Tiga minggu telah lewat sejak malam di Gandasuli, dan rumah keluarga Sastrawijaya kembali tenang. Tapi Ratri tidak bisa ikut tenang.
Ia sendiri tidak tahu kapan persisnya rasa itu mulai. Mungkin pada malam ketiga setelah mereka pulang, ketika ia tak sengaja menyentuh punggung tangan kakaknya di meja makan dan menariknya kembali seperti tersengat. Tangan Bara dingin. Bukan dingin biasa orang yang baru mencuci muka, bukan pula dingin tangan yang lama terendam air. Ini dingin yang lain, dingin yang seakan datang dari dalam, dari tempat di mana darah seharusnya hangat tapi tidak.
"Mas," tanyanya waktu itu, mencoba terdengar santai, "tanganmu kenapa dingin sekali?"
Bara mengangkat bahu. "Mungkin kurang darah. Aku capek akhir-akhir ini." Lalu ia tersenyum, senyum yang biasa, senyum kakak yang sudah ia kenal seumur hidupnya. Dan Ratri hampir percaya.
Hampir.
Sebab ada hal lain. Pada malam, ketika rumah sudah gelap dan semua orang mengira semua orang lain sudah tidur, Ratri mendengarnya. Sayup, dari arah kamar Bara di sayap timur. Senandung. Tembang Jawa kuno yang nadanya naik turun seperti tangisan orang tua, lagu yang tak ada irama gembiranya, lagu yang membuat tengkuk Ratri meremang setiap kali ia mendengarnya. Lagu yang sama persis dengan yang ia dengar pada malam mereka pulang dari hutan, malam ketika ia menemukan halaman tercecer di tangan kakaknya.
Halaman itu. Ratri menyimpannya sekarang, terlipat di dalam dompetnya, dan ia membacanya berkali-kali sampai hafal setiap katanya. *Mbah Demang lahir dari perjanjian itu sendiri. Perjanjian tak pernah bisa dibakar habis. Ia hanya berpindah. Yang membakarnya dengan rela bukan memutus rantai. Ia menjadi mata rantai berikutnya.*
Ratri tidak menunjukkan halaman itu kepada siapa pun. Tidak kepada ibunya, yang akhirnya bisa tidur nyenyak dan tertawa lagi setelah bertahun-tahun. Tidak kepada Pakdhe Hartono, yang masih berkabung tapi sudah mulai keluar rumah. Dan tentu tidak kepada Bara. Sebab apa yang akan ia katakan? Bahwa ia curiga kakaknya, yang baru saja menyerahkan dirinya untuk menyelamatkan mereka semua, justru gagal? Bahwa pengorbanan itu sia-sia? Tidak. Ia harus yakin dulu. Ia harus melihat dengan matanya sendiri.
Maka mulai malam itu, Ratri mengamati.
Ia memperhatikan bagaimana Bara, yang dulu paling banyak bicara di antara mereka, kini sering terdiam di tengah kalimat, matanya menatap satu titik di dinding yang tak ada apa-apanya, lalu tersentak seperti bangun dari tidur dan minta maaf karena tidak mendengarkan. Ia memperhatikan bagaimana Bara, yang dulu benci hutan, kini sering berdiri di pendapa menjelang senja, menghadap ke arah barat, ke arah garis hitam pepohonan Gandasuli yang membayang di ujung sawah. Berdiri saja. Diam. Lama sekali.
"Mas lihat apa?" tanya Ratri suatu sore, menghampirinya di pendapa.
Bara berkedip, seperti baru sadar ada orang di sampingnya. "Tidak ada. Cuma... aku suka sorenya." Lalu ia menoleh, dan untuk sepersekian detik—begitu cepat sampai Ratri tak bisa memastikan apakah ia benar-benar melihatnya—ada sesuatu di mata kakaknya yang bukan kakaknya. Sesuatu yang menatap balik Ratri dari balik mata Bara, menilai, mengukur, seperti orang asing yang menengok keluar dari jendela rumah yang bukan miliknya.
Lalu hilang. Dan Bara tersenyum lagi, dan mengajaknya masuk karena udara mulai dingin.
Malam itu Ratri tidak tidur. Ia duduk di lantai kamarnya, punggung bersandar ke pintu, mendengarkan rumah. Lampu kristal di pendapa berdenting satu kali sekitar tengah malam, meski tak ada angin. Ia sudah hafal suara itu sekarang. Dan beberapa saat kemudian, seperti yang sudah ia duga, datanglah senandung itu, mengalir dari kamar di ujung lorong, pelan dan kuno dan salah.
Ratri memejamkan mata. Air matanya menetes tanpa ia kehendaki. Sebab ia tahu, dengan kepastian yang dingin dan mengerikan, bahwa malam di Gandasuli belum berakhir. Bahwa mereka tidak menang. Bahwa sesuatu telah ikut pulang bersama mereka dari hutan itu, dan sesuatu itu sekarang tinggal di balik wajah kakaknya, bersenandung dengan suaranya, menghangatkan diri di rumah yang dikiranya sudah aman.
Dan hanya ia, di seluruh keluarga ini, yang tahu.
Esok paginya, ketika Bara turun untuk sarapan dengan wajah lelah dan mengeluh tidur tidak nyenyak, Ratri menatap tangan kakaknya yang meraih cangkir teh. Uap mengepul dari teh panas itu. Tapi jari-jari Bara, ketika menggenggam cangkir, tetap pucat, dan ketika Ratri menyentuh punggung tangan itu pura-pura mengambilkan gula, dinginnya masih sama. Dingin yang tak mempan oleh teh panas, oleh matahari pagi, oleh apa pun.
"Mas tidur ingat mimpi tidak?" tanya Ratri hati-hati.
Bara mengernyit, mencoba mengingat. "Tidak. Aku tidak pernah ingat mimpi belakangan ini." Ia menyeruput tehnya. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa," kata Ratri, dan ia memaksakan senyum, dan di dalam dadanya ia mulai menyusun rencana untuk membuktikan apa yang sudah ia ketahui sejak tiga minggu lalu.