Ratri menginap di balai desa yang dingin, hampir tak tidur, dan kembali ke rumah Mbah Joyo begitu langit memutih.
Dukun tua itu sudah menunggunya, duduk di amben bambu di depan rumah, menghadap matahari yang baru terbit di atas bukit kapur. Cahaya pagi terasa penting baginya, Ratri menyadari sekarang—seakan orang tua itu sengaja memilih saat dan tempat di mana terang paling kuat untuk mengucapkan kata-kata yang harus diucapkannya.
"Duduklah," kata Mbah Joyo. "Dan dengarkan tanpa memotong, karena ini panjang dan aku tak banyak waktu lagi tersisa untuk mengulanginya."
Ratri duduk di tanah di depan amben, dan Mbah Joyo mulai bicara, matanya menatap jauh ke arah bukit.
"Perjanjian pesugihan seperti milik kakekmu," katanya, "bukan benda mati. Ia hidup. Mbah Demang bukan iblis yang tinggal di joglo lama lalu sesekali keluar menagih—itu yang dipercaya orang-orang, dan itu yang dulu kubiarkan kakakmu percaya. Yang sebenarnya lebih buruk. Mbah Demang adalah perjanjian itu sendiri. Lembar kulit, cap darah, kata-kata yang diucapkan di tengah malam—semua itu bukan sekadar tanda perjanjian. Itu tubuhnya. Ia lahir dari kesepakatan, dan selama kesepakatan itu ada, ia ada."
"Tapi kami membakarnya," kata Ratri, lupa pada larangan memotong. "Lembar itu jadi abu. Aku melihatnya sendiri."
Mbah Joyo menatapnya dengan iba yang sama seperti kemarin malam. "Kau membakar tubuhnya yang lama, Nak. Bukan dirinya. Dengarkan." Ia mencondongkan badannya. "Memutus rantai dengan kerelaan—seperti yang kuajarkan—itu memang melepaskan keluargamu dari penagihan. Tapi sebuah perjanjian sekuno dan sekuat ini tak bisa benar-benar dimusnahkan hanya dengan api. Ia harus pergi ke suatu tempat. Dan saat lembar perjanjian terbakar, di detik kuasa dhanyang goyah, ia mencari tempat baru untuk menampung dirinya. Ia mencari rumah."
Ratri merasakan dunianya menyempit ke titik kecil. "Rumah."
"Inang." Mbah Joyo mengucapkan kata itu pelan, dan kata itu jatuh di antara mereka seperti batu di sumur dalam. "Orang yang membakar perjanjian dengan rela, yang dengan mata terbuka menawarkan dirinya—dialah yang paling siap menerima. Sebab kerelaan adalah pintu, Nak. Mbah Demang tak bisa masuk ke tubuh yang menolaknya, tapi tubuh yang sudah merelakan dirinya untuk satu hal, sudah membuka pintunya untuk hal yang lain. Kakakmu menyerahkan dirinya. Ia membuka pintu itu. Dan saat ikatan lama putus, sesuatu masuk lewat pintu yang sudah ia buka sendiri."
Air mata mengalir di pipi Ratri tanpa ia rasakan. "Jadi Bara sekarang..."
"Kakakmu menjadi rumah baru sang dhanyang." Mbah Joyo menundukkan kepala. "Mbah Demang tak lagi menunggu di Gandasuli. Ia tak perlu lagi datang menagih tiap malam Sura dari luar, dari hutan, dengan kabut dan jeritan. Sekarang ia tinggal di dalam keluargamu. Di dalam darah Sastrawijaya. Di balik wajah kakakmu. Itulah kenapa kalian merasa rantai sudah putus—karena penagihan dari luar memang berhenti. Tapi rantainya tidak putus, Nak. Ia hanya berpindah dari luar ke dalam. Dari hutan ke rumah. Dari sesuatu yang menyerang kalian, menjadi sesuatu yang tumbuh dari tengah-tengah kalian."
Untuk waktu yang lama Ratri tak bisa bicara. Matahari naik perlahan di atas bukit kapur, hangat di punggungnya, dan di tengah kehangatan itu ia merasa lebih dingin dari yang pernah ia rasakan.
"Bisa dikeluarkan?" tanyanya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Mbah Demang bisa dikeluarkan dari tubuh Mas saya?"
Mbah Joyo lama tidak menjawab. Ia menatap matahari, lalu menatap tangannya sendiri yang tua dan berbintik, lalu menatap Ratri.
"Membakar perjanjian dari luar sudah gagal," katanya akhirnya. "Sebab sekarang rantai ada di dalam, di dalam orang yang kau cintai. Untuk mengeluarkannya, kau tak bisa lagi sekadar menghancurkan kertas atau membakar lembar. Kau harus menghancurkan sumbernya—asal-usul perjanjian itu, yang lebih tua dari kakekmu, lebih tua dari joglo lama. Dan itu, Nak..." Ia menghela napas panjang. "Itu menuntut harga yang tak lebih ringan dari nyawa. Mungkin lebih berat."
Ratri menggenggam halaman lusuh di tangannya, halaman yang kini ia mengerti sepenuhnya, dan ia tahu bahwa ia tak akan berhenti. Tidak setelah sejauh ini. Tidak ketika yang dipertaruhkan adalah kakaknya sendiri.
"Ajari saya, Mbah," katanya. "Mulai dari awal. Saya akan membayar harganya, berapa pun itu."