Ratri memutuskan ia harus menemui Mbah Joyo.
Bara tidak boleh tahu. Itu bagian tersulit. Sejak pertengkaran soal rekaman, kakaknya menjadi pendiam dan menjaga jarak, dan Ratri tak yakin lagi apakah yang ia ajak bicara setiap pagi adalah Bara sepenuhnya atau bukan. Maka ia menunggu hari ketika Bara mengantar ibu mereka ke pasar kecamatan, lalu berpamitan kepada Pakdhe Hartono dengan alasan mengurus surat-surat di kota, dan menaiki bus tua yang sama yang dulu membawa kakaknya ke pegunungan kapur.
Ia membawa dua hal di dalam tasnya: buku catatan kecilnya, dan halaman tercecer dari buku harian kakeknya—halaman yang selama ini ia simpan terlipat di dompet, halaman yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Perjalanan ke Gunungkidul terasa panjang. Jalanan berliku naik ke bukit-bukit gersang, melewati ladang singkong dan tegalan jagung yang kering. Ratri menempelkan dahinya ke kaca, menatap bayangannya sendiri di jendela bus, dan untuk sesaat—mungkin hanya kelelahan, mungkin bukan—ia merasa bayangannya menatap balik sedikit terlambat, seperti rekaman yang tertinggal sepersekian detik dari aslinya. Ia berkedip, dan bayangannya kembali normal.
Rumah Mbah Joyo persis seperti yang diceritakan Bara: kecil, di lereng bukit gersang, dengan dukun tua yang seakan dipertahankan hidup hanya oleh kemauan. Ketika Ratri mengetuk dan menyebut dirinya adik Bara, mata jernih orang tua itu menyipit, dan ada sesuatu seperti rasa bersalah yang berkelebat di sana.
"Adik," katanya, mempersilakan Ratri masuk ke ruangan remang yang berbau dupa dan akar-akaran kering. "Kakakmu berhasil. Aku mendengarnya. Perjanjian dibakar, kalian keluar dari lingkaran sebelum tengah malam lewat. Seharusnya aku ikut senang." Ia duduk di tikar dengan susah payah. "Tapi kalau kau datang ke sini sendiri, diam-diam, dengan wajah seperti itu—berarti kau tahu sesuatu sudah salah."
Ratri tidak menjawab. Ia membuka dompetnya, mengeluarkan halaman yang sudah lusuh karena terlalu sering dilipat, dan meletakkannya di tikar di depan Mbah Joyo.
"Mas saya menemukan ini tiga minggu setelah kami pulang," katanya. "Terselip di balik sampul buku harian kakek kami. Tolong Mbah baca."
Mbah Joyo mengambil halaman itu. Ia mendekatkannya ke lampu minyak, dan matanya yang tua bergerak menyusuri tulisan tangan kakek Bara. Ratri memperhatikan wajahnya, dan ia melihat sesuatu yang membuat sisa harapan kecil di dadanya padam: warna pada wajah dukun tua itu surut perlahan, dari coklat menjadi kelabu, seperti orang yang membaca surat berisi kabar kematian yang sudah lama ia takutkan.
Mbah Joyo meletakkan halaman itu dengan tangan gemetar. Ia menutup mata sejenak, menarik napas panjang, dan ketika ia bicara, suaranya lebih tua dari sebelumnya.
"Aku takut akan hal ini," katanya pelan. "Sejak dulu. Tapi aku berharap aku keliru. Aku berharap, sekali ini, jalan keluar yang kuberikan benar-benar cukup."
"Mbah tahu," kata Ratri, dan suaranya keras sekarang, marah yang ditahan selama tiga minggu akhirnya mendesak keluar. "Mbah tahu ini mungkin terjadi, dan Mbah tetap menyuruh kakak saya menyerahkan diri. Mbah membiarkan dia membakar perjanjian itu tahu kemungkinan ini ada."
"Aku memberitahu kakakmu satu-satunya cara yang kutahu untuk menyelamatkan keluargamu malam itu," jawab Mbah Joyo, dan tidak ada pembelaan dalam suaranya, hanya kelelahan dan penyesalan. "Dan cara itu memang menyelamatkan keluargamu. Mbah Putri, Wira, Danu—mereka bebas. Tahun ini tak ada yang ditagih dari luar. Aku tidak berbohong tentang itu." Ia menatap Ratri lurus-lurus. "Tapi ada satu hal yang dulu tak kukatakan kepada kakakmu, Nak. Sengaja. Karena kalau kukatakan, ia mungkin tak akan punya keberanian untuk masuk ke hutan itu, dan tanpa keberaniannya, kalian semua sudah mati malam itu."
Ratri merasakan dinginnya menjalar dari tengkuk. "Hal apa, Mbah?"
Mbah Joyo melipat halaman itu pelan-pelan, lalu mengembalikannya ke tangan Ratri, seperti mengembalikan sebuah beban kepada pemiliknya yang sah.
"Datanglah besok pagi," katanya. "Saat ini sudah terlalu malam, dan apa yang akan kuceritakan tak boleh diucapkan setelah matahari tenggelam. Ada hal-hal yang, kalau kau sebut namanya dalam gelap, akan menoleh." Ia menggenggam tangan Ratri, dan tangannya, meski tua dan dingin, masih terasa hidup—tidak seperti tangan Bara. "Bersiaplah, Nak. Sebab apa yang ingin kau dengar besok, sekali kau mendengarnya, kau tak akan bisa kembali tidur nyenyak seumur hidupmu."