Bagas turun dari mobil Athar pada Sabtu menjelang siang. Ia berhenti sebentar di depan toko untuk melihat barang yang ditata dekat pintu, kemudian masuk setelah Syifa menyapanya. Hadi sedang menerima kiriman kecil di sisi lain dan mengangkat tangan untuk membalas salam.
'Jadi ini tempat kursi yang diceritakan itu?' tanya Bagas.
Syifa tersenyum. 'Contohnya sudah kembali kemarin. Masih saya periksa sebelum ditawarkan.'
Ia mengajak mereka melihat kursi yang kini diletakkan dekat meja, terpisah dari barang yang sudah siap dijual. Hadi telah memeriksa sambungannya. Syifa masih ingin mencoba bagian permukaan dalam cahaya berbeda dan memastikan hasil yang diterimanya memang sesuai pembicaraan dengan pembuat.
Bagas berdiri di samping kursi. Syifa mempersilakannya mencoba duduk bila ingin. Lelaki itu duduk, menaruh tangan pada sandaran, lalu melihat meja di depannya.
'Kalau untuk meja di rumah saya, sepertinya terlalu rendah.'
Syifa mendekat. Bagas menjelaskan tinggi meja yang biasa dipakainya. Ia tidak tahu ukurannya dengan pasti, tetapi dapat menunjukkan perbedaan yang dirasakan ketika meletakkan siku. Syifa mengambil alat ukur, mencatat tinggi dudukan, lalu mengatakan kecocokan harus diperiksa bersama ukuran meja sebelum orang memesan.
'Jadi belum tentu kursinya salah,' ujar Athar.
'Belum tentu cocok untuk setiap rumah juga,' jawab Syifa.
Bagas bangkit dan menyerahkan tempat kepada Athar. Pria itu mencoba sebentar, kemudian mengusap bagian sandaran yang dahulu ditunjukkan Syifa. Permukaannya kini lebih halus. Syifa tetap memeriksa sendiri setelah ia berdiri, lalu menyatakan perbaikan tersebut sudah memenuhi bagian yang dimintanya.
Hadi datang membawa catatan pelanggan yang sebelumnya bertanya tentang dudukan berbeda. Syifa meminta ia menghubungi pelanggan untuk menawarkan melihat contoh yang sudah diperbaiki. Mereka belum akan menerima uang sampai pilihan dan ukuran yang diinginkan cukup jelas.
Bagas mendengarkan sambil melihat ruang kosong di sampingnya. Ia bertanya apakah bagian tersebut akan dipakai khusus untuk produk lokal. Syifa menjelaskan bahwa ia ingin mencobanya dalam jumlah yang dapat diperiksa, lalu melihat tanggapan pembeli. Ia masih harus membicarakan cara menangani barang yang perlu diperbaiki setelah terjual.
'Orang tuamu dulu juga hati-hati kalau menerima barang,' kata Bagas. 'Saya senang kamu melihatnya sendiri sekarang.'
Syifa menunduk sejenak. Ia pernah menyerahkan hampir seluruh urusan toko kepada Ryan karena menganggap kepercayaan cukup untuk membuat semuanya berjalan baik. Kini ia belajar membedakan percaya kepada orang dengan meninggalkan hak untuk bertanya.
Mereka duduk di ruang belakang setelah Hadi kembali bekerja. Syifa membawa minum dan menanyakan kabar di rumah Bagas. Percakapan itu mengalir menuju tugas Athar yang baru disetujui Satria.
'Kata Athar, akan ada perjalanan tambahan,' ujar Syifa. 'Kami masih menunggu jadwal pastinya.'
Bagas menatap putranya. 'Jangan semua dikerjakan sendiri sampai lupa mengabari.'
'Sudah dibagi dengan tim, Yah.'
'Ayah juga bicara soal di rumah.'
Athar tertawa pendek. Ia mengatakan akan memberi tahu Bagas bila tidak dapat pulang sesuai rencana. Syifa mendengarkan, merasa lega bahwa kebutuhan memberi kabar tidak dianggap hanya urusan seorang perempuan yang terlalu banyak menunggu.
