Ratri pulang ke rumah dengan kepala penuh kata-kata Mbah Joyo, dan ia membuat kesalahan—ia membicarakannya dengan ibunya.
Ia tak bermaksud mengatakan semuanya. Ia hanya butuh seseorang untuk berbagi beban yang terlalu berat dipikul sendiri. Tapi sekali ia mulai, semuanya tumpah: akar hitam di bawah tiang, reruntuhan yang bernapas, Mbah Joyo yang sekarat, dan kebenaran pahit itu—bahwa memutus rantai menuntut menghancurkan sumber dan inang bersama, dan inang itu adalah Bara.
Mereka duduk di dapur, jauh dari kamar Bara, suara mereka direndahkan menjadi bisikan. Ratri mengawasi wajah ibunya saat ia bicara, melihat warna meninggalkannya, melihat tangan tua itu meremas ujung kebaya.
Ketika Ratri selesai, ibunya diam sangat lama. Lalu ia berkata, dengan suara yang anehnya tenang, "Kalau begitu, biar Ibu saja."
"Apa?"
"Makhluk itu butuh inang dari garis darah Sastrawijaya. Bara inangnya sekarang. Tapi kalau makhluk itu bisa berpindah—kalau ia berpindah dari kakekmu yang mati ke Bara—berarti ia bisa berpindah lagi. Ke Ibu." Ibunya menatap tangannya sendiri di atas meja, seakan sudah membayangkan tangan itu menjadi dingin. "Ibu juga darah Sastrawijaya. Ibu juga keturunannya. Biar Ibu yang jadi rumahnya. Biar Ibu yang dihancurkan bersama makhluk itu. Ibu sudah tua, Ratri. Hidup Ibu sudah hampir habis dan penuh dosa karena diam saja selama bertahun-tahun sementara saudara-saudara Ibu hilang satu per satu. Bara masih muda. Kamu masih muda. Kalau ada yang harus dibakar habis bersama makhluk itu, biar Ibu—"
"TIDAK." Ratri menggebrak meja, lalu langsung menutup mulutnya sendiri, takut suaranya terdengar sampai kamar Bara. Ia menurunkan suaranya, tapi tak menurunkan tekanannya. "Ibu dengar dirimu sendiri? Ini persis seperti yang Kakek lakukan. Persis. Mencari nyawa pengganti supaya yang lain selamat. Menukar satu nyawa demi yang lain. Itu cara berpikir yang membuat kita ada di sini sejak awal!"
"Kakekmu menukar nyawa orang lain demi dirinya," kata ibunya tajam. "Ibu menawarkan nyawa Ibu sendiri demi anak-anak Ibu. Itu berbeda, Ratri. Itu sangat berbeda."
"Tetap saja menukar nyawa!" Ratri menahan air matanya. "Dan kita bahkan tidak tahu apakah makhluk itu mau pindah. Mbah Joyo bilang kerelaan Bara malam itu mengikatnya sangat kuat. Ia memilih Bara karena Bara menyerahkan diri dengan tulus. Ibu pikir ia akan melepaskan hidangan langka itu hanya karena Ibu menawarkan diri? Lebih mungkin ia mengambil Ibu juga, dan tetap menyimpan Bara. Ibu cuma akan menambah satu nyawa lagi ke dalam mulutnya, dan tak menyelamatkan siapa pun."
Suara mereka, sekeras apa pun ditahan, akhirnya membangunkan rumah. Pakdhe Hartono muncul di ambang pintu dapur, dan di belakangnya, dengan langkah pelan dan wajah pucat, Bara.
"Apa yang kalian ributkan?" tanya Bara, dan suaranya—untuk sesaat Ratri lega—adalah suara Bara, suara kakaknya, bukan yang lain. "Aku dengar nama Ibu disebut soal... pindah?"
Hening yang canggung dan mengerikan turun ke dapur.
Bara menatap dari satu wajah ke wajah lain, dan perlahan pemahaman muncul di matanya, diikuti sesuatu yang lebih buruk—rasa malu, dan ketakutan. "Kalian membicarakan menghancurkan rumahnya," katanya pelan. "Dan rumahnya adalah aku. Dan Ibu menawarkan diri untuk menggantikanku."
"Bara—" mulai ibunya.
"Tidak." Suara Bara bergetar tapi tegas. "Tidak ada yang menggantikan aku. Aku tidak akan membiarkan Ibu jadi inang. Aku tidak akan membiarkan siapa pun di keluarga ini mati lagi karena aku. Kalau ada yang harus dihancurkan bersama makhluk itu, itu aku. Ini tubuhku. Ini rumahnya sekarang. Aku yang membakar perjanjian itu. Aku yang membawa makhluk ini pulang. Akulah yang membayar."
"Dan aku tidak akan membiarkan itu," kata Ratri, berdiri menghadap kakaknya, mata bertemu mata. "Aku menariknya keluar dari lingkaran itu sekali. Aku tidak melakukannya supaya kamu mati pelan-pelan empat minggu kemudian. Pasti ada cara memisahkan makhluk itu darimu. Mbah Joyo bilang mungkin ada. Dan aku akan menemukannya. Aku tidak akan kehilangan kamu, Mas. Tidak setelah semuanya."
Mereka berdiri di dapur sempit itu, lima orang dengan lima ketakutan, dan untuk pertama kalinya sejak malam Gandasuli, keluarga itu retak bukan karena makhluk di luar, melainkan karena pertanyaan yang tak satu pun dari mereka sanggup menjawab: siapa yang berhak berkorban, dan apakah cinta yang membuat seseorang ingin mati demi yang lain itu sama berbahayanya dengan ketakutan yang membuat seseorang membunuh demi dirinya sendiri.
Di pendapa, jauh di balik dinding, lampu kristal berdenting satu kali, pelan, seakan ada yang mendengarkan pertengkaran mereka dan merasa geli.