Setelah malam itu, Ratri tahu ia tidak bisa lagi sekadar mengamati. Ia harus menguji apa yang ia punya.
Yang ia punya adalah sisa bubuk dari Mbah Joyo—setengah kantong, simpanan dari malam Gandasuli yang tak terpakai—dan ingatan tentang cara menyusunnya. Bubuk dan daun yang dulu menandai garis di lantai joglo lama, garis yang menahan tangan-tangan pucat agar tak bisa menyeret Bara melewatinya. Jika garis itu bisa menahan kuasa Mbah Demang di Gandasuli, mungkin garis yang sama bisa menahannya di sini.
Ia menunggu siang, ketika Mbah Joyo berkali-kali bilang sang dhanyang paling lemah. Bara duduk di kursi di tengah kamarnya, pucat dan ragu, sementara Ratri berlutut dan menaburkan bubuk itu dalam sebuah lingkaran di sekeliling kursi, lalu meletakkan tujuh daun kering pada titik-titik yang ia hafal.
"Kamu yakin ini aman?" tanya Bara, menatap garis yang mengurungnya. "Bagaimana kalau ini malah—aku tidak tahu—memerangkapnya bersamaku? Membuatnya lebih kuat?"
"Aku tidak yakin apa-apa," jawab Ratri jujur, menyelesaikan daun terakhir. "Tapi kita harus tahu apa yang bisa kita perbuat. Kalau kita tak pernah menguji apa pun, kita cuma menunggu sampai kalah." Ia mundur, berdiri di luar garis. "Bagaimana rasanya?"
Bara menutup matanya, diam, mendengarkan ke dalam dirinya sendiri. Lalu, perlahan, sesuatu pada bahunya yang selama ini menegang mulai mengendur. Garis-garis tegang di wajahnya melembut. Ketika ia membuka mata, matanya jernih—lebih jernih dari berhari-hari ini—dan air mata menggenang.
"Sunyi," bisiknya. "Ratri, ini... sunyi. Napas itu—napas orang lain di paru-paruku—hilang. Sejak Gandasuli aku tak pernah benar-benar sendirian di kepalaku. Selalu ada dia, di latar belakang, menunggu, menonton. Tapi sekarang..." Suaranya pecah. "Sekarang cuma aku. Cuma aku sendiri."
Ratri merasakan harapan menyala di dadanya, panas dan tajam. "Jadi garisnya bekerja. Garisnya menahannya."
Tapi harapan itu hanya bertahan sebentar. Bara menggeleng pelan, dan tatapannya mengabur dengan kesedihan yang lebih dalam.
"Bukan menahannya, Ratri. Dia masih di sini." Ia menekan dadanya. "Aku masih merasakannya, jauh di dalam, seperti orang yang dipaksa diam di kamar sebelah. Garis ini tidak mengusirnya. Garis ini cuma... membuatnya tak bisa bicara. Tak bisa bergerak melalui aku. Untuk sementara." Ia menatap adiknya. "Di dalam garis ini, aku Bara. Di luar garis ini, aku tidak selalu Bara. Tapi aku tidak bisa hidup di dalam lingkaran ini selamanya, kan? Aku tak bisa makan, tidur, hidup—di dalam segenggam bubuk dan tujuh daun kering."
Kenyataan itu menghantam mereka berdua sekaligus. Garis itu bukan obat. Garis itu hanya sekat. Sebuah dinding tipis yang bisa menahan air bah sesaat, tapi tak bisa menghentikannya.
"Tapi ini berarti sesuatu," kata Ratri, lebih kepada dirinya sendiri, mencoba menyusun arti dari kepingan yang ia punya. "Kalau entitas itu bisa ditahan, kalau ia tidak bisa menembus garis Mbah Joyo—berarti dia tidak mahakuasa. Dia punya aturan. Punya batas. Dan apa pun yang punya batas..." ia mengangkat wajah, dan ada keras baru dalam matanya, "...bisa dikalahkan. Kita cuma belum tahu caranya."
Bara tersenyum lemah, di dalam lingkarannya. "Kamu selalu begitu. Sejak kecil. Yang lain melihat tembok, kamu melihat pintu yang belum ketemu kuncinya."
Mereka membiarkan Bara duduk di dalam garis itu sampai matahari mulai condong, dan untuk beberapa jam yang berharga, ia kembali sepenuhnya menjadi dirinya—tertawa, mengingat masa kecil, bahkan menggoda adiknya seperti dulu. Tapi ketika senja datang dan Ratri terpaksa menghapus garis itu karena ibunya memanggil makan malam, Bara menatap bubuk yang dibersihkan dari lantai dengan tatapan orang yang melihat secercah surga ditarik kembali.
Dan di mata kakaknya, tepat sebelum garis terakhir terhapus, Ratri melihat sesuatu yang dingin bergerak kembali—seperti penghuni kamar sebelah yang mendorong pintu, perlahan, dan kembali masuk.