Senin pagi, Hadi meminta Syifa melihat kiriman yang baru diturunkan. Empat kursi makan sudah diletakkan berderet untuk diperiksa sebelum diserahkan kepada pelanggan pada Kamis. Dua kursi mempunyai warna yang sesuai contoh, sementara dua lainnya tampak lebih gelap.
Syifa membawa catatan pesanan dan meminta kursi dipindahkan agar terkena cahaya yang sama. Perbedaan itu tetap terlihat. Ia memeriksa keterangan yang diberikan pemasok, kemudian meminta Hadi menahan pengiriman kepada pelanggan sampai mereka mendapat jawaban.
'Jangan ditukar dengan barang lain dulu. Saya ingin tahu kenapa bisa seperti ini.'
Pemasok awalnya mengatakan perbedaannya hanya karena cahaya. Syifa menunjukkan gambar keempat barang yang berdiri berdampingan dan menyebut apa yang sudah diperiksanya. Ia tidak meninggikan suara, tetapi menolak jawaban bahwa pelanggan mungkin tidak akan memperhatikan.
'Pelanggan memesan empat yang sama. Kalau saya serahkan begini, dia yang harus menerima akibatnya.'
Pembicaraan berakhir dengan janji pemasok memeriksa stok. Syifa meminta waktu jawaban yang jelas, karena ia masih harus memberitahu pelanggan sebelum batas pengiriman. Ia meletakkan telepon dan melihat Hadi sudah memisahkan dua kursi yang bermasalah.
Menjelang siang, kabar datang. Pemasok dapat menyediakan pengganti, tetapi pengiriman gabungan berikutnya baru dapat dilakukan akhir pekan. Pengangkutan terpisah memungkinkan dua kursi pengganti tiba Rabu, dengan biaya yang perlu disepakati. Syifa meminta rincian yang lebih pasti, lalu menanyakan kemungkinan pengangkutan terpisah. Ada biaya tambahan yang harus mereka bicarakan sebelum keputusan dibuat.
Ia duduk bersama Hadi, melihat dua pilihan. Bila menunggu semua barang, pelanggan menerima empat kursi sekaligus dengan jadwal mundur. Bila dikirim terpisah, dua kursi yang sudah sesuai dapat diserahkan lebih dulu, lalu pengganti menyusul setelah diperiksa. Kedua pilihan itu memerlukan persetujuan pelanggan.
Syifa menelepon orang yang memesan. Ia menjelaskan perbedaannya dan menawarkan mengirim gambar agar pelanggan dapat melihat sendiri. Dari seberang, lelaki itu terdengar kecewa. Ia telah menyiapkan ruangan untuk menerima barang Kamis tersebut.
'Saya mengerti, Pak. Karena itu saya menghubungi sebelum mengirim. Saya tidak ingin Bapak baru tahu ketika barang sudah sampai.'
Pelanggan meminta waktu berbicara dengan keluarganya. Syifa menyanggupi dan berjanji menunggu jawaban sebelum menyiapkan pengiriman. Setelah sambungan ditutup, ia menatap daftar pekerjaan lain yang belum disentuh. Satu masalah kecil pada warna telah mengubah sebagian besar paginya.
Ia hendak menelepon Athar untuk mengeluh, lalu mengingat pria itu sedang menempuh perjalanan kembali ke kota. Mereka sudah berjanji berbicara malam. Syifa hanya mengirim pesan singkat agar ia berkabar setelah sampai, kemudian kembali menangani urusan toko.
Sore hari pelanggan memilih menerima dua kursi lebih dulu. Dua pengganti akan dikirim setelah diperiksa, dengan waktu yang disebutkan Syifa berdasarkan jawaban pemasok. Pelanggan meminta agar tidak ada biaya pengiriman tambahan yang tiba-tiba ditagihkan kepadanya. Syifa memastikan bagian yang harus ditanggung toko dan menyepakatinya sebelum pesanan diteruskan.
