Pakdhe Hartono yang pertama menyadarinya.
Ia datang ke pendapa suatu pagi dengan wajah keruh, memegang sebuah amplop dari bank. "Rekening keluarga," katanya kepada Ibu Bara, suaranya rendah seperti menyampaikan kabar duka. "Bapakmu menyimpan deposito besar. Aku cek kemarin. Angkanya turun. Bukan karena ditarik—tidak ada yang menariknya. Turun sendiri. Seakan... menguap."
Ibu Bara mengambil amplop itu dengan tangan gemetar, membaca lembaran di dalamnya, dan wajahnya memucat. Ratri, yang duduk di sudut pendapa, mengangkat kepala.
"Bukan cuma uang," lanjut Pakdhe Hartono. "Kalung emas almarhumah Mbah Putri yang kusimpan di lemari besi—berkurang beratnya. Aku timbang. Tiga puluh gram hilang dari kalung yang tak pernah kusentuh. Cincin-cincin di kotak perhiasan ibumu juga. Bukan dicuri. Mengecil. Seperti lilin yang meleleh tanpa ada apinya."
Ratri ingat kata-kata kakaknya, dulu, sebelum Gandasuli. *Tanpa pesugihan, harta yang datang tak wajar itu mungkin akan pergi sama tak wajarnya.* Dan waktu itu mereka menerimanya dengan lega, sebab kepergian harta berarti perjanjian benar-benar putus. Berarti tak ada lagi yang memberi makan kekayaan ini. Berarti mereka menang.
Tapi sekarang Ratri tahu yang sebenarnya, dan kepergian harta ini tak lagi terasa seperti kemenangan. Terasa seperti kebenaran yang lain. Perjanjian belum putus—ia hanya berubah bentuk. Harta yang dulu mengalir masuk kini mengalir keluar, sebab inangnya bukan lagi seorang kakek pengecut yang serakah, melainkan seorang lelaki muda yang membakar lembar perjanjian dengan tangannya sendiri. Entitas itu tidak butuh lagi memamerkan kekayaannya kepada dunia. Ia sudah punya yang lebih ia inginkan: rumah baru, tubuh yang hangat untuk ditinggali, garis darah yang menyalurkan dirinya ke generasi berikutnya.
Anehnya, di tengah harta yang menyusut itu, ada satu hal yang justru makin baik. Joglo rumah mereka.
Ratri menyadarinya ketika ibunya, suatu pagi, bingung mendapati halaman depan yang biasanya berdebu kini bersih disapu, padahal tak seorang pun mengakui menyapunya. Genting yang bocor di sayap utara, yang sudah berbulan-bulan ditunda perbaikannya, suatu pagi sudah tidak bocor lagi—dan ketika Pakdhe Hartono naik memeriksanya, genting yang retak itu utuh, seakan tak pernah pecah. Kayu jati pendapa, yang seharusnya mulai kusam karena harta yang membiayai perawatannya sudah habis, justru mengilap seperti baru dipoles.
"Rumah ini merawat dirinya sendiri," gumam ibunya suatu sore, berdiri di tengah pendapa, menatap berkeliling dengan campuran kagum dan ketakutan yang sama seperti dulu. "Seperti dulu. Persis seperti dulu."
Hanya Ratri yang mengerti apa artinya. Sebuah rumah tidak merawat dirinya sendiri. Sesuatu merawatnya. Sesuatu yang menyukai rumah ini, yang ingin tinggal di sini, yang menjaga sarangnya tetap rapi dan kokoh sebagaimana laba-laba menjaga jaringnya. Kepala kerbau kayu di atap masih terpasang, masih menatap, dan rumah di bawahnya tumbuh makin indah seiring keluarga di dalamnya tumbuh makin miskin—seakan harta sedang dipindahkan dari rekening dan kotak perhiasan ke dalam kayu dan tiang itu sendiri.
Malam itu, di kamarnya, Ratri menuliskan semua yang ia amati ke dalam buku catatan kecil. Tanggal harta mulai menyusut. Tanggal genting pertama kali memperbaiki diri. Malam-malam ia mendengar senandung. Setiap kali tangan Bara terasa lebih dingin dari hari sebelumnya. Ia tidak tahu apakah catatan ini akan berguna, tapi ia tahu satu hal: ia tidak bisa melawan sesuatu yang ia tak pahami, dan ia harus mulai memahaminya, sendirian, sebelum terlambat.
Di luar jendelanya, di bawah sinar bulan, joglo keluarga Sastrawijaya berdiri megah dan terawat dan terkutuk, lebih indah dari sebelumnya, seindah jebakan yang dirawat dengan penuh cinta oleh sesuatu yang tidak punya hati.