Surat itu datang lewat tangan Pakdhe Hartono sendiri, tapi ia menulisnya, bukan mengucapkannya—seakan ada hal-hal yang lidahnya tak sanggup membentuk, yang hanya bisa keluar lewat ujung pena di kesunyian malam.
Ia menyelipkannya ke bawah pintu kamar Ratri, dan Ratri menemukannya pagi itu, terlipat dua, ditulis dengan huruf besar bergetar seorang lelaki tua yang jarang menulis surat.
*Ratri,* begitu surat itu dimulai. *Aku tahu kau juga merasakannya. Aku melihat caramu memperhatikan kakakmu. Caramu mencatat di buku kecil itu. Kau pikir aku tidak tahu, tapi aku tua, bukan buta.*
*Aku menulis ini karena aku tak sanggup mengatakannya di depan ibumu. Ia akhirnya bisa tidur. Aku tak tega merampas tidurnya lagi. Tapi kepada kau, yang sudah tahu, aku harus jujur.*
*Yang dulu belum benar-benar pergi.*
*Aku merasakannya, Ratri. Bukan dengan ilmu, aku bukan dukun. Aku merasakannya dengan tulang. Sama persis seperti yang kurasakan setahun lalu, di malam menjelang Danu hilang. Ada bau yang sama di rumah ini. Ada dingin yang sama di udara malam. Ada keheningan yang salah, yang terlalu sunyi, seperti seluruh rumah sedang menahan napas menunggu sesuatu. Aku mengenali rasa itu. Aku menghabiskan bertahun-tahun belajar mengenalinya, karena hanya rasa itu yang dulu memberitahuku kapan harus berdoa lebih keras, kapan harus mengunci anakku di kamar dan menungguinya semalam suntuk.*
*Aku menungguinya. Kau tahu itu. Aku menunggui Danu sampai jam dua belas kurang seperempat. Lalu hening, dan dia tidak ada lagi.*
Tangan Ratri gemetar memegang kertas itu.
*Dan sekarang rasa itu kembali. Tapi kali ini berbeda, dan justru itu yang membuatku tak bisa tidur. Dulu rasa itu datang dari luar, dari arah hutan, seperti badai yang mendekat. Sekarang ia datang dari dalam. Dari dalam rumah ini. Dari arah sayap timur.*
*Aku tahu apa yang kau dan kakakmu lakukan di Gandasuli. Aku berdoa kalian berhasil, sungguh. Tapi aku semakin yakin kalian tidak memutus apa pun. Kalian hanya membawanya pulang.*
Lalu nada surat itu berubah, dan di sinilah Ratri merasakan dadanya sesak, sebab ia bisa membaca duka dan amarah seorang ayah yang kehilangan anak satu-satunya tertumpah ke dalam tinta.
*Aku menyalahkan kakakmu, Ratri. Aku tahu ini tidak adil. Aku tahu Bara mempertaruhkan nyawanya untuk kita semua. Tapi setiap kali aku menatapnya sekarang, setiap kali tangannya yang dingin menyentuh meja makan tempat kursi Danu masih kosong, aku tak bisa menahan pikiran ini: andai ia tidak membakar perjanjian itu, mungkin keadaan tetap mengerikan, tapi setidaknya yang mengerikan itu tetap di luar, di hutan, di tempatnya. Sekarang ia di dalam rumah kita. Di antara kita. Di balik wajah keponakanku sendiri. Dan aku tidak bisa lagi tidur tanpa mengunci pintu kamarku, di rumahku sendiri, dari kerabatku sendiri.*
*Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku ingin kau tahu bahwa kau tidak sendirian dalam mengetahuinya. Dan aku ingin kau berjanji satu hal: kalau saat itu tiba—kalau yang di dalam Bara benar-benar mengambil alih—jangan biarkan rasa sayangmu membuatmu ragu seperti aku ragu setahun lalu. Aku ragu di depan pintu kamar Danu. Aku menunggu terlalu lama. Dan aku kehilangan dia.*
*Jangan ulangi kesalahanku.*
*Pakdhemu.*
Ratri melipat surat itu kembali dan duduk lama di tepi ranjangnya, menatap dinding. Di luar, ia bisa mendengar suara kakaknya di pendapa, bicara dengan ibu mereka tentang hal-hal biasa—tentang panen, tentang cuaca, suara Bara yang biasa, suara kakaknya. Untuk sesaat semua terdengar normal. Untuk sesaat ia hampir bisa berpura-pura tidak ada yang salah.
Lalu ia teringat kalimat terakhir Pakdhe Hartono, dan ia tahu bahwa berpura-pura adalah kemewahan yang tak lagi ia miliki. Ada saatnya nanti—mungkin dekat, mungkin masih jauh—ketika ia harus memilih antara kakak yang ia cintai dan keselamatan semua orang yang ia cintai. Dan ketika saat itu tiba, ia harus sudah siap.
Ia membuka buku catatannya, dan di halaman baru, ia menulis satu kalimat: *Jangan ragu seperti Pakdhe ragu.* Lalu ia menatapnya lama, sampai matanya panas, sebelum menutup buku itu dan menyembunyikannya kembali.