Ratri membeli sebuah alat perekam suara kecil di kota kecamatan, jenis yang dulu dipakai wartawan, yang bisa menyala otomatis bila mendengar suara di kegelapan.
Ia tidak tahu persis apa yang ia harapkan. Mungkin sebagian dirinya masih berharap ia salah—berharap senandung yang ia dengar tiap malam itu cuma buah dari kelelahan dan ketakutannya sendiri, gema dari trauma malam Gandasuli. Berharap, kalau ia merekamnya dan memutarnya kembali siang hari di bawah matahari, lagu itu akan terdengar seperti suara biasa, suara orang mengigau, dan ia bisa menertawakan dirinya sendiri.
Malam itu ia menyelinap ke lorong sayap timur selepas semua orang tidur. Ia meletakkan perekam di atas lemari kecil di depan kamar Bara, di balik vas bunga supaya tak terlihat, lalu kembali ke kamarnya dan berbaring tanpa tidur, jantungnya berdebar seperti orang yang menanti vonis.
Senandung itu datang sekitar pukul satu dini hari.
Ratri membiarkan perekam itu bekerja sampai subuh, lalu mengambilnya diam-diam sebelum siapa pun bangun. Ia membawanya ke kamar mandi, satu-satunya tempat di rumah yang pintunya bisa ia kunci, duduk di tepi bak, dan memutarnya dengan tangan gemetar.
Pertama hanya desis sunyi. Lalu, di menit-menit awal, suara napas Bara yang teratur—orang tidur. Ratri hampir menghela napas lega. Tapi kemudian, di tengah keheningan itu, napas teratur tadi berubah. Melambat. Berhenti sejenak. Dan mulailah senandung itu.
Di rekaman, di bawah cahaya pagi yang masuk lewat jendela kamar mandi, lagu itu justru terdengar lebih buruk daripada di telinga langsung. Sebab Ratri bisa mendengarnya jelas sekarang, tanpa rasa kantuk yang mengaburkan, tanpa kemungkinan ia salah dengar. Itu suara Bara—nada dasarnya suara kakaknya—tapi ada lapisan lain di bawahnya, sangat tipis, seperti suara kedua yang bersenandung setengah ketukan di belakang, suara yang lebih tua, suara perempuan. Dua suara dalam satu mulut, bergerak sedikit tak selaras, dan kombinasi keduanya membuat perut Ratri terasa mual.
Ia mematikan rekaman. Tangannya berkeringat dingin. Sekarang ia tahu pasti. Sekarang tidak ada lagi tempat untuk berpura-pura.
Sarapan hari itu Ratri tidak banyak bicara. Ia menunggu sampai ibunya pergi ke dapur dan Pakdhe Hartono ke ladang, sampai hanya tinggal ia dan Bara di meja makan. Lalu ia meletakkan perekam itu di meja, di antara mereka berdua, dan menekan tombol putar.
Senandung itu mengisi ruangan.
Bara berhenti mengunyah. Wajahnya, yang sedari tadi mengantuk, perlahan berubah—mula-mula bingung, lalu pucat, lalu sesuatu yang lebih dekat dengan ngeri.
"Itu... suara apa?" tanyanya pelan.
"Itu suaramu, Mas," kata Ratri. Suaranya datar, ditahan-tahan supaya tidak gemetar. "Tiap malam. Dari kamarmu. Tengah malam."
"Itu bukan aku." Bara menggeleng, terlalu cepat. "Aku tidak pernah menyanyikan lagu itu. Aku bahkan tidak tahu lagu itu, Ratri. Mana mungkin aku—"
"Aku merekamnya dari depan pintu kamarmu. Tidak ada orang lain di lorong itu malam-malam." Ratri mencondongkan tubuhnya. "Mas, dengar baik-baik. Ada dua suara di situ. Punyamu, dan punya orang lain. Punya... perempuan tua."
Bara mendorong perekam itu menjauh, keras, sampai nyaris jatuh dari meja. "Cukup. Matikan." Wajahnya merah sekarang, bukan karena malu, tapi karena marah—marah yang asing, yang tak pernah Ratri lihat ditujukan kepadanya. "Kenapa kamu merekam aku tidur seperti itu? Kamu mengintai aku? Kakakmu sendiri?"
"Karena aku takut, Mas!" Suara Ratri pecah akhirnya. "Karena sesuatu ikut pulang dari hutan itu, dan aku takut sesuatu itu ada di dalam dirimu, dan tidak ada orang lain yang mau melihatnya kecuali aku!"
Untuk sesaat keduanya hanya saling menatap, dada keduanya naik turun, dan di antara mereka membentang sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya—jurang, retakan pertama dalam ikatan yang malam Gandasuli justru harusnya membuat tak terhancurkan.
"Aku menyerahkan nyawaku untuk keluarga ini," kata Bara akhirnya, suaranya bergetar, dan untuk sesaat ia kembali menjadi kakak Ratri sepenuhnya, terluka dan lelah dan manusia. "Dan sekarang kamu menatapku seperti aku monster."
Ia bangkit dan pergi sebelum Ratri sempat menjawab. Ratri duduk sendirian di meja, perekam masih di tangannya, dan untuk pertama kalinya ia bertanya-tanya apakah, dengan membuka mata, ia justru telah menghancurkan satu-satunya hal yang masih ia miliki.