Tiga pekan setelah kunjungan Bagas ke toko, Syifa berdiri di depan sudut ruang pajang yang kini terisi. Kursi contoh sudah mempunyai beberapa pasangan untuk dijual. Ada pula bangku dan rak kecil dari pembuat lokal yang telah diperiksa bersama Hadi sebelum masuk ke ruang tersebut.
Pembukaannya sederhana. Syifa mengabari beberapa pelanggan yang pernah bertanya, mengundang pembuat barang, dan menyediakan waktu agar mereka dapat melihat langsung. Ia ingin memulai dari jumlah yang sanggup ditangani tokonya. Pembicaraan tentang perbaikan dan penggantian barang telah dilakukan sebelum penjualan dibuka, sehingga kesulitan tidak baru dilemparkan ketika pelanggan kembali.
Hadi berjalan dari satu barang ke barang lain, memastikan petunjuk harga sesuai benda yang diletakkan di dekatnya. Syifa mencoba jalur masuk, berhenti ketika melihat kartu pada satu set kursi dan meja. Kalimatnya dapat membuat orang mengira harga tersebut berlaku untuk semua barang bersama.
'Pak, ini harus diperjelas. Yang dimaksud satu barang, bukan satu set.'
Hadi membaca kartu dan mengangguk. Ia menggantinya sebelum pintu dibuka untuk kunjungan yang mereka tunggu. Syifa membantu memindahkan keterangan lama, lalu meminta seorang pegawai melihat apakah tulisan baru masih menimbulkan arti yang berbeda.
Murni datang membawa makanan kecil. Ia menyerahkannya kepada Syifa, kemudian bertanya tempat paling sesuai untuk meletakkan piring agar tidak mengganggu orang yang ingin memeriksa barang. Syifa menunjukkan meja di ruang belakang dan mengucapkan terima kasih. Athar datang beberapa saat kemudian bersama Bagas.
'Kali ini sudah boleh melihat semua?' tanya Bagas.
'Sudah. Tapi kalau ada yang terasa kurang, tetap bilang,' jawab Syifa.
Pembuat kursi menyapa mereka dan menjelaskan bagian yang dapat disesuaikan untuk pesanan berikutnya. Syifa membiarkan percakapan itu berlangsung sambil memastikan pelanggan mengetahui barang yang sudah tersedia dan barang yang perlu dipesan lebih dulu. Ia tidak ingin keinginan memenuhi ruangan membuat waktu pengerjaan terdengar lebih singkat daripada kenyataannya.
Pelanggan yang dahulu bertanya tentang dudukan berbeda ikut datang. Ia mencoba satu kursi dan membandingkannya dengan contoh yang diingat. Syifa mendengarkan kebutuhannya, lalu mencocokkan ukuran yang dibawa. Setelah berbicara dengan pembuat, mereka menyepakati pesanan yang dapat dijalankan. Hadi membantu mencatat keterangan barang serta waktu penyerahan sebelum pembayaran diterima.
Syifa mengamati pelanggan itu membaca kembali rincian yang disiapkan. Ada pertanyaan tentang warna, lalu satu koreksi kecil pada cara menulis ukuran. Ia menjawab sampai jelas sebelum menyerahkan salinan yang dibutuhkan. Pesanan pertama untuk ruang baru itu akhirnya menjadi pekerjaan yang benar-benar harus mereka tunaikan.
Pengunjung lain membeli sebuah rak kecil yang sudah tersedia. Hadi memeriksa permukaan sekali lagi, lalu menyiapkan pembungkus agar barang aman dibawa. Pembuatnya melihat dari dekat dan menyampaikan satu cara memegang bagian yang paling kuat ketika mengangkat. Rak tersebut keluar bersama pembelinya setelah urusan pembayaran selesai.
Menjelang siang, Syifa menyampaikan terima kasih kepada orang-orang yang membantu. Ia menyebut Hadi, para pegawai, dan pembuat barang yang bersedia memperbaiki contoh sebelum menjualnya. Ia tidak menceritakan ulang pengkhianatan Ryan atau menjadikan hari itu bukti bahwa hidupnya sudah mengalahkan seseorang.
