Pada Rabu pagi, Satria memanggil Athar sebelum rapat berikutnya dimulai. Di mejanya sudah ada catatan pekerjaan dari dua lokasi yang selama ini memerlukan koordinasi terpisah. Ia ingin Athar memegang penghubungnya, memastikan kebutuhan barang, waktu pengiriman, dan jawaban dari pihak terkait tidak terus saling menunggu.
Athar membaca halaman yang disodorkan. Tugas itu masih berhubungan dengan pekerjaannya sekarang, tetapi rentang orang dan tempat yang harus dihubungi bertambah. Ada kunjungan yang tidak dapat digantikan hanya dengan menerima foto melalui pesan.
'Saya perlu tahu bagian yang dapat diputuskan langsung dan yang harus dibawa kembali kepada Bapak,' katanya.
Satria menjelaskan batasnya. Athar dapat menyusun urutan pekerjaan bersama tim, tetapi keputusan biaya di luar yang telah disetujui tetap harus diperiksa. Ia juga tidak akan mengerjakan semua pemeriksaan seorang diri. Ada orang di tiap lokasi yang harus memberi informasi dan menjalankan bagiannya.
Athar menanyakan perjalanan. Beberapa pertemuan akan dilakukan di kota tempatnya bekerja, sementara sebagian membutuhkan keberangkatan ke lokasi lain. Jadwalnya tidak selalu jatuh pada hari yang sama. Ia harus mengatur pekerjaan lama agar tidak hanya menumpuk di meja ketika ia sedang pergi.
'Saya boleh meninjaunya dulu sebelum menjawab?'
'Tentu. Beri saya jawaban Jumat. Kalau ada bagian yang belum jelas, tanyakan sekarang atau kirim setelah kamu memeriksanya.'
Athar membawa catatan itu ke mejanya. Ia membuka daftar pekerjaan yang sedang dipegang, menandai bagian yang sudah hampir selesai dan bagian yang tetap membutuhkan dirinya. Kesempatan baru itu menarik. Ia menyukai pekerjaan yang membuat persoalan terlihat lebih utuh, tetapi tahu perjalanan tambahan akan memotong waktu yang selama ini dapat dipakainya untuk pulang kampung.
Menjelang sore, ia berbicara dengan rekan yang akan menerima sebagian urusan hariannya bila penugasan baru jadi diambil. Mereka menemukan satu pekerjaan yang tidak dapat begitu saja diserahkan tanpa penjelasan. Athar menyediakan waktu untuk menyusun bahan dan membahasnya sebelum berangkat ke lokasi mana pun.
Ia pulang lebih lambat daripada biasanya, tetapi belum melewati janji apa pun dengan Syifa. Ia mengirim pesan menanyakan apakah malam itu mereka dapat berbicara sebentar. Syifa membalas setelah selesai mengurus toko. Dua kursi yang diganti pemasok baru saja datang, dan ia ingin memeriksanya sampai tuntas sebelum duduk tenang di rumah.
Telepon tersambung setelah makan malam.
'Aku mendapat tawaran tanggung jawab tambahan dari Pak Satria,' kata Athar. 'Masih kupelajari. Aku belum jawab.'
Syifa menanyakan apa yang akan berubah. Athar menceritakan dua lokasi, kebutuhan perjalanan, serta pekerjaan yang perlu diserahkan kepada rekan. Ia juga mengatakan ada bagian yang membuatnya bersemangat. Ia ingin Syifa mengetahui bahwa ini bukan hanya sesuatu yang terpaksa dilakukan karena diminta atasannya.
'Kamu sendiri ingin mengambilnya?' tanya Syifa.
'Aku tertarik. Tapi aku perlu mengatur waktu lebih baik daripada sekarang.'
'Kalau begitu, periksa apa yang memang bisa kamu kerjakan. Jangan menolak hanya karena takut aku kecewa setiap kamu tidak pulang.'
'Aku tetap ingin bertemu kamu.'
