Pada Minggu pekan berikutnya, Syifa mengunci pintu rumah setelah memasukkan wadah makanan ke tas. Athar sudah menunggu di depan sesuai waktu yang mereka sepakati. Ia turun untuk membantu ketika melihat Syifa membawa barang, lalu menanyakan apakah semuanya sudah aman ditinggal.
'Sudah. Ini untuk ayahmu. Tolong jangan dimiringkan.'
Athar menerima tas itu dengan kedua tangan. 'Aku akan memperlakukannya seperti barang penting.'
'Sebaiknya begitu. Kalau tumpah di mobilmu, aku tetap akan bilang kamu yang membawa.'
Ia tertawa dan membukakan ruang agar Syifa dapat masuk. Rumah Bagas masih berada di kampung yang sama. Perjalanan singkat itu tidak cukup untuk menghilangkan seluruh kegugupan Syifa. Ia mengenal keluarga tersebut sejak kecil, tetapi kali ini ia datang setelah mulai memikirkan makna lain dari persahabatannya dengan Athar.
Bagas berdiri di teras ketika mereka tiba. Ia menyapa Syifa dan menanyakan keadaan toko, lalu mengambil tas makanan dari putranya.
'Kamu repot-repot bawa ini?'
'Saya ingin membawa sesuatu. Bapak juga waktu itu mengirim makanan.'
Bagas tersenyum dan mempersilakannya masuk. Ros muncul dari dapur, mengucapkan salam, kemudian menunjukkan tempat Syifa dapat meletakkan tasnya. Tidak ada pertanyaan tentang tanggal pernikahan. Athar rupanya telah menyampaikan permintaannya kepada ayahnya.
Mereka duduk sebentar sebelum makan. Bagas menanyakan contoh kursi yang sempat diceritakan Athar. Syifa menjelaskan bahwa pembuatnya sudah menghubungi Hadi untuk memastikan bagian yang perlu diperbaiki. Ia masih menunggu kesempatan melihat hasilnya. Bagas mendengarkan dengan perhatian yang sama seperti ketika ia menanyakan pekerjaan Athar di kota.
'Kalian berdua kalau sedang bicara kerja, sama-sama lupa minum,' ujarnya sambil menunjuk gelas.
Athar mengambil miliknya. Syifa ikut tersenyum dan meneguk air. Ia merasa lebih mudah bernapas setelah percakapan dimulai dari hal yang memang sedang dikerjakannya.
Saat makanan siap, Ros memanggil mereka ke meja. Syifa hendak membantu membawa piring, tetapi Bagas meminta ia duduk karena hampir semuanya sudah tersedia. Athar kembali ke dapur mengambil satu wadah yang tertinggal, lalu memilih kursi di samping ayahnya.
Percakapan bergerak dari keadaan kampung menuju kenangan yang dibawa Bagas. Ia mengingat Athar yang dahulu pulang dengan pakaian basah setelah bermain di sungai. Syifa menambahkan bahwa lelaki itu sering mengaku hanya berdiri di tepi, padahal bekas air menunjukkan sebaliknya.
'Aku tidak mungkin terus berdiri di situ,' bantah Athar. 'Kalian mengajak masuk.'
'Kamu sendiri yang menantang menyeberang bagian dangkal,' jawab Syifa.
Bagas tertawa. Suara itu membuat Syifa teringat betapa banyak bagian hidup mereka yang sudah saling mengenal sebelum luka perkawinannya datang. Athar pernah menjadi teman yang meminta dibagi makanan dan menemani permainan. Sekarang ia duduk di meja yang sama sebagai orang dewasa yang sedang ditimbangnya dengan cara berbeda.
Ros menawarkan tambahan lauk kepada Athar. Pria itu mengucapkan terima kasih dan mengambil secukupnya. Ia tetap sopan, tetapi Syifa dapat melihat ada jeda singkat sebelum ia menjawab pertanyaan ibu tirinya. Ia tidak berusaha mengisi jeda itu untuk mereka.
