Bara mulai kehilangan potongan-potongan waktu.
Mula-mula kecil saja. Ia berdiri di dapur memegang gelas, dan tahu-tahu ia sudah duduk di pendapa tanpa ingat berjalan ke sana. Ia memulai kalimat kepada ibunya, dan tiba-tiba ibunya sudah pergi dan langit sudah gelap, dan satu jam telah lenyap dari ingatannya seperti ditelan lubang. Ia mengira itu kelelahan. Ia mengira itu sisa trauma. Ia berusaha keras mengira begitu, sebab alternatifnya terlalu menakutkan untuk dipikirkan.
Tapi cermin itu sulit dimaafkan sebagai kelelahan.
Pagi itu Bara berdiri di depan cermin di kamar mandi, mencukur. Air mengalir di wastafel. Ia menatap pantulannya seperti tiap pagi—wajahnya yang lelah, lingkaran gelap di bawah mata, kulit yang makin pucat. Lalu ia menunduk membasuh sabun dari wajahnya, dan ketika ia mengangkat kepala kembali, untuk satu detik yang membuat jantungnya berhenti, pantulan di cermin tidak ikut mengangkat kepala.
Pantulan itu masih menunduk. Lalu, perlahan, terlalu perlahan, ia mengangkat wajahnya—dan ketika wajah itu naik, untuk sepersekian detik itu bukan wajah Bara. Wajah perempuan tua, kulit berkerut seperti kulit kayu, dengan mata hitam total yang tak memantulkan cahaya sama sekali, menatap balik dari dalam cermin. Mulut wajah itu melengkung, terlalu lebar, dan Bara bisa bersumpah ia melihat terlalu banyak gigi di balik bibir itu.
Bara menjerit dan mundur, menabrak dinding kamar mandi. Pisau cukur jatuh berdenting ke lantai. Ketika ia memberanikan diri menatap kembali, cermin hanya memantulkan dirinya sendiri—pucat, berkeringat, ketakutan. Pantulan biasa. Air masih mengalir di wastafel.
Sejak hari itu, ia tak bisa lagi menatap cermin tanpa rasa takut. Dan bukan hanya cermin. Air di baskom, genangan di halaman setelah hujan, kaca jendela yang gelap di malam hari, permukaan teh yang tenang di cangkir—semua benda yang bisa memantulkan menjadi ancaman. Sebab di setiap pantulan, kalau ia menatap cukup lama, ia mulai melihatnya. Wajah lain di balik wajahnya. Penumpang di dalam rumah yang ia kira hanya miliknya sendiri.
Malam-malam menjadi yang terburuk. Bara mulai takut tidur, sebab tidur adalah tempat di mana potongan-potongan waktunya paling banyak hilang. Ia akan memejamkan mata di ranjangnya, dan membukanya kembali untuk mendapati dirinya berdiri di tempat lain. Suatu malam ia terbangun di tengah pendapa, berdiri tegak di bawah lampu kristal yang berdenting pelan, menghadap ke arah barat, ke arah Gandasuli, tanpa ingat sedikit pun bagaimana ia sampai di sana. Kakinya dingin di lantai marmer. Pintu pendapa terbuka lebar, padahal ia yakin tadi sudah dikunci. Dan di ambang pintu itu, angin malam membawa bau lembap tanah dan dedaunan busuk, bau hutan, masuk ke dalam rumah.
Ia berdiri di sana sampai subuh, takut bergerak, takut bahwa kalau ia menutup mata sekejap saja, ia akan membukanya kembali di tempat lain lagi—mungkin di luar rumah, mungkin di jalan setapak menuju hutan, mungkin di tempat yang tak bisa ia kenali sama sekali.
Pagi harinya, Ratri menemukannya masih di pendapa, duduk meringkuk di sudut, mata menatap kosong ke pintu yang terbuka. Untuk sesaat semua kemarahan dan jarak yang tumbuh di antara mereka sejak rekaman itu menguap, dan yang tinggal hanya seorang adik melihat kakaknya hancur.
"Mas," katanya pelan, berlutut di sampingnya. "Mas kenapa di sini?"
Bara menoleh kepadanya, dan ada sesuatu yang menyayat di matanya—ketakutan murni, ketakutan seorang manusia yang mulai tak bisa mempercayai dirinya sendiri.
"Ratri," bisiknya, dan suaranya adalah suara Bara sepenuhnya, tanpa lapisan lain, tanpa senandung, hanya kakaknya yang ketakutan. "Aku rasa ada sesuatu yang salah denganku. Aku rasa... aku rasa ada sesuatu di dalam diriku. Dan aku tidak tahu lagi kapan aku jadi diriku sendiri dan kapan jadi... dia."
Ratri menggenggam tangannya yang dingin, dan untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, kakak-beradik itu kembali berada di pihak yang sama, berdiri bersama di tepi jurang yang sama, menatap ke kegelapan yang sama-sama mereka takuti.