Ratri tidak bisa lagi pura-pura percaya bahwa semuanya sudah berakhir.
Sejak malam ketika lampu padam di selamatan empat puluh hari, sejak ia mendengar kakaknya mengucap kalimat dengan suara yang bukan suaranya, sesuatu di dalam dirinya berhenti menyangkal. Bara sudah berubah. Pelan, hampir tak kasat mata, tapi berubah. Dan jika ia ingin menolong kakaknya, ia harus berhenti menebak dan mulai menggali.
Maka pagi itu, sementara Bara masih terlelap di kamarnya dengan tangan yang dingin di atas selimut, Ratri menyelinap ke kamar kakeknya yang sudah lama terbengkalai. Di sanalah ibunya menyimpan kotak-kotak tua: surat tanah, akta, dan sebuah buku silsilah keluarga yang dijilid kulit, ditulis tangan oleh entah leluhur mana, dengan nama-nama yang melebar dari satu cabang ke cabang lain seperti akar pohon yang dipaksa muat di kertas.
Ratri membuka buku itu di bawah cahaya jendela. Debu naik dari halamannya. Ia menelusuri garis keturunan dengan jari, dari nama kakeknya, Raden Mas Sastrawijaya, naik ke atas, ke orang tua kakek, ke kakek dari kakek, ke nama-nama yang tintanya sudah cokelat pudar. Ia mencatat tiap kelahiran, tiap kematian, mencari pola tahun, mencari malam-malam Sura yang menelan.
Lalu jarinya berhenti.
Di antara nama anak-anak kakeknya—di urutan yang seharusnya paling atas, yang seharusnya anak sulung—ada sebuah baris yang dicoret. Bukan dicoret biasa. Tinta hitam pekat ditorehkan berkali-kali sampai kertasnya hampir berlubang, sampai nama di bawahnya nyaris tak terbaca—tinggal bayang-bayang huruf yang harus ditebak, samar dan tak utuh, tak cukup untuk seseorang yakin betul siapa namanya. Hanya tersisa tahun lahirnya, dan kolom kematian yang dibiarkan kosong—bukan kosong karena masih hidup, melainkan kosong yang sengaja tidak diisi, seakan menuliskan tanggal matinya pun terlalu menakutkan.
Ratri merasakan dingin merayap di tengkuknya.
"Bu," panggilnya, membawa buku itu ke dapur. Ibunya sedang menanak nasi, dan ketika ia melihat sampul buku silsilah di tangan putrinya, wajahnya memucat seperti kena tampar.
"Dari mana kamu—"
"Ada nama yang dihapus, Bu." Ratri membuka halaman itu dan menunjuk baris yang dicoret. "Di sini. Anak pertama Kakek. Lebih tua dari Pakdhe Hartono, lebih tua dari semuanya. Siapa ini?"
Ibunya menatap baris hitam itu lama sekali. Tangannya, yang masih basah air cuci beras, gemetar pelan. Ketika ia bicara, suaranya nyaris tak terdengar di atas suara air yang mendidih.
"Ibu tidak pernah mengenalnya," katanya. "Ibu lahir bertahun setelah dia... tidak ada. Tapi Ibu pernah dengar, sekali, waktu kecil. Mbah Sarni—nenekmu, istri Kakek—sedang mengomel ke Kakek, dan menyebut nama itu. Kakek menamparnya. Keras. Itu satu-satunya kali Ibu melihat Kakek menampar istrinya sendiri." Ia menelan ludah. "Setelah itu nama itu tidak pernah disebut lagi. Di rumah ini, dia tidak pernah ada. Bahkan di doa selamatan, dia tidak pernah dibacakan."
"Tapi dia ada, Bu." Ratri menekan halaman itu. "Kertas ini buktinya. Dan kalau dia anak pertama, kalau dia lahir sebelum keluarga ini kaya—" ia berhenti, jantungnya berdebar saat kesimpulan itu menyusun dirinya sendiri di kepalanya, "—dia bukan tumbal tahunan biasa, Bu. Tumbal tahunan dimulai setelah Kakek kaya. Kalau anak ini hilang lebih dulu dari itu..."
Ibunya menutup mulut dengan punggung tangan.
"Dia tumbal pertama," bisik Ratri. "Bukan bagian dari pembayaran tahunan. Dia harga yang Kakek bayar untuk membuat perjanjian itu sendiri. Di awal. Di Gandasuli."
Hening mengisi dapur. Hanya suara air mendidih, dan jauh di luar, seekor ayam berkokok di siang bolong, salah waktu, seakan dunia pun keliru menghitung hari.
"Kenapa kamu mengorek ini lagi, Ratri?" Suara ibunya pecah, dan ada permohonan di dalamnya. "Sudah selesai. Bara sudah membakarnya. Kalian sudah pulang hidup-hidup. Kenapa—"
"Karena belum selesai, Bu." Ratri menatap ibunya, dan untuk sesaat ia ingin sekali berbohong, ingin sekali membiarkan ibunya menikmati ketenangan yang rapuh ini. Tapi ia tak bisa. "Mas Bara tidak baik-baik saja. Ibu tahu itu. Ibu mendengarnya di selamatan kemarin. Itu bukan Mas Bara yang bicara."
Air mata menggenang di mata ibunya, dan ia tidak membantah. Ia hanya berbalik kembali ke periuknya, punggungnya membungkuk seperti memikul sesuatu yang tak kasatmata.
Malam itu, Ratri menyalin nama-nama dari buku silsilah ke buku catatannya sendiri, baris demi baris, sampai ke nama yang dihapus. Ia menatap coretan hitam itu lama. Seseorang pernah hidup di balik tinta itu. Seseorang yang dibuang dari ingatan keluarga karena ingatannya terlalu menyakitkan, atau terlalu memberatkan. Dan Ratri tahu, dengan keyakinan dingin yang tumbuh tiap hari di dadanya, bahwa untuk memutus apa yang masih melekat pada kakaknya, ia harus menemukan nama yang sengaja dihapus orang itu—dan semua yang mereka kubur bersamanya.