Mimpi itu mulai datang setiap malam, sama persis.
Bara berdiri di tepi hutan Gandasuli, dan kabut memanggilnya masuk. Ia tak ingin melangkah, tapi kakinya bergerak sendiri, melewati pepohonan tua, menyusuri jalan setapak yang ia kenal terlalu baik. Dan di tengah lapangan, joglo lama berdiri—tapi tidak runtuh seperti yang ia tinggalkan. Utuh. Megah. Atapnya melengkung sempurna, tiangnya tegak, kayunya mengilap seperti baru. Saka guru timur yang patah malam itu kini berdiri kembali, bahkan lebih kokoh dari sebelumnya, seakan tumbuh dari tanah.
Dan di pendapanya, di kursi ukir, ada tempat yang menunggu. Bukan ditempati siapa pun. Menunggu. Untuknya.
Tiap malam dalam mimpi ia berjalan mendekati kursi itu, dan tiap kali, tepat sebelum ia duduk, ia terbangun—jantung berdebar, keringat dingin, dan di telinganya samar-samar suara tembang yang naik turun seperti tangisan.
Tapi mimpi malam ini berbeda. Mimpi malam ini terasa lebih nyata. Ia bisa mencium bau hutan—lembap, lumut, dan sesuatu yang manis-busuk di bawahnya. Ia bisa merasakan tanah dingin di telapak kakinya yang telanjang. Dan ketika ia melangkah menuju kursi ukir, sebuah suara—suara-suara—membisik tepat di telinganya: "Pulang, Nak. Rumahmu di sini sekarang. Lihat, aku sudah memperbaikinya untukmu. Aku sedang membangunnya kembali, batu demi batu, kayu demi kayu, agar kita punya tempat untuk pulang."
Bara terbangun dengan jeritan tertahan di tenggorokannya.
Pagi itu masih gelap, ayam belum berkokok. Ia berbaring terengah di ranjangnya, meyakinkan diri itu hanya mimpi, hanya mimpi, ketika ia merasakan sesuatu yang salah pada kakinya.
Ia menyibak selimut.
Kakinya berlumur lumpur. Lumpur merah kecokelatan, basah, segar, sampai ke betis—seakan ia baru saja berjalan menembus tanah hutan yang lembap. Di seprai putihnya, jejak telapak kaki tercetak jelas, dari ujung ranjang sampai ke tempat ia berbaring. Dan di antara jari-jari kakinya, terselip sehelai daun—daun hutan, jenis yang tidak tumbuh di pekarangan rumah, jenis yang hanya tumbuh di tempat lembap dan gelap di bawah pohon-pohon tua.
Bara duduk membeku, menatap kakinya yang kotor, sementara kengerian merayap naik perlahan dari perutnya.
Ia tidak keluar rumah semalam. Ia ingat membaca, lalu tidur, lalu mimpi. Pintu kamarnya tertutup. Pintu pendapa, ia tahu, dikunci Ratri tiap malam sejak kambing Pak Surip mati. Tidak mungkin ia keluar. Tidak mungkin ia berjalan ke mana pun.
Tapi lumpur itu nyata. Daun itu nyata. Dan jarak dari rumah ke Gandasuli adalah jarak yang tak mungkin ditempuh dan kembali dalam satu malam dengan berjalan kaki biasa.
Kecuali kakinya bukan miliknya saat ia berjalan.
Tangannya gemetar ketika ia menyentuh lumpur itu. Dingin. Sedingin tanah merah dalam kotak. Sedingin tangannya sendiri. Dan ketika ia menggosoknya di antara jari, baunya menyergap—bau Gandasuli, bau yang tak akan pernah ia lupakan selama ia hidup, bau tempat di mana keluarganya menukar nyawa dengan emas selama tiga keturunan.
Ia ingin memanggil Ratri. Ia ingin membangunkan seluruh rumah. Tapi ia hanya duduk di sana, di ranjangnya, menatap bukti bahwa setiap malam, sementara ia tidur dan bermimpi, sesuatu di dalam dirinya bangun dan berjalan—membawa tubuhnya keluar, menembus pintu yang terkunci, menuju hutan yang memanggilnya pulang.
Di luar jendela, fajar mulai merekah. Dan untuk pertama kalinya sejak kecil, Bara takut pada pagi yang datang—bukan karena gelap yang berlalu, tapi karena pagi berarti ia harus tidur lagi nanti malam. Dan ia tak tahu lagi ke mana kakinya akan membawanya saat ia memejamkan mata.