Pak Karto tinggal di ujung desa, di rumah kayu kecil yang miring oleh usia, sama tuanya dengan tubuhnya sendiri.
Ratri kembali menemuinya—bukan untuk pertama kali. Sejak kunjungan lalu, ketika orang tua itu menolak menyebut nama anak sulung yang dihapus karena hari keburu meredup, Ratri menyimpan satu pertanyaan baru yang ingin ia tanyakan di bawah matahari siang: tulang-belulang di sumur tua belakang joglo. Kali ini ia datang lebih awal, ketika cahaya masih jujur dan jauh dari gelap yang membuat orang tua itu gelisah.
Pak Karto duduk di kursi rotan di teras belakang, matanya keruh oleh katarak tapi pendengarannya masih tajam. Ketika ia mengenali suara Ratri, tubuh tua itu menegang, dan untuk sesaat Ratri mengira ia akan diusir.
"Cucu Sastra," gumam Pak Karto. "Kau lagi. Sudah kuduga kau akan kembali." Ia memalingkan wajah keruhnya ke arah Ratri. "Aku dengar yang terjadi di rumah itu, tahun demi tahun. Aku dengar kalian kira kalian sudah mengakhirinya bulan lalu. Tapi kau di sini lagi. Jadi tidak berakhir, ya?"
"Tidak, Pak," kata Ratri jujur. "Tidak berakhir. Dan aku rasa Bapak tahu lebih banyak tentang kenapa daripada siapa pun yang masih hidup."
Pak Karto diam lama, mengunyah sirih dengan gusi yang tinggal sedikit gigi. Lalu ia bicara, dan suaranya seperti orang yang akhirnya melepas batu yang sudah berpuluh tahun ia gendong.
"Sastra dan aku tumbuh bersama. Kami sama-sama miskin, sama-sama anak petani, sama-sama kelaparan di musim paceklik itu." Matanya menerawang jauh. "Aku ingat malam dia bilang mau ke Gandasuli. Aku bilang dia gila. Aku bilang itu tempat terkutuk, tak ada yang pulang dari sana. Tapi dia pergi, dan dia pulang, dan dia kaya. Dan aku—" Pak Karto tertawa pahit, "—aku tetap miskin sampai sekarang, dan kadang malam-malam aku bersyukur untuk itu."
"Pak," kata Ratri hati-hati, "kami menemukan sesuatu. Tulang-belulang lama. Di sumur tua belakang joglo. Banyak. Lebih tua dari semua tumbal yang kami tahu. Bapak tahu apa-apa tentang itu?"
Pak Karto berhenti mengunyah. Wajah keruhnya berubah, dan Ratri melihat ketakutan tua yang dalam muncul di sana, ketakutan yang sudah ia pendam berpuluh tahun.
"Jadi kalian menemukannya," bisiknya. "Sumur itu." Ia menarik napas bergetar. "Dengar, Nduk. Aku akan ceritakan apa yang kakekmu sendiri tak pernah tahu sepenuhnya, yang aku ketahui dari ayahku, yang ia ketahui dari ayahnya." Ia mencondongkan tubuh. "Kakekmu mengira dia yang membuat perjanjian. Dia mengira dia yang memulai. Itu yang dia tulis, kan, di bukunya? Bahwa dia pergi ke Gandasuli dan membuat perjanjian baru." Pak Karto menggeleng pelan. "Tidak ada perjanjian baru, Nduk. Tidak pernah ada. Yang kakekmu lakukan malam itu bukan membuat perjanjian. Dia memperbaruinya."
Dingin menjalar di tubuh Ratri. "Memperbarui?"
