Ada satu benda dari kotak hitam yang tak pernah benar-benar Bara perhatikan, dan kini Ratri tak bisa berhenti memikirkannya: segenggam tanah merah lembap, terbungkus kain, yang anehnya tak pernah kering selama bertahun-tahun tersimpan.
Ia mengeluarkannya dari kotak suatu siang, ketika Bara sedang di luar dan ibunya tidur. Tanah itu berwarna merah tua, hampir seperti darah kering, dan ketika Ratri menyentuhnya, tanah itu basah dan dingin, sedingin tangan kakaknya. Ia menaruhnya di telapak, dan—ia bersumpah ia tidak membayangkannya—tanah itu seakan berdenyut pelan, seperti sesuatu yang hidup namun sangat lambat.
Ratri membungkus tanah itu kembali, lalu mengambil sedikit dalam kantong plastik kecil. Esok harinya ia menempuh perjalanan panjang ke Gunungkidul, ke rumah Mbah Joyo di lereng kapur yang gersang.
Dukun tua itu lebih ringkih dari yang Bara gambarkan. Ia terbaring di balai-balai, dadanya naik-turun dengan susah payah, tapi matanya masih jernih ketika Ratri masuk dan memperkenalkan diri sebagai adik Bara.
"Adiknya," gumam Mbah Joyo, menatapnya lama. "Yang menariknya keluar dari lingkaran." Ia menghela napas, dan dalam napas itu ada beban. "Kalian berdua selamat malam itu. Tapi kamu di sini sekarang, Nduk, dan wajahmu adalah wajah orang yang tahu bahwa selamat tidak sama dengan menang."
Ratri mengeluarkan kantong tanah merah dan meletakkannya di lantai bambu di antara mereka. "Mbah, ini dari kotak Kakek. Tanah ini tak pernah kering. Dan kemarin, ketika kupegang, rasanya seperti..."
"Seperti hidup." Mbah Joyo tidak perlu melihat lama. Wajahnya berubah, dan ia menarik tangannya menjauh dari tanah itu seakan dari ular. "Singkirkan dari dekat kepalaku, Nduk. Taruh di ujung sana."
Ratri menggesernya. "Apa ini, Mbah?"
Dukun tua itu terbatuk, lalu bicara dengan suara yang merendah, seakan takut didengar oleh tanah itu sendiri. "Itu tanah ikatan. Tanah dari joglo lama, dari tempat perjanjian dibuat. Ketika seseorang mengikat diri pada dhanyang, sang dhanyang menyimpan sekepal tanah dari sarangnya pada si pengikat—seperti tali yang ditambatkan. Selama tanah itu ada di tangan keturunan, ikatan tetap terhubung ke sumbernya, ke Gandasuli. Tanah itu tak akan kering, karena ia bukan sekadar tanah. Ia akar. Ujung akar dari sesuatu yang tumbuh di tempat lain."
Ratri menatap kantong kecil itu dengan ngeri baru. "Jadi selama tanah ini ada di rumah kami—"
"Inang dan sumber tetap tersambung." Mbah Joyo mengangguk berat. "Kakakmu membawa Mbah Demang di dalam dirinya sekarang. Aku tahu itu, dari caramu menatapku saat masuk tadi. Dan selama tanah ikatan ini ada, dan selama joglo lama masih jadi sumber, sang dhanyang punya jalan pulang—dan jalan menarik inangnya pulang." Ia memejamkan mata sejenak, lelah. "Membakar tanahnya tak akan membantu. Membuangnya pun tidak. Tanah ikatan akan selalu kembali ke pemiliknya, seperti air mencari laut. Aku pernah melihat orang menguburnya jauh-jauh, melemparnya ke sungai. Pagi harinya tanah itu ada lagi di bawah bantal mereka."
"Lalu apa gunanya aku tahu ini, Mbah?" Suara Ratri pahit. "Kalau tak ada yang bisa kuperbuat?"
Mbah Joyo membuka matanya, dan menatapnya dengan iba yang dalam. "Gunanya begini, Nduk. Tanah ikatan tidak bisa dihancurkan sendiri. Tapi ia bisa menjadi penuntun. Selama ia ada, ia akan selalu menunjuk ke arah sumbernya—seperti jarum yang selalu mencari utara. Suatu hari nanti, kalau kau cukup berani, kau perlu kembali ke sumber itu. Dan tanah ini akan menunjukkan jalannya, lebih jujur dari peta mana pun." Ia terbatuk lagi, lebih lama kali ini, dan menantunya yang menunggui di balik tirai melongok cemas. "Tapi camkan: tanah itu menunjuk dua arah, Nduk. Ia menunjukkanmu jalan ke sumber. Dan ia menunjukkan sumber jalan ke kalian. Selama ia di rumahmu, kalian tak pernah benar-benar tersembunyi."
Ratri menggenggam kantong itu, dan rasanya lebih berat dari sebelumnya, seakan ia menggenggam sepotong Gandasuli sendiri di tangannya. Ia tahu ia harus menyimpannya—sebagai jarum, sebagai penuntun. Tapi ia juga tahu, dalam perjalanan pulang yang panjang dan berguncang, bahwa benda yang sama yang akan menuntunnya menyelamatkan kakaknya adalah benda yang membuat kakaknya tak pernah benar-benar lepas dari cengkeraman hutan itu.