Sabtu yang dijanjikan datang bersama pekerjaan yang harus lebih dulu dituntaskan. Syifa memeriksa pesanan terakhir, memastikan Hadi mengetahui siapa yang akan mengambil barang, lalu meninggalkan toko setelah tugasnya dapat diserahkan. Athar menunggu di depan rumahnya. Mereka berjalan menuju sungai tanpa membawa alasan pekerjaan untuk mengisi sore itu.
Di jalan, Syifa sempat menanyakan perjalanan Athar dari kota. Lelaki itu menjawab bahwa ia tiba malam sebelumnya dan sudah menghabiskan pagi bersama Bagas. Setelah itu mereka berjalan beberapa saat dengan suara langkah di antara sapaan tetangga.
Syifa memilih tempat yang biasa mereka gunakan untuk melihat aliran air. Ia meletakkan tas kecil di dekatnya, lalu duduk. Athar mengambil tempat dengan jarak yang tidak membuatnya perlu bergeser. Ia menunggu ketika Syifa menarik napas dan memperhatikan batu yang sebagian tertutup air.
'Aku sudah memikirkan yang kamu katakan di sini dulu,' ujarnya.
Athar mengangguk. Ia tidak mengulangi pengakuan atau menyebut berapa lama telah menunggu. Syifa menoleh dan menemukan wajah yang siap mendengar, meskipun kedua tangan lelaki itu saling menggenggam lebih erat daripada biasanya.
'Aku ingin menjalani hubungan denganmu sebagai pasangan,' katanya. 'Aku ingin mengenalmu lebih dari sahabat.'
Athar menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum. 'Aku senang mendengarnya.'
'Aku juga ingin bilang bahwa aku belum punya semua jawaban tentang pernikahan. Tapi itu tidak berarti aku tidak tahu apa yang kupilih sekarang.'
'Aku mengerti. Kita sedang memilih berpasangan. Urusan yang lebih jauh kita bicarakan ketika sampai ke sana.'
Syifa mengangguk. Mengatakan pilihannya dengan terang ternyata membuat dadanya lebih ringan. Selama ini ia takut setiap langkah akan dianggap janji untuk seluruh masa depan. Kini ia ingin mengakui perasaan yang sudah tumbuh tanpa berpura-pura masih berdiri di tempat yang sama setelah Athar mengakui perasaannya di sungai.
'Aku tidak memilihmu karena merasa harus membalas pertolongan,' katanya. 'Aku senang mendengar ceritamu. Aku mulai menunggu waktu kita bertemu. Aku juga ingin tahu bagaimana kita menghadapi hari yang tidak menyenangkan.'
Athar tertawa pelan. 'Semoga tidak langsung besok.'
'Kalau besok terjadi, ya kita hadapi. Aku tidak mau menjadikanmu orang yang selalu benar hanya karena kamu baik kepadaku.'
Senyum Athar berubah lebih tenang. Ia mengatakan ada kebiasaan dirinya yang mungkin akan mengganggu: terlalu lama menyimpan kesibukan di kepala, lalu terlambat menyadari seseorang sedang menunggu jawaban. Ia ingin belajar menyampaikannya sebelum Syifa harus menebak.
Syifa mendengarkan tanpa menganggap pengakuan itu jaminan bahwa mereka tak akan pernah bertengkar. Ia juga menyebut kebiasaannya menahan kecewa sampai terlihat lewat sikap. Ada hari ketika ia membutuhkan waktu sebelum bisa bicara, dan ia ingin dapat mengatakan kebutuhan itu dengan jelas.
Mereka menyepakati cara bertemu yang sesuai dengan pekerjaan. Athar tidak selalu bisa kembali setiap akhir pekan. Syifa tetap memegang keputusan toko dan tidak ingin meninggalkannya hanya supaya jadwal mereka sama. Untuk sementara, mereka akan memberi kabar tentang waktu yang benar-benar tersedia, lalu memilih pertemuan yang dapat dijalankan.