Bagas mendekat ketika suasana lebih sepi. Ia mengatakan perubahan sudut toko membuat barang lebih mudah dilihat daripada saat ia pertama datang. Syifa tertawa dan mengingatkan bahwa pertanyaan tentang tinggi meja ikut membuatnya lebih berhati-hati.
Murni hanya sempat tinggal sampai sebagian makanan habis. Ia berpamitan karena masih punya urusan di rumah. Syifa mengantarnya sebentar, lalu kembali menerima pertanyaan pelanggan berikutnya. Athar tetap di dekat ayahnya, membantu bila diminta dan memberi jalan ketika pekerjaan memerlukan orang yang lebih memahami barang.
Sore hari, setelah tamu yang diundang pulang, Syifa duduk sebentar di ruang belakang. Kakinya pegal karena lebih lama berdiri daripada yang disadarinya. Athar membawa dua gelas air dan meletakkan satu di depannya.
'Kamu sempat makan?' tanyanya.
'Beberapa potong tadi. Ternyata tidak cukup.'
'Aku juga mulai lapar. Mau cari makanan setelah toko selesai?'
Syifa mengangguk. Ia masih harus memeriksa pesanan bersama Hadi sebelum pergi. Athar menyanggupi menunggu dan kembali membantu Bagas membawa barang yang hendak dibawanya pulang. Syifa mendengar mereka berbicara di luar, lalu membuka catatan yang perlu dilihat bersama pegawainya.
Ada penjualan yang sudah selesai dan ada pesanan yang baru dimulai. Syifa membedakannya sebelum menutup catatan. Ia meminta Hadi memeriksa kesiapan penyerahan berikut, termasuk menghubungi pembuat bila ada perubahan yang memengaruhi janji kepada pelanggan.
Ketika akhirnya keluar, Athar sudah kembali setelah mengantar Bagas pulang dengan mobilnya. Mereka berjalan menuju tempat makan yang dipilih bersama. Syifa menceritakan pertanyaan pengunjung yang paling tidak disangkanya, sementara Athar tertawa melihat semangatnya muncul kembali setelah beberapa menit duduk.
Ia senang dapat merayakan pekerjaan bersama orang yang kini menjadi pasangannya. Tidak ada keputusan hubungan baru yang perlu diulang sore itu. Mereka sudah memilih pada hari di sungai; sekarang ada satu keberhasilan kecil yang ingin dibagikan sambil makan sebelum kembali menghadapi pekerjaan pada hari berikutnya.
Di tempat makan, Athar hampir memesan dua porsi yang sama sebelum teringat untuk menanyakan pilihan Syifa. Perempuan itu memilih lauk berbeda dan meminta sambal dipisahkan. Athar mengangguk, kemudian mengubah pesanannya sendiri.
'Kamu juga mau ganti?' tanya Syifa.
'Aku baru sadar dari tadi mengikuti pilihan orang. Sekarang baru sempat memikirkan makan.'
Syifa tertawa dan menyandarkan punggung. Ketika pesanan datang, ia sempat menatap piring terlalu lama, masih memikirkan satu pertanyaan pelanggan yang belum selesai dijawab. Athar menggeser gelas mendekat dan menunjuk makanannya dengan sendok.
'Yang ini sebaiknya diurus sebelum dingin.'
Ia mengangguk, mulai makan, lalu berhenti membicarakan toko untuk mendengar kejadian lucu dalam perjalanan Athar pulang semalam. Mereka tertawa ketika ia menirukan dirinya yang salah mengambil pintu keluar tempat singgah. Syifa menyadari bahunya sudah tidak setegang siang tadi. Ia meletakkan sendok dan menghabiskan air di gelasnya. Sesudah makan, ia meminta berjalan pelan menuju kendaraan, menikmati waktu yang masih ada sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing.