Tanah di kaki tiang itu berbeda dari tanah hutan lainnya. Lebih merah. Lebih basah. Dan ketika parang Pakdhe Hartono menembusnya, baunya naik—bau tanah kuburan yang lama, bau lembap yang manis dan busuk sekaligus, bau yang membuat Ratri ingin muntah.
Mereka menggali bergantian, tangan dan parang, di bawah matahari yang perlahan condong ke barat. Ratri terus melirik ke langit, menghitung waktu seperti Pakdhe. Tiga jam mungkin sebelum gelap. Tiga jam sebelum mereka harus keluar dari hutan ini, apa pun yang mereka temukan.
Pada kedalaman sekitar setengah meter, parang itu membentur sesuatu yang tidak keras seperti kayu atau batu, melainkan kenyal. Pakdhe menarik tangannya seakan tersengat.
"Ada apa?" tanya Ratri.
Pakdhe tidak menjawab. Ia hanya menyingkir, membiarkan Ratri melihat sendiri.
Di dalam lubang galian, mencuat dari tanah merah, ada akar. Tapi akar itu hitam—bukan cokelat tua, bukan gelap karena tanah, melainkan hitam pekat, hitam seperti bilah keris di kotak kakek, hitam yang seakan menyerap cahaya alih-alih memantulkannya. Akar itu setebal pergelangan tangan, basah dan mengilap, dan ketika Ratri membersihkan tanah di sekelilingnya dengan tangan gemetar, ia melihat dari mana akar itu berasal.
Dari abu.
Di dasar lubang ada serpihan abu kelabu, tipis, yang seharusnya sudah lama hancur dan menyatu dengan tanah. Itu sisa lembar perjanjian yang Bara bakar malam itu. Abu yang seharusnya mati, abu yang seharusnya menandai akhir. Tapi dari abu itu, akar hitam tumbuh—keluar dari tempat perjanjian dibakar, seakan api yang membakarnya bukan memusnahkannya melainkan menanamnya.
"Tidak mungkin," gumam Pakdhe. "Abu tidak menumbuhkan akar. Tidak ada yang tumbuh dari abu."
Ratri mengikuti arah akar itu dengan matanya. Akar hitam itu tidak menjalar ke segala arah seperti akar biasa yang mencari air. Ia menjalar lurus, ke satu sisi, menembus dinding lubang galian, masuk lebih dalam ke tanah ke arah barat. Ratri menggali mengikutinya, menyusuri batang hitam itu sejengkal demi sejengkal, dan akar itu terus menuju arah yang sama, tak pernah bercabang, tak pernah berbelok.
Ke arah desa. Ke arah rumah. Ke arah Bara.
"Aku pernah dengar tentang ini," kata sebuah suara dari belakang mereka, dan Ratri serta Pakdhe sama-sama tersentak. Tapi itu hanya angin yang menggerakkan daun, hanya gema dalam kepala Ratri sendiri—suara Mbah Joyo, dari kunjungannya beberapa hari lalu, ketika dukun tua itu memegang halaman terakhir buku harian dengan tangan pucat. *Tanah ikatan,* katanya saat itu. *Yang menautkan inang ke tempat asal perjanjian. Selama tautan itu ada, mereka tak pernah benar-benar terpisah.*
Ratri menatap akar hitam yang membentang dari abu perjanjian ke arah rumahnya, dan ia mengerti sekarang. Ini bukan sekadar pertanda. Ini sebuah jalur. Sebuah tali. Seperti tali pusar yang menghubungkan bayi dengan rahim ibunya—hanya saja ini menghubungkan sesuatu yang lapar di dalam tanah hutan ini dengan kakaknya yang tidur di kamarnya di rumah, yang tangannya dingin, yang bersenandung tembang dalam tidur.
"Kita potong," kata Pakdhe Hartono, sudah mengangkat parang. "Kalau ini tali yang menghubungkan Bara dengan tempat ini, kita putuskan sekarang juga."
"Jangan!" Ratri menahan lengannya. "Kita tidak tahu apa yang terjadi kalau dipotong sembarangan. Bagaimana kalau akar ini bagian dari Bara? Bagaimana kalau memotongnya menyakiti dia, atau lebih buruk—membunuhnya?" Ia menatap akar hitam itu, naik turun pelan, dan untuk sesaat ia bersumpah melihatnya berdenyut, sekali, seperti pembuluh darah. "Kita tidak boleh asal bertindak. Kita sudah pernah asal bertindak. Kita membakar perjanjian tanpa benar-benar tahu, dan lihat akibatnya. Kakakku jadi rumah bagi makhluk itu."
Pakdhe menurunkan parang. Bahunya merosot, dan untuk sesaat ia kembali tampak seperti orang tua yang lelah dan patah, orang yang sudah kehilangan anaknya sekali dan tak sanggup kehilangan lagi.
"Lalu apa yang kita lakukan?" tanyanya.
Ratri menutupi kembali lubang galian itu dengan tanah merah, perlahan, seakan menyembunyikan luka. "Kita pergi ke Gunungkidul. Lagi. Mbah Joyo tahu lebih banyak dari yang ia katakan padaku waktu itu. Aku melihatnya di wajahnya. Ada yang ia sembunyikan." Ia berdiri, menghapus tanah dari tangannya, dan menatap matahari yang sudah mulai memerah di balik pepohonan. "Dan kita harus cepat. Hutan ini bangun lebih cepat tiap malam. Akar ini tumbuh tiap malam. Dan kakakku—" suaranya tercekat, "—kakakku makin jauh tiap malam."
Mereka berjalan keluar dari Hutan Gandasuli secepat yang mereka bisa, tak menoleh ke belakang, sementara di belakang mereka, di tengah reruntuhan, tunas-tunas hijau pucat di kaki tiang patah itu seakan condong sedikit lebih jauh ke arah barat, ke arah mereka pergi, ke arah rumah tempat seorang lelaki bertangan dingin sedang duduk sendirian di pendapa, menatap dinding, tanpa benar-benar tahu mengapa dadanya terasa seperti ada yang menariknya pulang ke hutan.