Pakdhe Hartono tidak tidur sama sekali setelah malam itu, dan keesokan paginya, retak yang selama ini ditahan keluarga itu mulai melebar menjadi belahan.
Ia menemui Ratri di dapur, ketika ibu mereka masih menjaga Bara di kamar. Wajahnya, yang selalu keras, kini terlihat hancur—seorang lelaki yang sudah terlalu lama berjalan di tepi jurang.
"Aku mendengarnya tadi malam," katanya tanpa basa-basi. "Tawaran itu."
Ratri meletakkan cangkir yang sedang ia cuci. "Pakdhe—"
"Satu nyawa, Ratri. Satu nyawa, dan ini selesai." Suaranya rendah, mendesak, seperti orang yang sudah berhari-hari memutar kalimat itu di kepalanya. "Aku sudah kehilangan Danu. Anakku satu-satunya. Ditelan hutan itu, tanpa kuburan, tanpa salam perpisahan. Dan sekarang kau menyuruhku menunggu bertahun-tahun, sambil melihat Bara perlahan jadi monster itu, sambil tidak ada jaminan ritual gila tentang nama itu akan berhasil." Tangannya gemetar di atas meja. "Hidupku sudah habis sejak Danu pergi. Kalau aku yang menyerahkan diri—kalau aku tumbalnya—Bara bebas. Kau bilang sendiri, Mbah Demang menerima siapa pun yang rela. Biarkan aku yang rela. Biarkan kematianku berguna untuk sesuatu, akhirnya."
Ratri menatap pakdhenya, dan untuk sesaat ia tak bisa bicara, karena di mata lelaki tua itu ia tidak melihat pengkhianatan—ia melihat kesedihan yang begitu dalam sampai berubah jadi keinginan untuk mati yang dibungkus jadi pengorbanan.
"Tidak, Pakdhe," katanya akhirnya, lembut tapi keras. "Dengarkan aku. Itu yang dia mau. Dia tidak menawarkan jalan keluar. Dia menawarkan jebakan yang dibungkus belas kasihan. Kalau Pakdhe menyerahkan diri, Mbah Demang dapat dua hal: satu nyawa lagi, dan keluarga ini hancur oleh rasa bersalah. Mas Bara akan tahu Pakdhe mati untuknya. Dia tidak akan sanggup menanggungnya. Dan lagi—" suaranya turun, "—bagaimana kalau dia berbohong? Bagaimana kalau Pakdhe menyerahkan diri, mati, dan dia tetap tinggal di tubuh Mas Bara? Lalu kita kehilangan Pakdhe dan Mas Bara sekaligus. Dia perjanjian, Pakdhe. Perjanjian tidak menepati apa pun kecuali tagihannya."
"Kau tidak tahu itu pasti," kata Pakdhe Hartono, suaranya naik. "Kau menebak. Kau menebak sambil mengurung Bara dalam kandang seperti hewan, malam demi malam, dan kau menyebut itu menyelamatkannya. Coba kau yang di dalam garis itu, Ratri. Coba kau yang setiap pagi bangun mengingat lebih sedikit tentang siapa dirimu. Kau pikir Bara mau hidup begitu? Mungkin yang paling welas asih adalah mengakhirinya."
"Mengakhiri Mas Bara," koreksi Ratri tajam, "atau mengakhiri penderitaanmu sendiri karena harus melihatnya?"
Kata-kata itu keluar sebelum ia bisa menahannya, dan ia melihatnya menusuk Pakdhe seperti pisau. Wajah lelaki itu memucat, lalu memerah, dan ia berdiri begitu tiba-tiba sampai bangku terjengkang.
"Aku sudah mengubur ketakutanku terlalu lama untuk dihina oleh anak kemarin sore," katanya, suaranya gemetar oleh amarah dan luka. "Kau pikir kau memimpin keluarga ini sekarang? Kau pikir karena kau yang menyeret Bara keluar dari hutan dulu, kau yang berhak menentukan siapa hidup siapa mati? Aku sudah berkorban lebih banyak daripada yang akan pernah kau pahami."
Ia keluar dari dapur, membanting pintu, dan Ratri berdiri sendirian di tengah pecahan cangkir yang entah kapan jatuh dari tangannya. Dari kamar, ia mendengar ibunya memanggil, suara cemas. Dan dari arah pendapa, lampu kristal berdenting—satu kali, dua kali, tiga kali—seakan sesuatu menikmati suara keluarga yang mulai pecah dari dalam.
Ratri menatap pecahan beling di lantai, dan untuk pertama kalinya sejak ia pulang, ia merasa benar-benar sendirian. Mbah Demang tidak perlu menembus garis untuk menghancurkan mereka. Ia hanya perlu menunggu, dan membiarkan ketakutan dan duka melakukan pekerjaannya.