'Aku juga. Makanya aku perlu tahu kapan kita benar-benar bisa bertemu, bukan dijanjikan setiap pekan lalu dibatalkan.'
Athar mengangguk meskipun Syifa tidak melihat. Ia membuka catatan di meja dan menyebut bahwa kunjungan pertama belum ditetapkan. Ia akan memberitahu setelah jadwal datang, lalu mereka dapat menyesuaikan rencana yang belum terikat.
'Untuk Sabtu ini bagaimana?' tanya Syifa.
'Aku masih bisa pulang. Ayah ingin melihat toko kalau kamu tidak keberatan. Katanya ingin tahu kursi yang pernah kamu ceritakan.'
'Boleh. Tapi bilang hasil contohnya baru akan kami periksa. Jangan beliau datang mengira ruang produk lokal sudah dibuka.'
Athar tertawa dan menyanggupi. Ia kemudian menanyakan kiriman kursi pelanggan yang sempat bermasalah pada Senin. Syifa mengatakan warna pengganti sudah sesuai dan barang akan dikirim setelah Hadi mencocokkan seluruh pesanan. Biaya tambahan telah dijelaskan kepada pemasok, sedangkan pelanggan tidak diminta membayar akibat kesalahan tersebut.
'Besok aku ingin memastikan barang benar-benar sampai, baru merasa lega,' ujarnya.
'Aku tunggu kabarnya.'
Percakapan berakhir setelah keduanya menyadari hari semakin malam. Athar kembali membaca catatan, menuliskan dua pertanyaan yang masih perlu dijawab sebelum Jumat. Ia tidak mencari kalimat yang dapat membuat semua perubahan terdengar ringan. Perjalanan itu akan memakan waktu, dan Syifa berhak mengetahui bagian yang akan memengaruhi pertemuan mereka.
Kamis siang, salah satu pertanyaannya mendapat jawaban yang mengubah rencana awal. Dua kebutuhan yang tampak dapat diperiksa pada perjalanan sama ternyata belum siap pada waktu bersamaan. Athar menghubungi orang yang bersangkutan, memastikan mana yang dapat ditunda dan mana yang harus didahulukan. Ia kemudian mengusulkan kunjungan terpisah daripada memaksa semua tampak selesai dalam satu hari.
Satria meminta ia menjelaskan akibatnya. Athar menyebut tambahan waktu perjalanan dan pekerjaan yang tetap dapat diselesaikan dari kantor sambil menunggu kesiapan berikutnya. Usul itu diterima untuk diperiksa bersama tim. Athar merasa lebih yakin setelah mengetahui ia boleh menyampaikan kendala, bukan hanya diminta mengatakan mampu.
Ia memperbarui bahan yang akan dibawa pada pembicaraan Jumat, lalu memberi tahu rekan yang menunggu hasilnya. Salah satu urusan lama tetap ia selesaikan sendiri sebelum dipindahkan. Ketika berkas tersebut akhirnya dikirim, ia dapat melihat pekerjaan mana yang benar-benar sudah berkurang dan mana yang masih membutuhkan waktu setelah tanggung jawab baru dimulai.
Pada Jumat, Athar menemui Satria setelah mendapat jawaban atas pertanyaannya. Ia bersedia mengambil penugasan dengan pembagian yang telah dibicarakan. Satria meminta ia menyelesaikan serah terima pekerjaan lama lebih dulu dan memastikan jadwal kunjungan setelah orang di lokasi memberi kepastian.
Athar kembali ke meja membawa pekerjaan yang lebih banyak, sekaligus gambaran yang lebih jelas tentang apa yang harus dilakukan. Ia mengirim pesan kepada Syifa bahwa keputusan sudah dibuat dan rencana Sabtu tetap dapat dijalankan. Balasan datang beberapa saat kemudian: keempat kursi sudah lengkap diterima pelanggan pada Kamis, dan Hadi menunggu mereka di toko esok hari. Athar tersenyum, lalu menyelesaikan urusan yang perlu ditutup sebelum perjalanan pulangnya.