Mereka memilih siang hari karena hanya di siang hari kuasa Mbah Demang melemah, dan karena Ratri tahu, jika mereka pergi malam, mereka mungkin tak akan pulang.
Pakdhe Hartono menyetir mobil tua itu sampai ke tepi desa, lalu mereka berjalan kaki memasuki Hutan Gandasuli di bawah matahari pukul sebelas yang terik. Hutan itu tampak biasa di siang hari—pohon-pohon jati, semak rapat, suara burung yang jujur. Tak ada kabut. Tak ada langkah yang mengikuti. Tapi Ratri tetap menggenggam bungkusan bubuk Mbah Joyo di saku jaketnya, dan Pakdhe membawa parang yang sebenarnya tak ada gunanya melawan apa pun yang mereka cari.
"Kamu yakin jalannya?" tanya Pakdhe, suaranya rendah, seakan takut didengar pepohonan.
"Aku ingat dari malam itu," kata Ratri. Ia tak menambahkan bahwa ia mengingatnya karena malam itu terbakar di kepalanya setiap kali ia menutup mata—Bara tertelan tanah, tangan-tangan pucat, jeritan yang membuat telinganya berdarah. "Lurus terus. Sampai lapangan terbuka."
Mereka tiba di lapangan itu menjelang tengah hari. Dan di sanalah Ratri berhenti, dan rasa dingin merayap naik dari perutnya meski peluh membasahi punggungnya.
Joglo lama itu masih runtuh. Atapnya masih roboh, kayunya masih menghitam dan dipenuhi lumut. Tapi ada yang salah. Sesuatu yang membuat seluruh tubuh Ratri menolak melangkah lebih dekat.
Di tengah reruntuhan, saka guru timur—tiang yang malam itu patah dan roboh menumbuk lantai, tiang tempat lembar perjanjian dulu dikubur—tidak lagi tergeletak mati seperti yang Ratri lihat saat mereka pergi. Pangkalnya, yang patah dan menghitam, kini ditumbuhi tunas. Tunas kayu muda, hijau pucat, mencuat dari belahan kayu mati seperti tulang yang menumbuhkan daging baru. Ada lima, enam tunas, melingkar di sekeliling patahan, dan yang membuat tengkuk Ratri meremang adalah ini: tunas-tunas itu tidak tumbuh ke atas, ke arah cahaya, seperti tunas yang wajar. Tunas-tunas itu tumbuh menyamping, condong, semuanya menunjuk ke satu arah yang sama.
Ke arah barat. Ke arah desa. Ke arah rumah joglo keluarga mereka.
"Astaga," bisik Pakdhe Hartono. Parang di tangannya gemetar. "Tiang ini sudah mati. Aku melihatnya sendiri pagi setelah malam itu, aku ke sini diam-diam memastikan. Patah dua, kering, mati. Kayu mati tidak bertunas, Ratri."
Ratri tidak menjawab. Ia melangkah maju, perlahan, menahan dorongan untuk lari. Ia mencabut satu daun penanda dari saku dan menyentuhkan ujungnya ke salah satu tunas hijau pucat itu.
Daun kering itu langsung melengkung. Menggulung. Menghitam di ujungnya, seakan disentuhkan ke bara, padahal tunas itu dingin—Ratri bisa merasakan dinginnya dari jarak sejengkal, dingin yang sama persis dengan dingin di tangan kakaknya.
"Ini bukan tumbuh," kata Ratri pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada Pakdhe. "Ini... menyembuhkan diri. Seperti luka yang menutup."
Ia mundur selangkah, dan saat itulah ia mendengarnya. Sangat samar, di bawah suara angin yang menggesek daun jati. Sebuah suara dari dalam tanah, dari bawah reruntuhan, dari pangkal tiang yang bertunas itu. Sebuah suara yang berirama, lambat, naik dan turun.
Seperti napas.
Pelan, dalam, sabar. Seperti sesuatu yang sangat besar dan sangat tua sedang tidur di bawah sana, menarik dan melepas napas, menumbuhkan kembali apa yang mereka kira sudah mereka hancurkan.
"Pakdhe," bisik Ratri tanpa menoleh, "kamu dengar itu?"
Pakdhe Hartono tidak menjawab. Ketika Ratri akhirnya berpaling, ia melihat wajah pamannya sudah putih pasi, dan bibirnya bergerak tanpa suara, mengucap doa atau mungkin nama anaknya yang telah tiada. Tangan tua itu mencengkeram lengan Ratri.
"Kita salah," kata Pakdhe akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Bara membakar perjanjian itu. Kita semua menyaksikan rumah ini runtuh. Kita semua merasa lega. Tapi kita salah, Ratri. Tempat ini..." Ia menelan ludah. "Tempat ini masih hidup. Tempat ini sedang bangun lagi."
Ratri menatap tunas-tunas yang semuanya menunjuk ke arah rumahnya, ke arah kakaknya, dan untuk pertama kalinya sejak tiga minggu lalu ia tidak lagi punya keraguan. Bukan ketakutan samar lagi. Bukan firasat. Tangan dingin Bara, senandung tembang dalam tidurnya, halaman terakhir buku harian—semua itu benar. Mbah Demang tidak pergi.
Mbah Demang hanya pindah rumah.
Dan tempat lama tempat ia dulu tinggal, reruntuhan joglo yang bernapas pelan di tengah hutan ini, sedang perlahan-lahan menumbuhkan dirinya kembali, seakan menunggu inangnya pulang.
"Kita gali," kata Ratri, suaranya keras meski lututnya gemetar. "Sekarang, mumpung siang. Aku harus tahu apa yang ada di bawah tiang ini."
Pakdhe Hartono menatapnya seakan ia gila. Tapi ia tak membantah. Ia menancapkan parangnya ke tanah lembap di kaki tiang yang bertunas, dan mulai menggali, dan setiap kali matanya bergerak, Ratri tahu, paman tuanya itu mengintip ke arah matahari, menghitung berapa jam tersisa sebelum siang berubah menjadi sore, dan sore menjadi malam, dan tempat yang bernapas ini bangun sepenuhnya.