Mereka tidak langsung mengurung Bara. Ratri butuh waktu untuk membuat garis penanda yang cukup kuat dan permanen, dan untuk itu ia butuh bahan dari cucu Mbah Joyo. Sementara itu, ada teka-teki lain yang menariknya: tanah merah di tangan dan kaki Bara.
Bara tidak menggali tanah merah dari Gandasuli—jejaknya putus di tengah hutan, tak sampai ke reruntuhan. Jadi dari mana tanah itu? Tanah merah lembap yang sama dengan tanah di kotak hitam? Ratri menyusuri rumah, mencari di mana di pekarangan ada tanah merah seperti itu, dan akhirnya Pakdhe Hartono yang ingat.
"Sumur tua," katanya. "Di belakang joglo, di balik kebun pisang. Sudah ditutup papan sejak Ibu kalian masih kecil. Tak ada yang pakai. Airnya kering, kata orang dulu beracun. Tanah di sekitar situ memang merah."
Mereka pergi ke belakang, menyibak kebun pisang yang lebat. Dan di sana, di antara semak liar, ada sumur tua dari batu bata yang sudah lapuk, mulutnya ditutup papan-papan yang membusuk. Tapi papan-papan itu sudah disingkirkan—digeser ke samping, baru, dengan bekas cakaran jari di tanah merah di sekelilingnya, jari-jari yang menggali dan menyeret. Bekas kaki telanjang di lumpur. Bekas tubuh yang merangkak.
Bara telah ke sini. Selama dua hari yang hilang itu, ia ke sini, dan ia membuka sumur tua yang sudah ditutup selama puluhan tahun.
Ratri menyalakan senter dan mengarahkannya ke dalam mulut sumur. Pakdhe memegangi lengannya supaya ia tak terjerembap. Bau naik dari dalam—bau lembap, bau tanah, dan di bawahnya, bau lain yang membuat perut Ratri mengerut: bau tulang lama, bau sesuatu yang sudah mati sangat, sangat lama.
Cahaya senter menembus kegelapan, turun, turun, sampai ke dasar sumur yang kering. Dan di sana, di antara tanah merah dan air yang tinggal genangan dangkal, Ratri melihatnya.
Tulang.
Bukan satu kerangka. Banyak. Bertumpuk, berserakan, sebagian sudah jadi serpih, sebagian masih utuh—tengkorak yang menatap ke atas dengan rongga mata gelap, tulang-tulang panjang yang menyilang, tulang rusuk yang melengkung seperti jeruji. Ratri mencoba menghitung tengkorak dan berhenti di angka lima, karena tangannya gemetar terlalu hebat memegang senter.
"Astaga," bisik Pakdhe Hartono, dan ia menarik Ratri mundur dari bibir sumur, wajahnya abu-abu. "Apa itu... siapa itu..."
Ratri tak bisa menjawab langsung. Ia berdiri terhuyung, menjauh dari sumur, mencoba mengatur napas. Lalu, perlahan, potongan-potongan itu menyusun diri di kepalanya, dan ia mengerti.
"Tumbal," katanya. "Tumbal yang paling awal. Sebelum Gandasuli." Ia menatap Pakdhe. "Pikirkan, Pakdhe. Mbah Demang menerima tumbal di Gandasuli, di reruntuhan joglo lama. Itu yang kita tahu. Mas Danu, Paklik Wira, Mbah Putri—mereka hilang, dibawa ke sana, ditahan di sana. Tapi mereka tidak meninggalkan tulang di sini. Mereka hilang bersih, tanpa jejak." Ia menunjuk sumur dengan tangan gemetar. "Tapi ini... ini tumbal yang tak pernah sampai ke Gandasuli. Tumbal generasi paling awal. Mungkin dari sebelum perjanjian kakek bahkan dibuat di hutan itu. Tumbal yang dibunuh di sini, di rumah ini, di tanah ini, dan dibuang ke dalam sumur, lalu sumurnya ditutup dan dilupakan."
Pakdhe Hartono menggeleng, menolak mempercayainya. "Tapi kakek baru membuat perjanjian di Gandasuli puluhan tahun lalu. Kakek yang memulai semuanya. Buku hariannya—"
"Buku harian kakek dimulai dengan perjanjian di Gandasuli," potong Ratri pelan, dan dingin yang lebih dalam dari sebelumnya merayapi tulang punggungnya. "Tapi bagaimana kalau kakek bukan yang pertama? Bagaimana kalau perjanjian ini lebih tua dari kakek? Bagaimana kalau kakek hanya... melanjutkan sesuatu yang sudah ada sebelum dia?"
Mereka menatap satu sama lain di tengah kebun pisang yang gelap, di samping sumur tua yang menyimpan tulang-belulang yang tak pernah disebut siapa pun di keluarga ini, dan untuk pertama kalinya Ratri merasakan kedalaman sebenarnya dari apa yang mereka hadapi. Ini bukan kutukan tiga generasi. Ini lebih tua. Jauh lebih tua. Dan kakek mereka, yang selama ini Ratri kira sebagai pembuat perjanjian, mungkin hanya satu mata rantai di tengah—bukan awal, dan jelas bukan akhir.
"Kita tutup lagi sumur ini," kata Ratri akhirnya, suaranya datar oleh kelelahan dan ketakutan. "Dengan hormat. Mereka ini keluarga kita juga, entah berapa generasi yang lalu. Mereka korban, sama seperti Mas Danu." Ia menatap mulut sumur yang gelap. "Dan kita cari tahu siapa mereka. Karena kalau perjanjian ini lebih tua dari kakek, maka jawaban untuk memutusnya juga mungkin lebih tua dari apa pun yang ditulis kakek di buku hariannya."