Kabar buruk di desa selalu bergerak lebih cepat dari kabar baik, dan kali ini ia bergerak dengan kaki yang sudah dikenalnya: ketakutan lama.
Mulanya hanya seekor kambing. Milik Pak Surip, yang kandangnya berbatasan dengan tembok belakang pekarangan joglo Sastrawijaya. Suatu pagi kambing itu ditemukan mati di kandangnya—tapi bukan mati biasa. Tubuhnya kaku dan kering, kulitnya menempel ke tulang seakan seluruh cairan di dalamnya disedot habis. Tidak ada luka. Tidak ada darah—justru itu yang membuat orang merinding. Tidak ada setetes pun darah, di tanah maupun di tubuh hewan itu, seakan darahnya tak pernah ada.
Pak Surip menjerit-jerit di jalan desa pagi itu, dan dalam hitungan jam separuh desa sudah berkumpul melihat bangkai kambing yang kering kerontang. Dan mata-mata mereka, seperti yang sudah-sudah, perlahan beralih ke tembok tinggi di sebelahnya, ke atap joglo yang menjulang, ke kepala kerbau kayu di bubungannya.
Ratri merasakannya ketika ia keluar membeli sayur sore itu. Bisik-bisik berhenti saat ia lewat. Penjual yang biasanya ramah menjadi pendek dan dingin. Seorang ibu menarik anaknya menjauh ketika Ratri tersenyum padanya. Tatapan-tatapan itu—ia mengenalinya dari cerita Bara tentang hari-hari pertamanya pulang, dari cara orang menatap keluarga ini sebelum Gandasuli. Tatapan yang berkata: kalian. Selalu kalian. Apa pun yang gelap di desa ini, akarnya selalu di rumah kalian.
"Kupikir semua sudah selesai," kata Ratri pahit malam itu, di pendapa. "Setelah Gandasuli, desa jadi hangat. Mereka menyapa kita. Mereka kira kutukannya pergi."
Ibunya, yang duduk memilih beras di sudut, tidak mengangkat kepala. "Kutukan tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan orang desa, Ratri. Ia hanya tidur. Dan begitu ada satu pertanda—satu kambing kering, satu malam aneh—mereka langsung ingat. Mereka selalu mengingat. Ibu hidup di bawah tatapan itu sepanjang hidup Ibu." Tangannya berhenti memilih beras. "Yang Ibu takutkan bukan tatapan. Yang Ibu takutkan, mereka benar."
Bara, yang duduk diam di kursi ukir, berkata dengan suara rendah—suaranya sendiri, untungnya. "Kambing itu mati kering tanpa darah. Persis seperti ternak yang dulu mati di sekitar Gandasuli, kata orang-orang tua." Ia menatap tangannya. "Dia lapar, Ratri. Aku merasakannya. Tahun-tahun ini dia tidak mendapat tumbalnya. Garis darah kami harusnya membayar tiap Sura, dan sejak kami 'memutusnya', tak ada yang dibayar. Dia kelaparan, dan dia mulai... mengambil yang kecil-kecil dulu. Ternak. Untuk bertahan. Tapi itu tak akan cukup baginya. Tak akan pernah cukup."
Ratri menatap kakaknya. "Kamu—dia—yang membunuh kambing itu?"
"Aku tidak tahu." Suara Bara bergetar. "Itu yang paling menakutkan. Aku tidak tahu apa yang kulakukan di malam-malam yang hilang. Mungkin aku cuma tidur. Atau mungkin aku berjalan keluar tembok dan—" ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku tidak tahu lagi mana yang aku, dan mana yang dia."
Hening menggantung di pendapa, berat dan dingin.
Di luar tembok, jauh di kegelapan desa, seekor anjing mulai melolong, panjang dan putus asa. Lalu anjing kedua menyahut. Lalu ketiga. Sampai seluruh desa dipenuhi lolongan, semua menghadap satu arah—ke joglo keluarga Sastrawijaya, ke sesuatu yang mereka rasakan tapi tak berani namai, yang sudah kembali tinggal di antara mereka.
Ratri bangkit dan menutup semua pintu pendapa, satu per satu. Tapi ia tahu, sementara ia memutar kunci, bahwa pintu dan tembok tak ada gunanya. Yang ditakuti desa tidak datang dari luar untuk masuk. Ia sudah di dalam, duduk di kursi ukir, memakai wajah kakaknya, lapar dan menunggu.