Malam itu Bara memutuskan ia tidak akan diam saja.
Jika benar ada rahasia, rahasia itu pasti ada di rumah ini. Kakeknya tinggal di joglo ini sampai napas terakhir, dan orang yang menyimpan rahasia selama puluhan tahun pasti meninggalkan jejaknya di suatu tempat.
Ia mulai dari kamar kakeknya. Pintu kamar itu masih terkunci sejak kakeknya meninggal, dan ibunya menyimpan kuncinya di laci dapur. Bara mengambilnya diam-diam selepas semua orang tidur, dan menyelinap menyusuri lorong yang gelap, lampu senter ponselnya menyapu dinding kayu yang berukir.
Kamar kakeknya berbau dupa lama dan debu. Ranjang besar di tengah, lemari jati raksasa, meja tulis dengan tumpukan kertas yang menguning. Bara membuka lemari, laci demi laci. Pakaian batik, perhiasan emas yang nilainya pasti sangat besar, surat-surat tanah. Bukti kekayaan ada di mana-mana, tapi tidak ada yang menjelaskan dari mana semua itu datang.
Sampai ia menemukan, di balik tumpukan kain di dasar lemari, sebuah panel kayu yang terasa berbeda. Ketika ia menekannya, panel itu bergeser, membuka rongga rahasia di dinding lemari. Di dalamnya ada sebuah kotak kayu hitam, terkunci dengan gembok karatan, dan di atas tutupnya terukir simbol yang membuat bulu kuduk Bara berdiri: sebuah lingkaran dengan tujuh garis memancar keluar, seperti matahari hitam, dan di tengahnya, gambar kepala kerbau yang sama dengan yang ada di atap.
Bara mengambil kotak itu. Berat, dan terasa dingin di tangannya, dingin yang tidak wajar untuk kayu.
"Bara."
Ia hampir menjatuhkan kotak itu. Di ambang pintu kamar, ibunya berdiri dengan lampu minyak di tangan, wajahnya tegang.
"Letakkan itu," kata ibunya, suaranya nyaris memohon. "Kumohon, Le. Jangan kau buka."
"Bu, aku harus tahu." Bara menggenggam kotak itu lebih erat. "Mas Danu hilang. Paklik Wira hilang. Mbah Putri hilang. Dan Ibu memanggilku pulang tepat di tahun ini, tepat di malam yang Ibu takutkan. Aku berhak tahu kenapa."
Ibunya terdiam lama. Lalu, perlahan, ia masuk ke kamar dan menutup pintu di belakangnya. Ia duduk di tepi ranjang, dan saat ia mulai bicara, suaranya seperti suara orang yang akhirnya menyerah pada beban yang terlalu lama dipikul.
"Kakekmu," katanya, "dulu petani miskin. Sangat miskin. Kau tahu itu. Tapi ada satu musim, ketika seluruh desa gagal panen, anak-anaknya kelaparan, dan ia hampir kehilangan segalanya. Malam itu, kata Ibu—kata orang-orang tua dulu—ia pergi ke Hutan Gandasuli. Ke joglo lama yang sudah ditinggalkan ratusan tahun, tempat yang dilarang didatangi siapa pun. Dan di sana, ia bertemu... sesuatu. Penunggu joglo itu. Dan ia membuat perjanjian."
"Pesugihan," kata Bara pelan.
Ibunya mengangguk, air mata menggenang. "Harta yang tak ada habisnya. Tapi setiap satu putaran tahun Jawa, di malam Selasa Kliwon bulan Sura, tumbal harus dibayar. Satu nyawa. Dari darah dagingnya sendiri. Kalau tidak dibayar..." Ibunya menggigil. "Kakekmu pernah mencoba menolak, sekali. Tahun itu tidak ada yang ia serahkan. Dan keesokan harinya, tiga anaknya mati sekaligus dalam satu malam, dengan cara-cara yang tidak masuk akal. Sejak itu ia tidak pernah berani menolak lagi. Ia membayar. Setiap tahun. Sampai keluarga ini tinggal sisa-sisanya."
Bara merasa mualnya naik. "Dan sekarang Kakek sudah mati. Jadi siapa yang—"
"Perjanjian tidak ikut mati, Bara." Ibunya menatapnya, dan dalam tatapan itu ada ketakutan dan rasa bersalah yang begitu dalam sampai Bara hampir tak sanggup menatap balik. "Setelah ia mati, beban itu turun ke pewarisnya. Ke kami. Dan tahun ini... tahun ini, menurut hitungan, giliran yang akan ditagih..." Suaranya pecah. "Ibu memanggilmu pulang bukan untuk menyerahkanmu, Le. Demi Tuhan, bukan. Ibu memanggilmu pulang karena kamu satu-satunya yang masih punya kepala dingin, yang masih hidup di kota, yang belum dimakan ketakutan ini. Ibu ingin kamu menghentikannya. Sebelum giliran itu jatuh ke salah satu dari kita lagi."
Bara menatap kotak hitam di tangannya. Simbol matahari hitam itu seakan menatap balik.
"Bagaimana cara menghentikannya?"
Ibunya menggeleng lambat. "Ibu tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Kakekmu membawa cara itu ke kuburnya." Ia menunjuk kotak di tangan Bara dengan dagu yang gemetar. "Mungkin... mungkin jawabannya ada di situ. Tapi Ibu terlalu takut untuk membukanya."
Bara menggenggam gembok karatan itu. Di luar, jauh di kejauhan, seekor burung gagak berteriak satu kali di tengah malam—suara yang seharusnya tidak ada, sebab gagak tidak bersuara di kegelapan. Lalu sunyi kembali, sunyi yang terlalu pekat, seakan seisi malam sedang menahan napas, menunggu.