Itu terjadi pada malam yang seharusnya biasa.
Mereka sedang duduk di pendapa, Ratri dan Bara, membicarakan rencana pelan-pelan, suara direndahkan agar ibu mereka di kamar tak terbangun. Bara baru saja meminum teh, dan Ratri sedang menjelaskan apa yang dikatakan Mbah Joyo tentang tanah ikatan, ketika ia menyadari kakaknya berhenti merespons.
Bara duduk diam, cangkir teh berhenti separuh jalan ke bibirnya. Matanya menatap lurus ke depan, ke kegelapan halaman, dan tidak berkedip. Lampu kristal di atas kepala mereka mulai berdenting—satu kali, dua kali, tanpa angin.
"Mas?" Ratri menyentuh lengannya. Dingin. Lebih dingin dari biasanya, dingin yang membuat tangannya sendiri ikut kebas.
Bara memutar kepalanya ke arah Ratri. Pelan. Terlalu pelan. Dan ketika matanya bertemu mata adiknya, Ratri tahu—dengan kepastian yang membuat darahnya berhenti—bahwa yang menatapnya dari balik wajah kakaknya bukan kakaknya.
"Ratri." Bibir Bara bergerak, tapi suara yang keluar adalah dua suara, tiga suara, banyak suara, tumpang tindih dalam satu mulut. Suara tua dan muda dan tak berusia. Suara yang sama yang ia dengar bertahun lalu di pendapa joglo lama. "Adik kecil yang sibuk. Yang berlari ke Gunungkidul, ke rumah orang renta, ke makam-makam tua. Kau pikir aku tidak tahu?"
Ratri menarik tangannya, mundur di kursinya, jantungnya menghantam tulang rusuknya. "Lepaskan kakakku."
Bibir Bara melengkung jadi senyum yang tidak pernah dibuat Bara—terlalu lebar, sudut-sudutnya terlalu tajam. "Melepaskannya?" Suara-suara itu tertawa, dan tawa itu bergema di pendapa seperti banyak orang tertawa sekaligus di tempat yang sama. "Nduk, kau salah paham. Aku tidak menahannya seperti tahanan. Aku tinggal di dalamnya seperti orang tinggal di rumah. Rumah baru. Hangat. Penuh darah segar dari garis yang sudah kukenal selama tiga keturunan." Tangan Bara—tangan kakaknya—terangkat dan mengetuk-ngetuk sandaran kursi dengan irama tembang itu. "Kakekmu menyeret tumbalnya sambil menjerit. Hambar. Bara menyerahkan dirinya dengan kerelaan. Manis. Dan ketika ia membakar lembar itu dengan rela, ia membuka pintu rumahnya lebar-lebar dan mempersilakanku masuk. Aku tinggal hanya menerima undangan."
"Kamu berbohong." Ratri memaksa suaranya tidak goyah, meski seluruh tubuhnya berteriak agar lari. "Kamu memerangkapnya. Kamu menipu Kakek soal cara memutus rantai supaya Mas Bara—"
"Aku tidak perlu menipu siapa pun." Suara-suara itu merendah, hampir lembut, dan itu lebih mengerikan dari teriakan. "Manusia menipu diri mereka sendiri, Nduk. Mereka begitu ingin percaya ada jalan keluar yang gratis. Kakekmu percaya ia bisa kaya tanpa membayar. Cucumu percaya ia bisa membakarku habis. Kalian semua datang kepadaku membawa keinginan kalian sendiri, dan aku hanya... memenuhinya. Dengan caraku." Kepala Bara miring, terlalu miring, dan Ratri mendengar bunyi pelan dari leher kakaknya, bunyi yang seharusnya tidak ada. "Dan kau, adik kecil. Kau juga punya keinginan. Kau ingin kakakmu kembali. Aku bisa memenuhinya juga. Semua perjanjian punya harga. Tinggal sebut siapa yang kau relakan menggantikannya."
"Tidak akan pernah." Ratri berdiri, kakinya gemetar tapi tegak. "Aku tidak akan menukar siapa pun. Aku akan mengusirmu dari tubuh kakakku tanpa membayar kepadamu sepeser nyawa pun."
Senyum di wajah Bara menyusut, dan untuk sekejap, di balik mata yang menatapnya, Ratri melihat sesuatu yang lain—sesuatu yang dingin dan tua dan sangat, sangat lelah. Bukan amarah. Sesuatu yang lebih seperti pengetahuan. Seperti makhluk yang sudah melihat seribu orang bersumpah hal yang sama, dan menyaksikan semuanya akhirnya menyerah.
"Kalau begitu," kata suara-suara itu, "kita lihat seberapa lama cintamu bertahan terhadap waktu. Aku sabar, Nduk. Aku sudah menunggu lebih lama dari yang bisa kau bayangkan. Dan inang ini—" tangan Bara membentang, memamerkan tubuh kakaknya seperti memamerkan pakaian baru, "—masih muda. Masih kuat. Akan bertahan lama. Bertahun-tahun. Cukup waktu untuk membuatmu lelah, membuatmu putus asa, membuatmu akhirnya datang kepadaku sendiri dan memohon aku menerima tukaran. Mereka selalu begitu. Pada akhirnya."
Lalu, seperti tali yang putus, Bara mengejang. Cangkir teh jatuh dari tangannya dan pecah di lantai marmer. Tubuhnya terkulai ke depan, dan ketika ia mengangkat wajahnya kembali, matanya basah dan ketakutan dan miliknya sendiri.
"Ratri," bisik Bara, suaranya kembali tunggal, gemetar, manusia. "Apa yang barusan—aku tak bisa—dia mengambil alih, aku menonton dari dalam, aku tak bisa berhenti—"
Ratri berlutut di samping kakaknya di antara pecahan cangkir, dan memeluknya, dan untuk pertama kalinya sejak Gandasuli, ia membiarkan dirinya menangis—bukan karena takut, melainkan karena ia kini tahu, dengan pasti, persis seberapa besar yang harus ia lawan, dan seberapa sabar musuhnya menunggu.