Tiga malam kemudian, ketika Ratri akhirnya tertidur di tikarnya karena tubuhnya menolak bertahan lebih lama, garis itu dibuka.
Ia terbangun bukan oleh suara, melainkan oleh dingin—dingin yang menusuk yang biasanya datang ketika sesuatu di kamar itu salah. Lampu minyak telah padam. Dalam gelap, ia mendengar gesekan halus di lantai, seperti seseorang menyapu, dan suara napas yang terlalu berat untuk Bara yang biasanya tenang dalam tidur.
Ratri meraba korek, menyalakan lampu, dan jantungnya berhenti.
Pakdhe Hartono berlutut di tepi garis penanda, dengan sapu kecil di tangannya, dan ia telah menyapu sebagian bubuk—membuka celah selebar dua telapak tangan di lingkaran itu. Daun-daun penanda berserakan, terinjak. Dan di dalam lingkaran yang kini bocor, sosok yang dulunya Bara berdiri tegak, untuk pertama kalinya dalam berhari-hari berdiri penuh, kepalanya miring, senyumnya terlalu lebar, mata hitam total menatap celah di garis dengan kelaparan yang sabar.
"Pakdhe, JANGAN!" Ratri melompat berdiri.
"Aku mengakhirinya," kata Pakdhe Hartono, dan suaranya gemetar, mata basah, tangan masih memegang sapu. "Untuk Bara. Aku menyerahkan diriku. Dia bilang lewat mulut Bara tadi siang—kalau aku membuka garis dan masuk sukarela, dia akan keluar dari Bara dan mengambilku. Aku rela, Ratri. Aku rela. Biar aku yang—"
"Itu BOHONG!" Ratri sudah berlari, tapi terlambat.
Sosok dalam lingkaran itu bergerak—lebih cepat dari yang seharusnya bisa dilakukan tubuh manusia, kaki Bara melangkah melintasi celah dalam garis, keluar dari kurungan untuk pertama kalinya. Bukan untuk menerima tawaran Pakdhe. Untuk lepas. Tangan pucat itu menyambar, dan Pakdhe Hartono, yang berlutut tepat di jalannya, terlempar ke samping dengan kekuatan yang menghantamkannya ke sudut lemari jati. Ada bunyi keras—kepala membentur kayu—dan lelaki tua itu terkapar, darah mengalir dari pelipisnya.
Ratri tidak berpikir. Ia menyambar bungkusan bubuk Mbah Joyo dari tasnya dan menebarkannya dalam satu gerakan melengkung di hadapan sosok yang lepas itu, menyusun ulang garis dengan tangan gemetar, mengurung kembali sebelum ia mencapai pintu. Sosok itu menjerit—jeritan banyak-suara yang membuat kaca jendela bergetar—saat garis baru terbentuk di depannya, dan ia tertahan, terjebak lagi, berputar di tempat seperti binatang dalam perangkap.
"BARA!" teriak Ratri ke arah sosok itu, melanggar aturan Mbah Joyo, karena ia harus mencoba. "Mas, kalau kau masih di sana, tahan dia! Tahan dia sebentar saja, biar aku menutup garisnya!"
Untuk satu detik, gerakan liar itu terhenti. Mata hitam itu berkedip, dan di balik kegelapannya, ada sesuatu yang berjuang—Ratri melihatnya, kakaknya, menahan dengan sisa kekuatan dari dalam. Cukup lama untuk Ratri menutup celah terakhir, menyempurnakan lingkaran, mengunci kembali kurungan.
Sosok itu ambruk ke lantai di dalam garis, mengerang, lalu diam.
Ratri berputar ke arah Pakdhe Hartono. Lelaki tua itu sadar, tapi pucat pasi, darah merembes dari kepalanya membasahi lantai marmer. Ibu mereka sudah berlari masuk, menjerit, lalu menekan luka itu dengan kain.
"Maafkan aku," bisik Pakdhe Hartono, matanya berkaca-kaca, menatap Ratri. "Aku pikir—aku pikir aku menyelamatkannya. Aku cuma ingin satu hal benar, akhirnya, setelah Danu. Aku cuma—"
"Diam, Pakdhe," kata Ratri, suaranya pecah, sambil ia membantu ibunya. "Jangan bicara. Kita bawa Pakdhe ke puskesmas. Sekarang."
Tapi di dalam dirinya, sesuatu yang dingin dan tahu telah mengerti kebenaran sebelum kepalanya berani mengakuinya: garis telah terbuka. Walau cuma sebentar. Walau ditutup kembali. Mbah Joyo pernah memperingatkannya—setiap retak punya harga, dan harganya selalu darah. Sesuatu telah keluar lewat celah itu, walau cuma sekejap, dan sesuatu selalu menagih.
Ia menatap pelipis Pakdhe Hartono yang berdarah, dan untuk pertama kalinya ia merasa ngeri bukan pada apa yang ada di dalam garis, melainkan pada apa yang akan datang esok pagi.