Selamatan empat puluh hari kematian kakek digelar lebih lambat dari semestinya—ditunda karena malam Gandasuli, lalu ditunda lagi karena keluarga yang berantakan—tapi akhirnya ibu Bara bersikeras menggelarnya. "Arwah bapak harus dilepas dengan benar," katanya. "Sudah cukup lama ia tertahan."
Maka pendapa joglo dipenuhi tikar dan tamu malam itu. Para tetangga datang, sesepuh desa datang, bahkan kakek tua dari warung kopi datang—bertelanjang dada seperti biasa, bau sirih dan tembakau, matanya yang tajam menyapu seisi rumah seakan mencari sesuatu. Hidangan tumpeng dan ingkung disiapkan. Seorang modin tua memimpin doa, dan suara tahlil mengalir rendah dan khusyuk, mengisi ruangan yang biasanya sunyi dengan kehangatan manusia yang berkumpul.
Ratri duduk di antara para perempuan, tapi matanya tak pernah lepas dari kakaknya.
Bara duduk di barisan depan, di samping Pakdhe Hartono, sebagai cucu lelaki tertua yang hadir. Ia tampak biasa—lelah, pucat, tapi biasa. Ia mengikuti doa, bibirnya bergerak mengucap kalimat-kalimat tahlil bersama yang lain. Untuk sesaat Ratri membiarkan dirinya berharap bahwa malam ini akan lewat tanpa kejadian, bahwa di tengah doa dan kebersamaan, sesuatu yang tinggal di dalam kakaknya akan diam.
Doa mencapai puncaknya. Modin tua mulai membaca dengan suara yang naik, jamaah mengikuti, dan asap dupa mengepul tebal di tengah pendapa. Dan tepat saat itu, tanpa peringatan, semua lampu di rumah padam serentak.
Bukan hanya lampu kristal di pendapa. Semua lampu, di seluruh joglo, mati dalam satu kejap. Gelap total menelan ruangan. Suara doa terhenti, digantikan gumam panik dan seruan kaget. Seseorang menyalakan ponsel. Ibu Bara berseru memanggil nama anak-anaknya. Dalam kekacauan itu, dalam gelap yang pekat, Ratri merasakan bulu kuduknya berdiri, sebab udara berubah—menjadi dingin, dingin yang ia kenal, dingin Gandasuli.
Lalu sebuah suara terdengar di tengah pendapa.
Suara itu keluar dari tempat Bara duduk. Tapi itu bukan suara Bara. Atau—lebih buruk—itu suara Bara, tapi ada suara lain di bawahnya, di atasnya, di sekelilingnya, banyak suara bicara bersamaan, suara tua dan muda dan tak berusia, suara yang pernah Ratri dengar sekali di hutan dan tak pernah ia lupakan.
Suara itu mengucapkan satu kalimat, pelan, dalam bahasa Jawa kuno yang sebagian besar tamu tak mengerti, tapi nadanya saja sudah cukup membuat seisi pendapa membeku. Para sesepuh yang mengerti menjadi pucat pasi. Kakek tua dari warung kopi berdiri tersentak, matanya melebar.
*"Sajiane wis tekan. Nanging dudu kanggo sing wis lunga. Kanggo sing arep teka."*
Ratri tak sepenuhnya paham, tapi ia menangkap cukup. *Sesajinya sudah datang. Tapi bukan untuk yang sudah pergi. Untuk yang akan datang.*
Ponsel-ponsel diarahkan ke tengah pendapa. Cahaya mereka jatuh pada wajah Bara—dan untuk satu detik penuh, dalam cahaya kebiruan yang gemetar itu, semua orang melihatnya. Wajah Bara, tapi salah. Kepalanya miring ke samping, terlalu miring, dengan cara yang tak bisa dilakukan leher manusia. Matanya terbuka lebar tapi gelap, memantulkan cahaya ponsel sebagai dua titik tanpa kehidupan. Dan mulutnya melengkung dalam senyum yang terlalu lebar, senyum yang tak pernah ada di wajah Bara seumur hidupnya.
Lalu lampu menyala kembali, seketika, seterang sebelumnya.
Dan Bara—Bara yang asli—roboh ke lantai, terengah, berkeringat, matanya kembali menjadi mata manusia yang ketakutan dan kebingungan. "Apa yang terjadi?" tanyanya, suaranya serak, suaranya sendiri. "Kenapa kalian semua menatapku begitu?"
Tak seorang pun menjawab. Para tamu mulai beringsut mundur, berbisik-bisik, mengumpulkan keluarga mereka. Doa selamatan tak dilanjutkan; tak ada yang berani. Satu per satu mereka pamit dengan wajah pucat dan langkah cepat, dan dalam waktu setengah jam pendapa yang tadinya penuh kini kosong, hanya tersisa keluarga dan kakek tua dari warung kopi, yang tidak pergi.
Orang tua itu mendekati Ratri di tengah pendapa yang kacau, sementara ibu mereka memapah Bara yang lemas ke kamarnya. Ia menatap Ratri dengan mata yang tahu terlalu banyak.
"Kau sudah tahu, ya," katanya pelan, bukan bertanya. "Yang lain mengira ini sudah selesai. Tapi kau tahu kalian membawanya pulang." Ia mengangguk perlahan, seakan membenarkan sesuatu yang sudah lama ia curigai. "Datanglah ke warungku, Nak. Ada hal-hal tentang kakekmu dan rumah ini yang harus kau dengar dari orang yang masih ingat awal mulanya. Sebelum semua yang ingat sepertiku ikut mati membawa rahasianya."