Pakdhe Hartono yang menemukannya, ketika ia naik ke atap untuk memeriksa genting setelah hujan deras semalam.
Ia turun dengan wajah kelabu dan tangan gemetar, dan ia tidak bicara sampai ia duduk di pendapa, sampai ibu Bara menyodorkan air yang tak ia sentuh. Lalu ia berkata, suaranya rendah, "Kepala kerbau itu sudah pindah."
Ratri mengangkat kepala dari buku catatannya. "Pindah bagaimana, Pakdhe?"
"Jimat kepala kerbau di bubungan atap." Pakdhe Hartono menatap tangannya sendiri. "Sejak aku kecil, sejak bapakmu memasangnya, kepala kerbau itu selalu menghadap ke barat. Ke arah hutan. Ke Gandasuli. Aku hafal sekali, sebab dulu aku takut melewatinya dari arah itu, takut matanya menatapku." Ia menelan ludah. "Tadi aku naik. Dan kepala kerbau itu tidak lagi menghadap ke barat. Ia sudah berputar. Sekarang menghadap ke dalam. Ke arah sayap timur rumah."
Ruangan menjadi senyap. Ibu Bara menutup mulut dengan tangan. Sebab semua orang di rumah itu tahu apa yang ada di sayap timur.
Kamar Bara.
Ratri merasakan dinginnya merayap naik. Ia ingat kata-kata Mbah Joyo, yang ia tuliskan rapi di buku catatannya: bahwa jimat kepala kerbau adalah penanda arah—dulu menghadap hutan, ke tempat sang dhanyang bersemayam. Penunjuk arah ke mana kekuatan itu mengalir, ke mana ia terikat. Dan kalau sekarang jimat itu berputar menghadap ke kamar Bara, maka artinya jelas, sejelas jarum kompas yang menunjuk utara: sumber kekuatan itu sudah tidak lagi di hutan. Sudah pindah. Sudah ada di dalam rumah. Di dalam kamar di sayap timur. Di dalam tubuh kakaknya.
"Tidak ada angin semalam yang cukup kuat untuk memutar benda seberat itu," kata Pakdhe Hartono, suaranya nyaris memohon untuk dibantah. "Aku sudah memeriksanya. Tali pengikatnya tidak putus. Kayunya tidak retak. Tidak ada bekas tangan, tidak ada tanda apa pun. Ia hanya... berputar. Sendiri. Menghadap ke dalam."
Bara, yang sedari tadi duduk diam di sudut pendapa, tiba-tiba bangkit. Wajahnya pucat pasi. Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan keluar ke halaman, dan yang lain mengikutinya. Mereka berdiri di tanah, menengadah ke puncak joglo, ke bubungan atap yang menjulang.
Dan di sana, di bawah langit kelabu sehabis hujan, kepala kerbau kayu hitam itu menatap turun ke arah mereka—bukan lagi ke hutan, melainkan ke arah jendela kamar Bara yang gelap. Matanya yang berupa lubang kayu seakan terkunci pada satu titik, sabar dan tak berkedip, seperti penjaga yang menjaga harta yang paling berharga, seperti anjing yang menatap tulang.
Bara merasakan tatapan itu seakan tertuju langsung kepadanya. Ia merasakan sesuatu di dalam dadanya—di tempat yang seharusnya hanya berisi dirinya sendiri—seakan menggeliat senang, seperti sesuatu yang baru pulang ke rumah dan mendapati rumah itu sudah berbalik menghadap kepadanya, mengakuinya, menyambutnya. Selama satu detik yang mengerikan, Bara merasakan dorongan untuk tersenyum, untuk melambai ke arah kepala kerbau itu seperti menyapa sahabat lama. Ia mencengkeram lengannya sendiri sampai kukunya menancap di kulit, melawan dorongan itu, dan dorongan itu surut, meninggalkan rasa mual dan ngeri.
"Turunkan," katanya parau. "Pakdhe, tolong turunkan benda itu. Sekarang."
"Tidak." Suara ibu mereka, tiba-tiba keras, gemetar. Ia menatap kepala kerbau itu dengan ketakutan yang lahir dari pengalaman puluhan tahun. "Jangan disentuh. Bapakku selalu bilang, jimat itu tidak boleh diturunkan kecuali pada saat yang benar, dengan cara yang benar. Kalau salah, kalau sembarangan..." Ia menggeleng cepat. "Ada penjagaan di dalamnya. Menurunkannya sembarangan sama saja membuka pintu yang sekarang masih separuh tertutup."
Maka kepala kerbau itu dibiarkan di tempatnya, menghadap ke dalam, menatap kamar Bara siang dan malam. Dan sejak hari itu, setiap kali Bara masuk ke kamarnya, ia bisa merasakannya menembus genting dan langit-langit—tatapan dingin dari atas, yang tak pernah lepas, yang menungguinya seperti orang menunggui sarang yang berisi telurnya sendiri.