Bagas kemudian bercerita bahwa Athar sejak kecil sering mencoba menyelesaikan sesuatu tanpa meminta bantuan. Ada rasa bangga dalam suaranya, tetapi ia juga mengaku kadang terlambat mengetahui anaknya sedang kesulitan. Athar menatap gelas dan tidak langsung menanggapi.
Syifa tidak menuntut cerita itu diteruskan. Ia bertanya apakah Bagas ingin melihat beberapa barang lain yang tadi diperhatikan. Lelaki itu berdiri dan mengikuti ke ruang depan, memberi Athar kesempatan menutup percakapan keluarga tanpa harus menjawab di hadapan mereka semua.
Di dekat ruang pajang, satu meja perlu digeser agar jalan ke contoh kursi lebih lapang. Syifa menunggu sampai Hadi selesai melayani pelanggan sebelum mengajaknya memindahkan meja. Athar menawarkan membantu bagian yang dapat diangkat berdua. Athar sempat memegang sisi meja sebelum Hadi kembali. Ia mencoba memperkirakan beratnya, lalu hendak mengangkat satu ujung agar dapat digeser. Syifa mengingatkan ada barang yang belum diturunkan dari permukaan.
'Tunggu dulu. Kita tidak sedang lomba,' katanya.
Athar melepaskan pegangan dan tertawa mengakui dirinya terlalu cepat bergerak. Ia membantu Syifa mengangkat barang satu per satu ke tempat aman. Bagas memegang sebuah benda kecil sampai Syifa menunjukkan tempat meletakkannya. Mereka menunggu Hadi selesai melayani, lalu menanyakan arah yang paling mudah untuk memindahkan meja tanpa menggores lantai.
Hadi menunjukkan bagian kaki yang sebaiknya diangkat bersama. Athar mengikuti arahannya dan menyesuaikan pegangan. Kali ini ia menunggu hitungan sebelum bergerak. Syifa mundur untuk memberi jalan, memastikan tidak ada orang masuk ke jalur yang sedang dipakai.
Setelah tempatnya siap, Athar dan Hadi menggeser meja bersama, sementara Syifa mengawasi jalur yang sudah dikosongkan lebih dulu.
Bagas memeriksa apakah jalur yang baru dapat dilewati tanpa menyenggol kursi. Ia mencoba berjalan dari pintu, lalu memberi tahu Syifa bahwa tempat itu sekarang lebih mudah dilihat. Syifa mengembalikan satu benda pajang dan memilih membiarkan bagian lain kosong agar pembeli dapat memeriksa sambungan serta permukaan barang.
Menjelang pulang, Bagas menanyakan apakah mereka boleh datang lagi ketika ruang tersebut dibuka. Syifa mengangguk, tetapi mengatakan waktunya belum ditetapkan. Ia masih menunggu pembicaraan dengan pembuat barang dan hasil percobaan yang pertama.
'Kalau sudah jelas, saya kabari, Pak.'
Bagas menyanggupi. Ia kembali ke mobil Athar setelah berpamitan kepada Hadi. Athar berhenti sebentar di dekat Syifa, mengatakan ia akan mengantar ayahnya pulang lebih dulu dan beristirahat di rumah.
'Aku senang kamu datang,' ujar Syifa.
'Ayah juga senang. Aku bisa lihat dari banyaknya pertanyaan.'
'Pertanyaannya berguna. Aku hampir hanya memikirkan bentuk, padahal meja orang beda-beda.'
Athar membersihkan telapak tangannya sebentar, lalu mengambil kunci mobilnya. Athar tersenyum dan mengucapkan sampai nanti. Syifa menunggu mobil keluar, lalu kembali ke dalam. Di sudut yang baru dirapikan, kursi contoh berdiri tanpa tulisan seolah sudah terjual. Ia menyentuh sandarannya sekali lagi, kemudian mengajak Hadi menentukan apa yang perlu ditanyakan kepada pembuat sebelum percobaan kecil itu menjadi bagian tetap dari tokonya.