Gembok itu hancur dengan sekali pukulan palu di gudang belakang, keesokan paginya.
Di dalam kotak, Bara menemukan tiga benda. Sebuah keris kecil tanpa sarung, bilahnya menghitam seperti dibakar. Segenggam tanah merah dalam bungkus kain, yang anehnya masih lembap meski entah sudah berapa lama tersimpan. Dan sebuah buku tua bersampul kulit, halamannya rapuh dan ditulisi tangan dengan tinta yang memudar.
Buku harian kakeknya.
Bara menghabiskan seharian penuh membacanya, terkunci di kamarnya, hanya keluar untuk makan yang nyaris tak ia sentuh. Tulisan kakeknya dimulai puluhan tahun lalu, dengan kalimat-kalimat seorang petani miskin yang putus asa. Lalu, di satu halaman yang tintanya lebih gelap, seakan ditekan lebih keras, tertulis:
*"Malam ini aku ke Gandasuli. Pak Karto bilang aku gila. Mungkin benar. Tapi anak-anakku kelaparan dan aku tak punya pilihan lagi."*
Halaman-halaman berikutnya membuat tangan Bara berkeringat dingin.
*"Penunggu itu menampakkan diri sebagai perempuan tua berkebaya, duduk di pendapa joglo yang seharusnya kosong. Wajahnya tak bisa kulihat jelas, selalu tertutup bayangan. Suaranya seperti banyak suara yang bicara bersamaan. Ia menyebut dirinya Mbah Demang. Ia menawarkan kemakmuran. Aku bertanya harganya. Ia tertawa, dan berkata harga selalu sama: darah memanggil darah."*
*"Aku menandatangani perjanjian dengan darahku di atas selembar kulit. Pulang ke rumah, kutemukan sekarung emas di bawah dipanku. Aku menangis, antara syukur dan ngeri."*
Halaman demi halaman, Bara membaca riwayat keluarganya runtuh perlahan. Setiap tahun, satu nama. Kakeknya mencatat semuanya dengan tangan gemetar, seakan mencatat adalah satu-satunya cara menebus dosa yang tak bisa ditebus.
*"Tahun ini Sarni. Istriku sendiri. Mbah Demang tidak menerima orang luar, tidak menerima pengemis atau gelandangan yang kucoba bujuk. Harus darah dagingku. Harus dari garis keturunanku. Aku membencinya. Aku membenci diriku."*
Lalu, mendekati halaman-halaman terakhir, tulisan kakeknya berubah. Tangannya makin gemetar, tapi nadanya berubah—dari putus asa menjadi sesuatu yang menyerupai harapan yang kelam.
*"Aku menemukan cara. Dukun tua di Gunungkidul memberitahuku. Perjanjian semacam ini bisa diputus, tapi dengan harga yang mengerikan. Pembuat perjanjian harus menyerahkan dirinya sendiri sebagai tumbal terakhir—dengan sukarela, di tempat perjanjian dibuat, di malam penagihan—sambil membakar lembar perjanjian aslinya dengan api yang dinyalakan dari keris pusaka. Jika pembuat perjanjian menyerahkan dirinya sendiri, bukan orang lain, maka rantai itu putus. Mbah Demang kehilangan haknya atas keturunan selanjutnya."*
Bara membaca kalimat itu berkali-kali, jantungnya berdebar.
*"Tapi aku pengecut. Aku sudah tua, aku takut mati, dan aku terbiasa hidup nyaman. Aku tahu cara memutus rantai ini, tapi aku tak punya keberanian untuk membayar harganya dengan nyawaku sendiri. Maka aku akan terus membayar dengan nyawa orang lain, sampai ajalku tiba. Dan setelah aku mati—Tuhan ampuni aku—beban ini akan turun ke anak cucuku. Aku tahu itu. Dan aku tetap memilih diam."*
Halaman terakhir, ditulis dengan tangan yang nyaris tak terbaca, mungkin beberapa hari sebelum kakeknya meninggal:
*"Lembar perjanjian asli kusembunyikan. Tidak di rumah ini—terlalu berbahaya. Kusimpan di tempat di mana semuanya bermula, di joglo lama di Gandasuli, di bawah saka guru sebelah timur. Siapa pun dari keturunanku yang membaca ini: maafkan aku. Aku mewariskan padamu kekayaan dan kutukan dalam satu napas. Jika kau cukup berani—lebih berani dari kakekmu ini—kau tahu sekarang apa yang harus dilakukan. Putuskan rantainya. Tapi pahami harganya. Selalu ada yang harus membayar. Pertanyaannya hanya: siapa, dan dengan kerelaan apa."*
Bara menutup buku itu. Tangannya gemetar. Di luar jendela, langit mulai gelap, dan ia menyadari dengan dingin yang menjalar bahwa malam penagihan—malam Selasa Kliwon bulan Sura—tinggal dua hari lagi.