Kamis berikutnya, Athar mengirim pesan sejak pagi. Ia ingin berbicara pukul sembilan malam setelah urusan di tempat kerja selesai. Syifa membaca pesan itu ketika sedang menunggu Hadi memeriksa barang dan membalas bahwa ia dapat menyisihkan waktu.
Sepanjang hari, mereka hanya bertukar beberapa kalimat. Athar berada di salah satu lokasi yang kini menjadi tanggung jawabnya. Ia mengatakan ada bagian pekerjaan yang harus dibahas bersama sebelum kembali ke tempat tinggalnya di kota. Syifa tidak menanyakan setiap perpindahan. Ia meneruskan urusan toko, lalu pulang ketika pekerjaan yang perlu selesai hari itu sudah ditangani.
Malamnya, Syifa membereskan makan dan mencuci piring lebih cepat. Ia ingin dapat duduk tanpa terus meninggalkan telepon untuk mematikan kompor atau mengambil pakaian yang belum dipindahkan. Pukul sembilan, ia meletakkan ponsel di meja ruang tengah dan membuka buku sambil menunggu.
Sepuluh menit berlalu. Lalu dua puluh. Syifa memeriksa percakapan terakhir mereka, memastikan ia tidak salah mengingat waktu. Ia mengirim pesan menanyakan apakah pembicaraan perlu ditunda. Pesan itu terkirim, tetapi belum dibaca.
Ia berusaha meneruskan buku. Setiap bunyi dari luar rumah membuat tangannya bergerak ke ponsel sebelum ia sadar bahwa layar masih sama. Ada rasa malu karena hal kecil seperti menunggu panggilan dapat mengusik malamnya. Namun ia juga tahu dirinya telah sengaja menyisihkan waktu untuk janji tersebut.
Menjelang pukul sepuluh, Syifa menelepon sekali. Panggilan tidak dijawab. Ia meletakkan ponsel dan menunggu beberapa menit lagi sebelum menulis pesan terakhir malam itu.
*Aku mau istirahat. Besok kalau sudah bisa bicara, kabari. Aku kecewa karena tadi menunggu tanpa tahu rencananya berubah.*
Setelah mengirimnya, Syifa mematikan suara pemberitahuan dan membawa buku ke kamar. Ia tidak ingin menghabiskan sisa malam dengan mencoba menebak siapa yang sedang bersama Athar. Ia ingin mendengar jawaban dari orang yang membuat janji.
Athar baru membaca pesan ketika terbangun Jumat pagi. Pembahasan di lokasi berlangsung sampai larut, dan ia pulang dengan kepala penuh hal yang belum selesai. Ia melihat panggilan Syifa saat sudah berbaring, berniat membalas setelah beberapa menit, lalu tertidur.
Ia duduk dan membaca kalimat tentang menunggu. Ada dorongan untuk mengirim penjelasan panjang mengenai pekerjaan, tetapi ia lebih dulu meminta waktu menelepon. Syifa menjawab setelah bersiap berangkat. Ia masih punya beberapa menit sebelum meninggalkan rumah.
'Aku minta maaf,' kata Athar begitu panggilan tersambung. 'Aku tidak menepati janji dan tidak memberi kabar.'
Syifa diam sebentar. 'Apa kamu baru tahu rapatnya panjang setelah pukul sembilan?'
'Sebelumnya sudah kelihatan akan mundur. Aku seharusnya mengirim pesan waktu itu.'
'Jadi sebenarnya kamu bisa memberi tahu.'
'Iya. Aku menundanya sampai semua selesai, lalu malah tidak menjawab sama sekali.'
Syifa memegang tali tas di pangkuan. Penjelasan itu membuatnya kesal karena kesalahan tersebut dapat dicegah dengan sesuatu yang sederhana. Ia mengatakan bahwa ia mengerti pekerjaan Athar bertambah, tetapi tidak ingin diperlakukan seperti orang yang waktunya selalu tersedia setelah semua urusan selesai.
