gegar otaknya semalam.
"Beruntung," kata dokter muda itu, melepas sarung tangan. "Beberapa senti lagi ke pelipis, bisa lain ceritanya. Tapi ini—luka biasa. Bapak akan baik-baik saja. Bawa pulang besok pagi, istirahat penuh seminggu."
Ratri ingin percaya. Ia sangat ingin percaya. Tapi sepanjang malam itu, duduk di kursi plastik di samping ranjang puskesmas yang dingin, ia tak bisa mengusir suara Mbah Joyo dari kepalanya. *Setiap retak punya harga. Harganya selalu darah.* Garis sudah terbuka, walau cuma sekejap. Dan ia tahu, dengan kepastian yang membekukan, bahwa di suatu tempat—mungkin tidak di sini, mungkin tidak pada Pakdhe—tagihan itu sedang jatuh tempo.
Ibu mereka menjaga di sisi lain ranjang, menggenggam tangan kakaknya, berdoa dengan bibir bergerak tanpa henti. Di rumah, Bara terkunci dalam garis, dijaga Mbah Kasiman yang mereka panggil tergesa-gesa, juru kunci itu satu-satunya yang tahu dan berani. Bersamanya, ikut berjaga semalaman, salah seorang kerabat dari garis Sastrawijaya—salah satu dari sedikit yang tersisa—yang datang menggantikan Ratri menunggui kamar Bara.
Menjelang fajar, Pakdhe Hartono terbangun. Matanya jernih, dan ia menatap Ratri, dan tersenyum lemah.
"Aku bodoh," bisiknya. "Aku tahu sekarang. Dia memanfaatkan dukaku. Membisikkan bahwa aku bisa menebus Danu kalau aku berkorban. Padahal cuma ingin aku membuka garis itu." Ia menggenggam tangan Ratri, dan genggamannya hangat—hangat manusia biasa, syukurlah, bukan dingin yang Ratri takutkan. "Kau benar dari awal, Nduk. Maafkan pakdhemu yang tua dan dungu ini."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan," kata Ratri, menggenggam tangan itu balik. "Pakdhe akan sembuh. Kita pulang nanti, dan kita lanjutkan. Bersama. Kita cari namanya, dan kita akhiri ini dengan benar."
Pakdhe Hartono mengangguk, dan memejamkan mata untuk beristirahat—napasnya tenang, dadanya naik turun teratur, lukanya tak lebih dari luka biasa seperti kata dokter.
Tapi tagihan itu tetap jatuh, hanya tidak di ranjang ini.
Ketika langit di luar jendela puskesmas mulai berubah dari hitam ke kelabu, dan ayam pertama berkokok di kejauhan, telepon Ibu berdering—Mbah Kasiman, dari rumah, suaranya hancur. Kerabat yang berjaga semalaman di samping kamar Bara ditemukan tak bernyawa menjelang subuh, terduduk bersandar di dinding lorong, tanpa luka, tanpa derita, hanya berhenti—seperti lilin yang habis. Tak ada apa pun yang salah secara medis. Jantung yang sehat untuk usianya. Tapi ia pergi, di pagi setelah malam garis terbuka, persis di jam ketika tengah malam telah lama lewat dan tagihan jatuh tempo.
Ibu mereka menjerit, jeritan yang merobek subuh, dan jatuh menelungkup di pangkuan kakaknya yang masih hidup.
Ratri tidak menjerit. Ia berdiri diam di sisi ranjang, dan merasakan dingin merayap ke dalam dadanya sendiri—bukan dingin gaib, melainkan dingin pengertian. Mbah Demang tidak perlu membunuh dengan tangannya. Ia hanya perlu garis terbuka sesaat, dan utang darah yang tertunda menemukan jalannya, seperti air menemukan retak. Pakdhe membuka garis untuk mengakhiri penderitaannya, mengira nyawanya sendiri yang ditawar. Tapi yang ditagih bukan dia. Yang ditagih justru kerabat lain yang tak bersalah—sebab begitulah cara makhluk itu: ia tak mengambil yang menawarkan diri, ia mengambil yang paling menyakitkan untuk hilang.
Di luar puskesmas, di pohon dekat tempat parkir, seekor gagak berkaok satu kali, lalu terbang ke arah Hutan Gandasuli. Dan Ratri tahu, dengan kepastian yang membekukan, bahwa entitas itu sedang tersenyum melalui mulut kakaknya di rumah—satu tumbal lagi terkumpul, satu retak lagi di keluarga yang ia ingin lihat hancur sebelum ia kalah.
Yang mati tetap mati. Tidak ada yang menariknya keluar dari lingkaran kali ini.