"Keluarga Sastrawijaya," kata Pak Karto pelan, "sudah berutang pada yang di Gandasuli jauh sebelum kakekmu lahir. Berabad-abad, mungkin. Perjanjian itu sudah tua, sudah hampir padam, hampir terlupakan, karena beberapa generasi keluargamu jatuh miskin dan tak menagih berkahnya—tapi utangnya tak pernah lunas, hanya tertidur. Lalu datang kakekmu, miskin dan putus asa, dan ia pergi ke Gandasuli, dan yang menunggu di sana mengenali darahnya. Mengenali garis keturunannya. Dan menawarkan untuk membangunkan kembali perjanjian lama itu." Mata keruhnya menatap Ratri dengan iba. "Kakekmu kira dia menjual jiwanya. Padahal dia cuma menandatangani ulang utang yang sudah ditanggung leluhurnya sejak lama. Tulang-tulang di sumur itu, Nduk—itu tumbal dari zaman ketika perjanjian masih muda, dari leluhur-leluhur yang tak pernah punya kemewahan dibawa jauh ke Gandasuli, yang dibunuh dan dibuang di rumah sendiri."
Ratri merasa tanah seakan bergeser di bawah kakinya. "Jadi memutus rantai—"
"Jauh lebih sulit dari yang kakekmu kira," kata Pak Karto. "Kakekmu mengira membakar lembar perjanjiannya akan memutus segalanya. Tapi lembar itu cuma yang terbaru. Yang termuda. Di bawahnya ada utang yang jauh lebih tua, yang akarnya menghunjam ke dalam tanah keluargamu lebih dalam dari yang bisa dijangkau api mana pun." Ia menyandarkan punggung tuanya ke dinding kayu. "Itu sebabnya makhluk itu tak mati ketika lembar dibakar. Itu sebabnya ia hanya pindah, ke cucumu. Kalian memotong satu cabang, Nduk. Tapi pohonnya—pohonnya berakar berabad-abad ke bawah."
Ratri menelan beban kalimat itu, lalu mengingat alasan lain ia kembali—pertanyaan yang dulu terputus di teras ini ketika hari keburu meredup. Matahari masih tinggi sekarang. Cukup terang. Ia memberanikan diri.
"Pak, waktu itu Bapak berhenti sebelum sempat menyebutnya," katanya pelan. "Nama anak sulung Kakek. Yang dihapus dari silsilah sampai nyaris tak terbaca. Bapak bilang tak boleh disebut kalau sudah gelap." Ia menengadah ke langit yang jujur. "Sekarang masih siang, Pak. Tolong. Aku butuh nama itu."
Pak Karto terdiam lama, dan untuk sesaat Ratri takut ia akan menolak lagi. Tapi mata keruh itu menyapu langit, memastikan, lalu kembali ke wajah Ratri. Suaranya turun hampir menjadi bisik, tapi kali ini ia tak menghindar.
"Aku menggendongnya sekali waktu ia masih hidup, sebelum semua ini," gumamnya. Lalu ia menyebutkan nama itu—pelan, hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang rapuh ke tangan Ratri. Sebuah nama yang sederhana, nama anak desa biasa, nama yang seharusnya tumbuh tua dan dipanggil cucu-cucunya, bukan dicoret dari dunia. "Itu namanya. Ingat baik-baik. Mungkin suatu hari hanya nama itu yang bisa menebus apa yang diambil darinya."
Ratri mengulang nama itu dalam hati, sekali, dua kali, mengukirnya ke dalam ingatan agar tak pernah hilang lagi. Tumbal pertama dari garis ini akhirnya punya nama kembali.
Ia pulang sore itu dengan beban yang berlipat ganda—tapi juga dengan satu nama yang dulu sengaja dihapus, kini hidup lagi di kepalanya. Ia datang mencari satu jawaban dan pulang dengan pertanyaan yang jauh lebih besar. Mbah Demang bukan sekadar penunggu yang dibangunkan kakek. Mbah Demang adalah utang darah yang lebih tua dari ingatan keluarga, dan untuk memutusnya, Ratri sadar, ia harus menggali bukan hanya ke dalam tanah—melainkan ke dalam masa lalu, ke asal-usul perjanjian itu sendiri, ke sesuatu yang dengan sengaja telah dihapus dari semua catatan keluarga.