'Aku tidak meminta kamu meninggalkan pembahasan,' katanya. 'Aku mau bisa menentukan apakah aku masih perlu menunggu.'
Athar mengangguk. Ia menyebut satu perubahan yang dapat dilakukannya: melihat kembali janji pribadi sebelum pembahasan sore dimulai, lalu memberi kabar bila ia sudah mengetahui waktunya tidak mungkin ditepati. Ia tidak menjanjikan seluruh malam berikut akan bebas gangguan.
'Aku juga akan lebih hati-hati memilih jam. Kemarin aku tahu ada pekerjaan di lokasi, tapi tetap menjanjikan waktu seolah semua pasti beres.'
Syifa mendengarkan. Ia belum ingin langsung bercanda atau mengatakan tidak apa-apa. Ia meminta Athar memeriksa apakah rencana pulang akhir pekan masih benar-benar dapat dijalankan sebelum mereka menetapkan pertemuan lain.
'Aku kabari setelah pembicaraan hari ini selesai,' jawabnya.
Syifa menyudahi telepon karena harus berangkat. Mereka tidak bertukar kalimat panjang untuk memastikan hubungan masih aman. Athar mempunyai sesuatu yang perlu diperbaiki, dan Syifa ingin melihatnya pada kejadian berikut.
Jumat sore, kabar datang sebelum Syifa meninggalkan toko. Athar sudah mendapat kepastian dan akan pulang malam itu. Ia menanyakan apakah Syifa masih bersedia bertemu Sabtu sore. Syifa mengiyakan setelah memastikan pekerjaannya dapat diselesaikan lebih dulu.
Pada Sabtu, Athar datang sesuai waktu yang disebut. Ia mengirim pesan sebelum berangkat dari rumah Bagas dan menunggu di teras ketika Syifa sedang mengunci pintu. Mereka berjalan membeli minum di tempat yang dekat, lalu duduk sebentar.
'Aku masih kesal waktu mengingat malam itu,' kata Syifa setelah menerima gelasnya.
'Aku mengerti.'
'Tapi aku senang kamu tadi memberi kepastian sebelum aku menyusun rencana lain.'
Athar mengangguk. Ia tidak menagih agar kesalahan kemarin segera dianggap selesai. Percakapan kemudian beralih pada contoh barang lokal yang sedang dipersiapkan Syifa. Ia bertanya bagian mana yang paling membuatnya bersemangat, dan Syifa mulai menceritakan pilihan yang sudah dapat dilihat bentuknya.
Sesudah mengembalikan gelas, mereka singgah sebentar di tepi sungai. Athar memungut satu batu kecil dan melemparkannya ke bagian air yang tidak dilewati orang. Syifa memperhatikan, lalu menanyakan apakah ia sedang mulai menghitung lagi.
'Baru satu,' jawab Athar.
'Aku tahu kebiasaanmu kalau sedang kesal.'
'Kali ini aku cuma melihat airnya.'
Syifa mengambil satu batu dan mencoba melemparkannya lebih dekat. Percikannya mengenai ujung sepatunya sendiri. Athar tertawa sebelum sempat menahan, lalu mundur ketika Syifa mengangkat alis dan menunjukkan sepatu yang basah sedikit. Ia menawarkan tisu dari sakunya. Syifa menerima sambil tertawa cukup lama, membersihkan ujung sepatu, kemudian berdiri untuk melanjutkan jalan. Mereka tidak menghapus pertengkaran kecil dengan adegan itu. Namun sore tersebut kembali memiliki sesuatu yang dapat diingat selain panggilan yang terlambat, dan Syifa senang masih dapat tertawa di dekatnya.
Mereka pulang ketika sore belum habis. Syifa masih ingin menjalani hubungan itu, termasuk belajar mengatakan ketika suatu hal mengecewakan. Di depan rumah, ia berterima kasih untuk waktunya hari itu. Athar menjawab sambil menyimpan ponsel yang sejak tadi tidak perlu menjadi pengganti kehadirannya.