Ratri menemukan lumpur itu sebelum Bara sempat membersihkannya.
Ia masuk ke kamar kakaknya pagi itu membawa kopi, dan berhenti di ambang pintu. Bara duduk di tepi ranjang, pucat seperti mayat, menatap kakinya yang berlumur. Tak perlu kata-kata. Ratri meletakkan kopi, berlutut, dan memeriksa lumpur itu, daun yang terselip, jejak telapak di seprai.
"Berapa lama ini terjadi?" tanyanya pelan.
"Aku tidak tahu." Suara Bara hampa. "Aku baru sadar tadi pagi. Tapi mimpinya—mimpi joglo lama—sudah berhari-hari. Mungkin sudah berhari-hari aku berjalan, dan aku tidak pernah tahu."
Ratri bangkit dan keluar kamar, menyusuri lorong, hatinya berdebar. Ia harus tahu sampai mana jejak ini pergi. Di lantai marmer lorong, samar tapi ada, jejak kaki berlumpur mengarah ke pendapa. Ia mengikutinya. Pintu pendapa, yang ia kunci sendiri semalam, kini tidak terkunci—gerendelnya tergeser, kuncinya tergantung. Ia tak ingat membukanya. Tak ada yang membukanya.
Ia melangkah ke halaman. Pagi masih dingin, embun di rumput. Dan di tanah pekarangan, di jalan setapak menuju pintu belakang tembok, jejak telapak kaki telanjang tercetak di tanah lembap—mengarah keluar, lalu mengarah kembali masuk. Pergi dan pulang. Ratri mengikuti yang mengarah keluar, melewati pintu kayu kecil di tembok belakang yang seharusnya selalu dipalang. Palangnya terangkat.
Di luar tembok, jejak itu jelas di tanah ladang yang basah. Ratri mengikutinya, dadanya makin sesak tiap langkah, melewati pematang sawah, melewati rumpun bambu, melewati batas desa—dan jejak itu terus mengarah ke satu tempat, lurus dan pasti, seperti garis yang ditarik penggaris.
Ke Hutan Gandasuli.
Ratri berhenti di tepi ladang terakhir sebelum hutan, tempat jejak Bara akhirnya menghilang ke dalam rumput tinggi dan bayang pepohonan. Ia tidak berani masuk sendirian, tidak di tempat ini, tidak setelah semua yang terjadi. Tapi ia berdiri lama menatap garis hitam pepohonan, menghitung jarak dalam kepalanya. Dari rumah ke sini, lalu masuk ke hutan, lalu kembali—dalam satu malam, dengan berjalan kaki telanjang, dan tetap sempat tidur dan bermimpi. Mustahil bagi manusia biasa.
Tapi yang berjalan tiap malam bukan manusia biasa. Yang berjalan adalah kakaknya yang dikemudikan sesuatu, dipanggil pulang ke sumber yang melahirkannya, tertarik ke tempat asal seperti besi tertarik magnet.
Ia teringat kata-kata Mbah Joyo tentang tanah ikatan: *ia menunjukkanmu jalan ke sumber, dan ia menunjukkan sumber jalan ke kalian.* Bukan hanya tanah merah dalam kotak yang menjadi jarum. Bara sendiri kini adalah jarum—dan jarum itu tiap malam berputar mencari utaranya, mencari Gandasuli, mencari kursi ukir yang menunggu di joglo lama yang katanya sudah runtuh.
Tapi sudah benar-benar runtuhkah?
Mimpi Bara tentang joglo yang berdiri kembali, utuh, diperbaiki batu demi batu. Lumpur merah segar di kakinya. Daun hutan di antara jarinya. Semua menunjuk ke satu kemungkinan yang membuat Ratri merinding di bawah matahari pagi: bahwa di tengah hutan itu, sesuatu sedang membangun kembali. Sesuatu sedang menyiapkan rumah untuk inangnya pulang.
Ratri berbalik dan berjalan cepat kembali ke desa, melewati jejak kaki kakaknya yang mengarah pulang, otaknya berputar menyusun rencana. Ia harus menghentikan Bara berjalan dalam tidur—mengikatnya, mengurungnya dalam garis bubuk tiap malam jika perlu. Ia harus tahu apa yang ada di Gandasuli sekarang, dengan matanya sendiri, di siang hari. Dan ia harus melakukannya cepat, sebelum panggilan itu menjadi terlalu kuat untuk ditahan garis mana pun—sebelum suatu malam kakaknya berjalan ke hutan itu dan tidak pernah berjalan kembali.
Ketika ia tiba di tembok belakang rumah, ia menemukan Bara berdiri di sana, menunggunya, sudah membersihkan kakinya, wajahnya kelabu oleh ketakutan dan rasa bersalah.
"Sampai mana?" tanya Bara, meski ia sudah tahu jawabannya.
"Sampai ke hutan, Mas." Ratri menatap kakaknya, dan menggenggam tangannya yang dingin. "Tiap malam, kamu berjalan ke Gandasuli. Dia memanggilmu pulang."
Bara menutup mata, dan ketika ia membukanya, ada keputusan yang mengeras di dalamnya—keputusan yang menyakitkan, tapi yang ia tahu harus diambil. "Kalau begitu," katanya pelan, "kamu harus mengurungku. Sebelum kakiku membawaku ke sana untuk selamanya."
Di kejauhan, di balik perbukitan, Hutan Gandasuli berdiri diam di bawah langit pagi—tampak seperti hutan biasa. Tapi keduanya kini tahu bahwa di tengahnya, di tempat yang mereka kira sudah mereka tinggalkan dalam reruntuhan, sesuatu sedang menunggu dengan sabar, dan tiap malam memanggil salah satu dari mereka untuk pulang.