Ratri kembali pagi-pagi sekali, membawa keris hitam terbungkus kain di dalam tasnya, jantungnya berdebar sepanjang perjalanan naik bus tua ke pegunungan kapur.
Mbah Joyo terlihat lebih lemah dari kemarin. Cucunya berbisik bahwa beliau hampir tak tidur semalaman, terus mengigau, kadang bicara dalam bahasa yang tak dikenal perempuan muda itu. Tapi ketika Ratri masuk, mata dukun tua itu langsung mencari kerisnya, dan ketika Ratri membuka bungkusan kain dan meletakkan keris hitam tanpa sarung itu di samping tikar, Mbah Joyo menatapnya lama, dan sesuatu seperti penghormatan yang berbaur ketakutan melintas di wajahnya.
"Pusaka pengikat," gumamnya. "Kakekmu tak pernah tahu betul apa yang ia simpan. Ia kira ini cuma alat untuk menyalakan api pembakar perjanjian. Bukan. Ini lebih tua dari perjanjian kakekmu. Jauh lebih tua." Ia mengulurkan jari, tak menyentuh bilah, hanya melayang di atasnya. "Tapi itu cerita untuk nanti. Duduk. Dengarkan. Aku akan memberimu apa yang harus kuberikan, dan kau harus mengingatnya, sebab aku tak akan ada untuk mengulang."
Ratri mengeluarkan buku catatan kecil dan pena. Mbah Joyo tersenyum tipis melihatnya.
"Pintar. Tulis. Tapi tulis dengan hati juga, bukan cuma dengan tangan." Ia menarik napas, dan suaranya menjadi lebih mantap, seakan ia mengumpulkan sisa-sisa terakhir tenaganya untuk satu tugas ini. "Pertama, pantangan. Selama kau mengurus urusan ini, kau tak boleh tidur di tempat tanpa penanda di malam Selasa Kliwon. Kau tak boleh menjawab panggilan suara yang kau cintai di kegelapan—itu jeratnya yang paling tua, memakai suara orang yang kau rindukan. Kau tak boleh makan apa pun yang ditawarkan di reruntuhan joglo, sekecil apa pun, sebab menerima jamuan dari tangannya berarti mengikatkan diri. Dan kau tak boleh, dalam keadaan apa pun, memanggilnya dengan menyebutnya 'Mbah Demang' setelah kau tahu nama aslinya—tapi itu nanti."
Ia berhenti, mengatur napas, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah.
"Kedua, ilmu. Garis penanda yang kuberikan padamu dulu—bubuk dan tujuh daun—itu bisa kau buat sendiri sekarang. Daunnya daun beringin putih yang tumbuh di tepi pemakaman, dipetik sebelum subuh, dijemur tiga hari. Bubuknya campuran kemenyan, garam laut yang belum disentuh api, dan tanah dari tujuh pekuburan berbeda. Cucuku tahu tempatnya, ia akan menunjukkanmu. Susun tujuh daun di tujuh titik, taburkan bubuk menghubungkannya, sebut niatmu dengan jelas. Di dalam garis itu, makhluk itu lemah. Di dalam garis itu—dengarkan ini baik-baik, Nduk, ini penting—di dalam garis itu, inang bisa kembali jadi dirinya sendiri untuk sementara. Kakakmu bisa kembali jadi kakakmu, di dalam garis."
Tangan Ratri berhenti menulis. Sesuatu yang hangat dan menyakitkan menyesak di dadanya. "Bara bisa kembali?"
"Sementara," Mbah Joyo menekankan kata itu. "Di dalam garis. Garis menahannya, bukan mengusirnya. Begitu kakakmu keluar dari garis, atau begitu malam Selasa Kliwon tiba dan kuasanya memuncak, makhluk itu kembali. Garis adalah dinding, bukan obat. Ingat itu, supaya kau tak terlena dan mengira kakakmu sudah sembuh padahal cuma sedang ditahan."
Ratri menelan ludah dan menulis cepat. "Dan cara menyembuhkannya? Cara yang sebenarnya? Cara mengusirnya selamanya?"
Mbah Joyo terdiam lama. Dadanya naik turun. Ketika ia bicara lagi, suaranya menjadi sangat pelan, dan sangat berat.
"Ini bagian yang kusembunyikan darimu. Ini kebenaran pahitnya, Nduk, dan setelah kau mendengarnya kau tak akan bisa pura-pura tak mendengar." Ia menatap langit-langit, seakan tak sanggup menatap mata Ratri. "Makhluk itu sekarang ada di dalam kakakmu. Membakar perjanjian dari luar tak akan berhasil—kalian sudah membuktikannya, dan malah membuat keadaan lebih buruk. Selama makhluk itu punya rumah, ia akan terus hidup. Dan rumahnya sekarang adalah Bara." Ia berhenti. "Untuk memutus rantai ini—untuk benar-benar memutusnya, bukan memindahkannya lagi seperti yang kakekmu tak sengaja lakukan—kau harus menghancurkan dua hal sekaligus, di waktu yang sama, di tempat yang sama. Sumbernya: makhluk itu, di tempat asal-usulnya. Dan inangnya: rumah tempat ia bersemayam." Matanya akhirnya bergerak menatap Ratri, penuh duka. "Kakakmu, Nduk. Inangnya adalah kakakmu. Memutus rantai berarti menghancurkan sumber dan inang bersama-sama. Dan kau tahu apa artinya itu."
Ratri merasa darahnya membeku. Penanya jatuh dari tangannya. "Tidak," bisiknya. "Pasti ada cara lain. Pasti ada cara memisahkan makhluk itu dari Bara dulu, baru menghancurkan makhluknya tanpa—"
"Mungkin ada," potong Mbah Joyo, dan ada sesuatu seperti belas kasih sekaligus peringatan di matanya. "Mungkin. Itu yang akan kucari sisa waktuku untuk mengatakannya padamu. Tapi kau harus masuk ke jalan ini dengan mata terbuka, persis seperti kakakmu masuk ke Gandasuli dengan mata terbuka. Jangan berbohong pada dirimu sendiri bahwa ini akan gratis." Ia terbatuk, lama, dan ketika reda, suaranya tinggal bisikan. "Selalu ada yang harus membayar, Nduk. Pertanyaannya cuma satu: siapa. Dan apakah cinta cukup untuk menanggung jawabannya."