Sesudah makan, Syifa membantu mengumpulkan piring. Ros mengajaknya meletakkan barang di dekat bak, lalu mengatakan sisanya akan diurusnya. Syifa kembali ke ruang tengah, tempat Bagas sedang mencari sesuatu yang ingin diperlihatkan kepada Athar. Ia duduk menunggu dan mendengar keduanya membicarakan urusan rumah.
Athar menanyakan satu kebutuhan yang sebaiknya diperiksa sebelum ia kembali ke kota. Bagas mengatakan masih bisa ditangani, tetapi menyebut bagian yang memang memerlukan bantuan. Mereka membicarakannya tanpa memutuskan Syifa harus ikut mengurus.
Bagas kemudian menunjukkan ponsel yang tulisannya terasa terlalu kecil. Athar meminta izin membuka pengaturan, memperbesar tampilan, lalu menyerahkannya kembali untuk dicoba. Bagas membaca satu pesan dan mengatakan ukuran baru lebih nyaman. Namun ketika Athar menawarkan merapikan beberapa hal lain, ayahnya menolak karena sudah terbiasa dengan letaknya.
'Kalau diubah semua, Ayah harus belajar mencari lagi.'
Athar mengangguk dan mengembalikan ponsel tanpa meneruskan perubahan. Ia mengulangi bagian yang baru disentuh agar Bagas tahu cara mengembalikannya bila perlu. Syifa memperhatikan sambil merapikan wadah di pangkuannya. Bantuan itu berakhir pada hal yang diminta, dan Bagas kembali menggunakan bendanya sendiri tanpa harus menyerahkan seluruh keputusan kepada anaknya. Sebelum beranjak, ia memanggil Ros untuk memperlihatkan tulisan yang sekarang lebih mudah dibaca. Ros mendekat, melihat layar sebentar, lalu kembali ke dapur.
Ketika Bagas pergi mengambil barang, Athar duduk di kursi dekat Syifa.
'Kamu nyaman?'
'Nyaman. Terima kasih sudah menyampaikan soal tidak ada acara lain.'
'Ayah mengerti. Aku juga tidak ingin membuatmu datang dengan bayangan berbeda.'
Syifa memandang pintu dapur. 'Aku melihat kamu tadi agak diam waktu bicara dengan Bu Ros.'
Athar mengangguk pelan. 'Ada hal yang masih sulit. Aku bisa makan bersama dan bicara, tapi kadang tetap ingat kejadian dulu.'
'Kamu mau cerita sekarang?'
'Belum. Nanti kalau aku sudah ingin.'
'Baik.'
Athar menatapnya, lalu tersenyum tipis. Ia tampak lega karena jawaban tersebut benar-benar diikuti keheningan, bukan pertanyaan berikutnya. Syifa juga menyadari ia perlu mengenal bagian hidup Athar yang tidak selalu dapat dijelaskan saat diminta.
Menjelang sore, mereka berpamitan. Bagas mengembalikan wadah yang sudah dikosongkan dan mengatakan makanan Syifa disukai. Ros menawarkan membungkus sedikit lauk. Syifa menerima setelah memastikan mereka masih punya cukup untuk malam, lalu mengucapkan terima kasih.
Di perjalanan pulang, Athar menanyakan apakah minggu berikutnya Syifa ingin bertemu lagi. Kali ini Syifa tidak langsung memakai kata sahabat sebagai pagar sebelum menjawab. Ia memikirkan satu sore yang bisa disisihkan dan menyebut Sabtu setelah pekerjaan selesai.
'Aku ingin bicara denganmu lebih tenang,' katanya.
'Tentang apa?'
'Tentang kita. Tapi aku ingin sampai rumah dulu hari ini dan memikirkan kalimatnya.'
Athar mengangguk. Ia tidak mempercepat perjalanan atau meminta jawaban di dalam mobil. Ketika berhenti di depan rumah, ia membantu menurunkan tas dan menunggu Syifa membuka pintu. Syifa mengucapkan terima kasih untuk makan siang itu. Ia masuk membawa wadah makanan serta satu rencana yang dipilihnya sendiri untuk Sabtu mendatang.