Hadi menandai dua kursi yang akan lebih dulu keluar. Syifa meminta ia tidak memakai label yang dapat tertukar dengan barang pengganti. Ia sendiri menelepon pemasok lagi untuk memastikan persetujuan tentang pengembalian dua kursi gelap dan biaya yang menjadi urusan mereka. Pekerjaan belum selesai, tetapi kini setiap orang mengetahui apa yang harus dilakukan.
Menjelang tutup, Athar memberi kabar bahwa ia sudah tiba dan menyelesaikan urusan yang perlu dikerjakannya hari itu. Ia menanyakan apakah waktu telepon masih sesuai. Syifa menjawab ia ingin makan dan mandi lebih dulu. Mereka memilih berbicara setelah keduanya dapat duduk tenang.
Malamnya, Syifa menceritakan hari yang dimulai dengan empat kursi. Athar mendengarkan sampai ia selesai menjelaskan bagaimana pelanggan akhirnya memilih pengiriman terpisah.
'Aku sempat ingin bilang semua akan beres Kamis,' katanya. 'Padahal aku belum tahu barang penggantinya datang kapan.'
'Kamu akhirnya tidak menjanjikannya.'
'Iya. Tapi tetap tidak enak mendengar dia kecewa.'
Athar mengatakan ia juga sering harus menyampaikan hal yang tidak ingin didengar orang lain dalam urusan pasokan. Ia bertanya apakah Syifa ingin membicarakan pilihan berikutnya atau hanya ingin menceritakan harinya. Syifa memilih yang kedua.
'Aku sudah memutuskan dengan Hadi. Besok aku perlu memastikan keputusan itu benar-benar dijalankan.'
'Kalau begitu, sekarang aku dengar saja.'
Syifa tersenyum dan bersandar pada kursi. Ia menanyakan perjalanan Athar, lalu mendengar cerita tentang keberangkatan sebelum subuh dan tempat berhenti yang ternyata belum membuka makanan. Athar akhirnya harus makan lebih siang daripada yang direncanakan. Syifa tertawa ketika ia mengaku terlalu percaya bisa menahan lapar sampai tiba.
'Kamu dulu tidak selalu mau mendengar jawabanku kalau menolak bantuan,' kata Syifa setelah tawa mereka reda.
Athar diam sebentar, lalu menyebut uang untuk membeli makanan ketika mereka bertemu di sungai pada awal kepulangannya. Ia ingat memaksa Syifa menerima dengan mengatakan tidak akan kembali ke kampung jika pemberiannya ditolak.
'Aku waktu itu merasa sedang berbuat baik,' ujarnya.
'Kamu memang ingin membantu. Tapi aku jadi tidak punya jawaban yang bisa kamu terima selain iya.'
'Aku salah memakai cara itu.'
Syifa menatap gelas di meja. Ia senang hal yang tidak menyenangkan dapat disebut tanpa membuat seluruh perhatian lama berubah menjadi sesuatu yang buruk. Athar mengatakan ia ingin memperbaiki caranya ketika mereka sekarang saling memilih sebagai pasangan. Syifa mengangguk dan mengatakan malam ini ia memang hanya memerlukan seseorang yang mendengar. Di seberang, Athar menjawab bahwa ia masih menyimak. Ia lalu menanyakan bagian yang tadi terlewat tentang keputusan pelanggan, dan Syifa meneruskan cerita tanpa harus membela kemampuannya mengurus toko.
Percakapan pertama setelah mereka memilih berpasangan tidak berisi janji besar. Ada pelanggan yang marah, kursi yang harus dikembalikan, jalan panjang, dan makanan yang terlambat. Namun ketika telepon ditutup, Syifa merasa harinya sudah dibagikan kepada seseorang yang tidak menganggap kesulitan itu kesempatan untuk mengambil alih pekerjaannya.
Ia meletakkan ponsel, memeriksa pesan terakhir dari Hadi tentang barang yang sudah dipisahkan, lalu membalas bahwa sisanya akan diperiksa besok. Setelah itu ia beranjak untuk beristirahat. Kursi pengganti masih memerlukan kerja pada hari berikutnya, dan ia ingin menghadapinya dengan kepala yang lebih segar.