Nama Pak Karto sudah lama tinggal di kepala Ratri, sejak Bara dulu menceritakan isi buku harian kakek. Pak Karto—teman kakek yang bilang kakek "gila" sebelum berangkat ke Gandasuli. Jika ada satu orang hidup yang menyaksikan awal dari semua ini, orang itu adalah Pak Karto.
Ratri bertanya dari rumah ke rumah, hati-hati, menyamarkan pertanyaannya sebagai keperluan silsilah keluarga biasa. Sebagian besar warga menggeleng atau pura-pura tak ingat begitu mendengar nama Sastrawijaya digandengkan dengan Pak Karto. Tapi seorang ibu penjual gorengan akhirnya menunjuk ke ujung desa, ke sebuah rumah kayu reyot yang nyaris ditelan rumpun bambu.
"Pak Karto masih hidup," kata ibu itu, suaranya merendah. "Tapi sudah pikun, Nduk. Kadang waras, kadang ngelantur. Anak-anaknya sudah pergi semua. Dia tinggal sama menantu. Kalau mau ke sana, jangan sore-sore. Dia jadi aneh kalau hari mulai gelap."
Ratri datang menjelang tengah hari, ketika matahari paling tinggi dan paling jujur. Seorang perempuan paruh baya—menantu Pak Karto—membukakan pintu dengan curiga, lalu melunak ketika Ratri menyebut dirinya cucu Sastrawijaya yang ingin sungkem.
Pak Karto duduk di kursi rotan di teras belakang, menghadap kebun. Tubuhnya tinggal kerangka dibalut kulit, matanya berkabut katarak, tapi ketika Ratri menyebut nama kakeknya, sesuatu menyala di balik kabut itu—seperti bara yang ditiup.
"Sastrawijaya," gumamnya, dan bibirnya yang kering melengkung jadi sesuatu antara senyum dan seringai. "Si miskin yang jadi kaya. Aku bilang dia gila. Aku bilang jangan. Tapi anak-anaknya kelaparan, dan orang lapar tak punya telinga." Tangannya yang gemetar meraih ke udara, seperti mencari sesuatu yang sudah lama hilang. "Aku ikut sampai tepi hutan malam itu. Cuma sampai tepi. Tak ada uang di dunia ini yang bisa membuatku masuk lebih dalam dari itu."
Ratri duduk berlutut di sampingnya, menjaga suaranya tetap lembut. "Mbah, malam Kakek pulang dari Gandasuli—Mbah lihat dia pulang?"
Pak Karto mengangguk lambat, dan tatapannya menjauh, menembus puluhan tahun. "Kutunggu dia di tepi hutan sampai subuh. Kupikir dia takkan keluar. Banyak yang masuk hutan itu dan tak pernah keluar. Tapi menjelang fajar, dia muncul." Suaranya merendah. "Dia berubah, Nduk. Pergi miskin dan ketakutan, pulang... kosong. Matanya kosong. Dan dia menggendong sesuatu di tangannya, dibungkus kain."
"Emas?"
Pak Karto menggeleng, dan air mata tua menetes dari sudut matanya yang berkabut. "Bukan emas saja. Emasnya datang belakangan, di rumah, kata orang. Yang dia gendong dari hutan malam itu—" napasnya tersengal, "—aku kira awalnya anaknya yang tidur. Kupanggil namanya, kutanya itu siapa. Dia menatapku, dan dia bilang, dengan suara yang bukan suaranya: 'Ini yang kuberikan. Ini yang kutinggalkan di sana, tapi ia menyuruhku membawanya pulang dulu, agar aku ingat harganya.'" Tangan Pak Karto mencengkeram lengan Ratri, kuat luar biasa untuk tubuh serapuh itu. "Itu anak sulungnya, Nduk. Si bungsu masih bayi waktu itu—maksudku anak yang paling besar. Dia menggendong anaknya yang sudah... yang sudah jadi dingin. Sebagai tanda. Sebagai cap. Dan esoknya, anak itu tidak ada lagi. Tidak ada makamnya. Tidak ada selamatannya. Seakan dia tak pernah lahir."
Ratri merasa darahnya membeku. Nama yang dihapus. Anak pertama. Tumbal pertama, dibawa pulang sekali, lalu dilenyapkan dari ingatan dunia.
"Siapa namanya, Mbah?" tanyanya, suaranya nyaris tak keluar. "Anak itu—siapa namanya?"
Pak Karto membuka mulut. Tapi di saat itu, awan menutupi matahari, dan teras itu meredup sesaat, dan sesuatu pada wajah orang tua itu berubah. Cengkeramannya melemah. Matanya kembali berkabut, bingung, takut.
"Sudah gelap," gumamnya, gelisah, menatap langit yang baru saja meredup. "Jangan sebut namanya kalau sudah gelap. Dia mendengar kalau gelap. Pulanglah, Nduk. Pulang sebelum benar-benar malam." Ia menarik tangannya, memeluk dirinya sendiri, dan bergumam tembang yang sama yang membuat bulu kuduk Ratri berdiri—tembang yang juga disenandungkan kakaknya dalam tidur.
Menantu Pak Karto datang tergesa, meminta Ratri pergi. Ratri bangkit, kecewa dan menggigil, namun ia tahu ia akan kembali. Pak Karto tahu nama itu. Dan suatu hari, di bawah matahari yang cukup terang, ia akan membuat orang tua itu mengucapkannya.