Pertengkaran di dapur itu tak pernah benar-benar selesai, dan malam itu, untuk pertama kalinya, Bara hilang.
Ratri menyalakan garis penanda di pintu kamarnya sebelum tidur—bubuk dan daun, persis seperti yang diajarkan Mbah Joyo—untuk berjaga-jaga. Ia juga meletakkan garis di ambang kamar Bara, diam-diam, sambil kakaknya tidur. Tapi ketika ia bangun menjelang subuh, terbangun oleh perasaan dingin yang menusuk seakan jendela terbuka padahal tidak, dan ia menyusuri lorong ke kamar Bara—
Garis di ambang kamar Bara terhapus. Bukan ditiup angin, bukan tersapu kaki. Diseret. Jejak bubuk itu mengular di lantai, seakan ada yang menariknya dengan ujung jari, membuka celah, lalu melangkah keluar.
Ranjang Bara kosong. Dingin. Selimutnya tersingkap.
Ratri membangunkan seisi rumah. Mereka mencari ke mana-mana—seluruh joglo, halaman, gudang, kebun belakang. Tak ada. Pakdhe Hartono menyetir berkeliling desa dengan lampu mobil menyapu jalan-jalan gelap, memanggil nama Bara. Ibu mereka berdiri di pendapa, menggenggam tasbih, bibirnya tak berhenti bergerak. Ratri tahu ke mana ia harus mencari, tapi ia tak berani pergi sendiri ke Gandasuli di kegelapan, dan ketika fajar akhirnya datang dan ia memberanikan diri masuk ke hutan bersama Pakdhe, mereka menemukan jejak—jejak lumpur kaki telanjang menuju ke dalam, ke arah reruntuhan—tapi jejak itu hilang di tengah jalan, putus, seakan yang membuatnya terangkat dari tanah.
Mereka mencari sepanjang hari. Seharian penuh. Matahari naik dan turun lagi. Dan Bara tidak ada.
Ratri tidak makan, tidak minum, tidak istirahat. Ia duduk di pendapa ketika malam kedua mulai turun, gemetar karena kelelahan dan ketakutan, dan ia berpikir—dengan dingin yang menyayat—bahwa mungkin inilah yang terjadi pada semua yang lain. Mas Danu. Paklik Wira. Mbah Putri. Hilang dalam semalam. Pintu terkunci. Tak ada jejak. Mungkin sekarang giliran Bara, dan mungkin kali ini tak ada yang bisa menariknya keluar.
Lalu, di tengah malam kedua, Bara pulang.
Ia berjalan masuk lewat pintu pendapa yang tak terkunci, langkahnya pelan dan rata, seakan baru pulang dari jalan-jalan biasa. Pakaiannya basah dan kotor. Kakinya telanjang dan berlumur tanah—tapi bukan tanah biasa. Tanah merah. Tanah merah lembap yang sama dengan tanah di kotak hitam, tanah yang sama dengan yang menyelimuti akar hitam di bawah tiang. Tangannya juga, sampai ke siku, berlumur tanah merah, kuku-kukunya hitam oleh tanah, seakan ia menggali sesuatu dengan tangan kosong sepanjang dua hari.
"Mas!" Ratri berlari memeluknya, lalu mundur ngeri merasakan betapa dinginnya tubuh kakaknya, sedingin orang yang baru diangkat dari air. "Kamu dari mana? Kamu menghilang dua hari! Kami mencarimu ke mana-mana!"
Bara menatapnya dengan mata yang bingung, mata yang separuh tidak mengenalinya. "Dua hari?" Ia mengerutkan dahi, menatap tangannya sendiri yang berlumur tanah merah seakan baru pertama kali melihatnya. "Apa maksudmu dua hari? Aku... aku baru saja tidur. Aku tidur di kamarku. Aku bangun dan berjalan ke pendapa." Ketakutan muncul di matanya. "Ratri, kenapa kakiku kotor? Kenapa tanganku—" Ia melihat tanah merah itu, dan suaranya naik panik. "Kenapa aku tidak ingat? Aku tidak ingat apa-apa. Aku tidak ingat dua hari."
Ibu mereka datang berlari, menangis, memeluk Bara. Pakdhe berdiri membeku di ambang pintu. Dan Ratri, sambil menahan tubuh kakaknya yang gemetar, mendengarnya.
Sangat pelan, di sela napas Bara yang terengah dan panik, kakaknya bersenandung. Bukan tembang yang biasa—bukan lagu yang sama dengan yang Ratri rekam minggu-minggu lalu. Ini tembang lain. Lebih lama, lebih kelam, dengan nada-nada asing yang membuat bulu kuduk Ratri berdiri. Bara bersenandung tanpa sadar, di sela isaknya sendiri, sebuah lagu yang ia bahkan tak tahu sedang ia nyanyikan.
Ratri menutup matanya dan menahan air matanya, dan ia tahu—dengan kepastian yang dingin dan kejam—bahwa makhluk itu sedang menang. Setiap malam Bara makin jauh. Setiap kali ia kehilangan kendali, makhluk itu mengambil lebih banyak. Dua hari yang hilang ini bukan kekalahan terakhir. Ini peringatan. Lain kali, mungkin, Bara takkan kembali sama sekali.
"Kita harus mengurungmu," bisik Ratri ke telinga kakaknya, dan ia merasakan tubuh Bara menegang. "Untuk melindungimu dari dirimu sendiri. Maafkan aku, Mas. Tapi kita kehabisan waktu."