Bara tahu sesuatu salah pada dirinya jauh sebelum ia berani mengakuinya.
Ada hari-hari yang hilang potongannya. Ia akan menutup mata di ranjang dan membukanya kembali, lalu mendapati dirinya berdiri di pendapa, kaki telanjang di lantai marmer yang dingin, tanpa ingat bagaimana ia sampai di sana. Ada pagi-pagi ketika ia bangun dengan tenggorokan serak, seakan habis bernyanyi semalaman, sementara tubuhnya lelah seperti baru menempuh jarak jauh. Dan tangannya—tangannya selalu dingin, tak peduli berapa lama ia merendamnya di air panas, tak peduli sepalsu apa pun matahari siang menyinarinya.
Maka ketika ia memergoki adiknya pulang larut dari Gunungkidul dengan wajah lelah dan kantong tanah merah di tas, ketika ia melihat Ratri diam-diam mencatat sesuatu di buku kecil dan menyembunyikannya begitu ia masuk, Bara tidak marah. Ia ingin marah—itu reaksi yang lebih mudah, lebih jantan—tapi yang sebenarnya menggenang di dadanya adalah ketakutan.
Malam itu, setelah ibunya tidur, Bara mengetuk pintu kamar Ratri.
"Aku tahu kamu mengawasiku," katanya, berdiri di ambang pintu, dan suaranya bergetar dengan cara yang membuat Ratri langsung tahu ini Bara—Bara yang asli, kakaknya. "Aku menemukan buku catatanmu sore tadi. Tidak sengaja. Aku membaca beberapa halaman sebelum kamu pulang." Ia menarik napas yang berderak. "Rekaman. Senandung. Tanah ikatan. Inang."
Ratri menutup buku catatannya dan berdiri perlahan. "Mas—"
"Apa aku gila, Ratri?" Suaranya pecah, dan tiba-tiba ia tak lagi terlihat seperti kakak yang dewasa dan berkepala dingin, melainkan seperti bocah laki-laki yang dulu takut gelap dan menyusup ke kamarnya. "Tolong bilang aku cuma gila. Bilang aku cuma trauma, stres, apa pun. Karena alternatifnya..." Ia menatap tangannya sendiri, yang gemetar dan pucat. "Aku kehilangan waktu, Ratri. Aku menemukan diriku di tempat-tempat yang tak kuingat kudatangi. Aku mendengar—" ia menelan ludah, "—aku mendengar sesuatu di dalam kepalaku. Bukan suara. Lebih seperti... napas. Napas orang lain di paru-paruku sendiri. Dan kadang aku tahu hal-hal yang tak mungkin kuketahui. Tembang yang tak pernah kupelajari. Nama-nama orang yang sudah lama mati."
Ratri merasa tenggorokannya tercekat. Selama ini ia menyiapkan diri untuk pertengkaran, untuk penyangkalan, untuk kakaknya marah dan menuduhnya berkhayal. Ia tidak siap untuk ini—untuk Bara yang menyerah, yang ketakutan, yang memohon.
"Kamu tidak gila," kata Ratri pelan. Ia melangkah mendekat dan menggenggam tangan kakaknya, yang dingin seperti besi di malam hari. "Aku berharap kamu gila, Mas. Itu akan jauh lebih mudah. Tapi kamu tidak gila."
Bara memejamkan mata, dan air mata jatuh menuruni pipinya. Selama ini ia menjadi yang kuat. Yang pulang menyelamatkan keluarga. Yang membakar perjanjian. Dan kini ia berdiri di kamar adiknya tengah malam, mengaku ia tak lagi mengenali dirinya sendiri.
"Halaman terakhir buku harian Kakek," bisiknya. "Yang kutemukan tiga minggu setelah Gandasuli. Aku membakar perjanjian dengan rela. Dan kakek menulis... yang membakarnya dengan rela menjadi mata rantai berikutnya." Ia membuka mata, dan menatap adiknya dengan kengerian telanjang. "Aku tidak memutus rantainya, Ratri. Aku menjadi rantainya. Dia ada di dalam diriku. Mbah Demang ada di dalam diriku."
Mengucapkannya dengan lantang membuat keduanya membeku, seakan menamai sesuatu memberinya kuasa.
"Aku tidak akan menyerah padamu," kata Ratri, mencengkeram tangan kakaknya lebih erat. "Dengar aku, Mas. Aku menarikmu keluar dari lingkaran itu sekali. Aku akan menarikmu keluar dari ini juga. Aku tidak peduli berapa lama, berapa jauh. Aku sedang mencari cara. Mbah Joyo, Pak Karto, silsilah—aku sedang menyusunnya. Ada nama yang dihapus, ada kelemahan yang belum kupahami. Aku akan menemukannya."
Bara menunduk, dan ketika ia bicara, suaranya begitu kecil. "Janji satu hal padaku. Kalau aku tak bisa lagi dikenali. Kalau aku jadi dia sepenuhnya. Kalau aku membahayakan Ibu, atau kamu—" ia mengangkat wajahnya, "—jangan ragu seperti waktu di hutan. Jangan kira kamu masih bisa menyelamatkanku. Lakukan yang harus dilakukan. Lindungi Ibu. Lindungi dirimu. Aku lebih takut menjadi pisau di tangan dia daripada aku takut mati."
Ratri tidak menjawab. Ia hanya memeluk kakaknya, erat, di kamar yang gelap, dan merasakan tubuh Bara yang dingin gemetar dalam pelukannya—dan jauh di dasar dadanya, ia bersumpah dalam diam bahwa ia akan menemukan cara ketiga, cara yang bukan kehilangan dan bukan membunuh. Cara membawa kakaknya pulang seutuhnya.