'Kalau ada orang bertanya?' tanya Athar.
'Kita tidak perlu mengaku cuma sahabat. Kita memang sedang berpasangan. Tapi rencana besar jangan diumumkan sebelum kita membicarakannya berdua.'
'Aku sepakat.'
Syifa memandang air lagi. Ia tersenyum ketika sebuah daun berputar sebentar di dekat batu, kemudian terbawa arus. Athar menanyakan apakah ia ingin berjalan sebelum pulang. Ia mengangguk dan mengambil tasnya.
Sebelum meninggalkan tepian, Athar merogoh saku untuk memastikan kunci mobilnya masih ada. Ia menemukan benda itu setelah memeriksa saku yang salah dua kali. Syifa memperhatikannya dengan senyum yang semakin lebar.
'Baru tadi bilang senang, sekarang lupa simpan kunci?'
'Aku masih mendengar jawabanmu.'
Syifa tertawa dan memalingkan wajah sebentar. Kalimat sederhana itu membuat pipinya hangat. Ia menunggu Athar menyimpan kunci dengan benar, lalu menyentuh lengannya agar mereka mulai berjalan sebelum sore habis.
'Aku mau dengar cerita perjalananmu setelah kembali ke kota Senin nanti,' katanya.
'Boleh. Malam setelah kerja?'
Syifa mengangguk. Mereka memilih waktu yang memungkinkan keduanya sudah makan. Athar akan memastikan perjalanannya selesai, dan Syifa akan memberi kabar bila ada pekerjaan toko yang belum beres. Janji pertama setelah keputusan mereka terdengar kecil, tetapi Syifa mendapati dirinya sungguh ingin menunggu percakapan itu.
Di perjalanan kembali, mereka melewati rumah Murni. Tetangga itu sedang berusaha menutup pagar yang bergeser. Syifa berhenti untuk menyapa, lalu menanyakan apa yang terjadi. Murni menunjukkan pengikat pada salah satu engsel yang kendur.
Athar meminta izin memeriksa. Ia menahan daun pagar ketika Murni mengambil alat yang tersedia di rumah. Syifa memindahkan dua pot agar jalan masuk lebih lapang, lalu memegang pagar dari sisi lain sesuai petunjuk Athar.
Pengikatnya masih dapat digunakan. Athar mengencangkan bagian yang longgar, mencoba membuka dan menutup, kemudian meminta Murni mencobanya sendiri. Daun pagar kembali bergerak tanpa menyentuh tanah. Murni mengulang sekali lagi sebelum tertawa lega.
'Tadi saya pikir harus diangkat setiap menutup,' katanya.
'Sekarang bisa begini dulu, Bu. Kalau kembali longgar, beri tahu orang yang biasa memperbaikinya,' jawab Athar.
Syifa mengembalikan pot ke tempat yang tidak mengganggu ayunan pagar. Murni menawarkan minum. Mereka menerima dan duduk sebentar di teras, membilas tangan dengan air yang dibawakan. Syifa menyebut bahwa mereka telah memutuskan berpasangan, lalu tersenyum melihat Murni menahan pertanyaan berikutnya.
'Terima kasih sudah cerita,' ujar perempuan itu akhirnya. 'Minum dulu sebelum keburu dingin.'
Athar memandang Syifa di atas gelasnya. Ada rasa gembira yang tidak perlu ditutup dengan candaan. Sesudah berpamitan, mereka melanjutkan jalan menuju rumah Syifa. Athar akan mengambil mobil dan kembali ke rumah Bagas, sementara Syifa ingin beristirahat sebelum hari kerja berikutnya.
Di depan pagar, Syifa mengucapkan terima kasih karena Athar telah mendengar jawabannya tanpa segera meminta jawaban yang lain. Athar mengatakan ia ingin menikmati sore itu sebagaimana adanya. Mereka berpisah dengan janji mengabari setelah sampai rumah masing-masing, membawa hubungan yang kini sudah dipilih dan disebut dengan jelas.