Tapi sebelum Ratri sempat mendatangi kakek warung, justru Bibi Sukma yang lebih dulu bicara.
Bibi Sukma adalah yang paling diam di antara keluarga. Sejak Ratri kecil, tantenya yang bungsu itu selalu seperti dilumpuhkan oleh ketakutan—jarang keluar kamar, jarang bicara, selalu memandang ke kejauhan seperti melihat sesuatu yang tak dilihat orang lain. Selamatan empat puluh hari yang berakhir mengerikan itu seakan menjadi titik patah baginya. Malam itu, setelah para tamu pergi dan rumah kembali sunyi, ia memanggil Ratri ke kamarnya dengan suara nyaris tak terdengar.
Ratri masuk dan menemukan tantenya duduk di tepi ranjang, tangannya meremas-remas selendang, tubuhnya gemetar pelan. Lampu kamar sengaja dibiarkan terang benderang—Ratri menyadari Bibi Sukma selalu tidur dengan lampu menyala.
"Tutup pintunya," bisik Bibi Sukma. "Dan duduk dekat. Aku tidak bisa bicara keras."
Ratri menutup pintu dan duduk di samping tantenya. Bibi Sukma menggenggam tangannya, dan tangan itu sedingin es karena takut, tapi—Ratri memperhatikan dengan lega—masih dingin yang wajar, dingin manusia ketakutan, bukan dingin Bara.
"Aku menyimpan ini terlalu lama," kata Bibi Sukma, matanya menatap lantai. "Sejak aku masih kecil sekali. Lebih kecil darimu sekarang. Aku berjanji pada diriku sendiri akan membawanya ke kubur, karena bapakku—kakekmu—melarang siapa pun menyebutnya. Tapi setelah malam ini, setelah aku melihat... aku melihat dia di wajah Bara..." Suaranya patah. Ia menarik napas, dan memaksakan diri melanjutkan. "Aku tidak bisa diam lagi. Mungkin aku akan mati, mungkin dia akan datang menagihku karena membuka mulut. Tapi aku sudah tua dan aku lelah takut. Dengarkan, Nak."
Ratri menggenggam tangan tantenya lebih erat. "Saya dengar, Bibi."
"Kau tahu cerita keluarga ini," kata Bibi Sukma. "Bahwa bapakku—kakekmu—pergi ke Gandasuli waktu musim paceklik, membuat perjanjian, lalu mulai membayar tumbal. Tumbal pertama yang orang ingat adalah istrinya. Nenekmu. Sarni. Itu yang ditulis di buku harian, kan? Itu yang semua orang percaya: Sarni tumbal pertama."
"Iya," kata Ratri. "Itu yang tertulis."
Bibi Sukma menggeleng pelan, dan air mata mulai mengalir di pipinya yang keriput. "Bukan. Sarni bukan yang pertama, Nak. Ada satu sebelum dia. Satu yang tidak pernah ditulis bapakku di buku mana pun. Satu yang namanya dilarang disebut di rumah ini, dihapus, dibuang dari ingatan keluarga, seolah dia tidak pernah ada."
Ruangan terasa makin dingin. Ratri merasakan jantungnya berdebar. "Siapa, Bibi?"
"Anak pertama." Bibi Sukma menutup mata, dan kata-kata itu keluar seperti darah dari luka lama yang akhirnya pecah. "Bapakku punya seorang anak sebelum kalian semua. Sebelum ibumu, sebelum Hartono, sebelum aku. Anak sulungnya. Aku tidak pernah melihatnya—aku belum lahir waktu itu—tapi aku mendengar ibuku, Sarni, menangisinya diam-diam ketika mengira tak ada yang dengar. Aku menemukan satu foto sekali, waktu aku kecil, foto bayi dalam gendongan. Ketika aku menunjukkannya pada bapak, ia merampasnya, membakarnya di depan mataku, dan memukulku—satu-satunya kali ia memukulku seumur hidup—sambil berkata aku tak boleh, tak boleh, tak pernah boleh menyebut anak itu lagi."
Bibi Sukma membuka mata, dan menatap Ratri dengan ketakutan setua dirinya sendiri.
"Aku selalu mengira bapakku menyembunyikan anak itu karena malu, karena mungkin anak itu cacat, atau lahir di luar nikah, atau hal-hal yang dulu memalukan. Tapi setelah bertahun-tahun, setelah melihat satu per satu keluarga ini hilang, aku mengerti yang sebenarnya. Anak pertama itu bukan disembunyikan karena malu, Nak." Suaranya turun menjadi bisikan yang nyaris tak terdengar. "Anak pertama itu adalah harga perjanjian yang sesungguhnya. Bukan istrinya. Bukan Sarni. Tumbal pertama, yang dibayar bapakku tepat di malam ia pulang dari Gandasuli membawa sekarung emas. Anaknya sendiri. Darah dagingnya yang paling awal. Itu sebabnya namanya dihapus—bukan karena malu, tapi karena bapakku tak sanggup hidup dengan ingatan tentang apa yang ia bayar untuk kekayaannya, di malam pertama itu juga."
Ratri duduk membatu, dinginnya merayap dari ubun-ubun sampai ujung jari. Sebuah nama yang dihapus. Sebuah tumbal sebelum semua tumbal. Sebuah dosa yang lebih tua dari yang tercatat di buku harian mana pun.
"Bibi tahu namanya?" tanya Ratri, suaranya bergetar.
Bibi Sukma menggeleng, dan air matanya mengalir deras sekarang. "Tidak. Itu yang paling menyiksaku. Bapakku menghapusnya begitu bersih sampai tak seorang pun ingat. Bahkan ibuku, kalau menangisinya, tak pernah menyebut nama. Hanya... 'anakku'." Ia menggenggam tangan Ratri dengan kedua tangannya. "Tapi aku merasa, entah kenapa, bahwa nama itu penting. Bahwa selama nama itu hilang, dosa pertama ini tak akan pernah bisa ditebus. Carilah, Nak. Kalau kau benar-benar ingin menyelamatkan kakakmu—carilah nama yang dihapus itu. Aku merasa di situlah semuanya bermula. Dan mungkin, di situ pula, satu-satunya tempat semuanya bisa diakhiri."