Tiga pekan setelah mendengar kabar kelahiran bayi perempuan Sherly, Syifa berdiri di ruang pajang bersama Pak Hadi. Sebuah kursi kayu baru diletakkan di dekat jendela. Kursi itu belum menjadi barang yang dapat mereka tawarkan kepada pelanggan; pemiliknya mengirim sebagai contoh sebelum membicarakan kerja sama lebih jauh.
Syifa mengitari kursi tersebut, memperhatikan sambungan kaki dan bagian bawah dudukannya. Ia menyukai bentuknya yang sederhana. Namun, saat menyusurkan tangan pada tepi sandaran, ia merasakan permukaan yang belum cukup halus.
'Yang ini perlu dikerjakan lagi, Pak.'
Hadi mendekat. Ia memeriksa bagian yang ditunjuk, kemudian mencoba menekan dudukan untuk melihat apakah ada gerakan pada sambungan. Kursi itu tetap kokoh, tetapi satu ujung lapisan pelindung tampak tidak rata ketika terkena cahaya.
'Saya hubungi pembuatnya. Kita minta diperbaiki dulu sebelum menerima pesanan.'
Syifa mengangguk. Ia duduk sebentar untuk merasakan tinggi sandaran, lalu bangkit dan meminta kursi dipindahkan dari jalur pengunjung. Ia tidak ingin seseorang mengira barang itu sudah lolos pemeriksaan hanya karena diletakkan di ruang pajang.
Pembuatnya menjawab panggilan Hadi menjelang siang. Syifa ikut berbicara, menjelaskan bagian yang perlu diperbaiki tanpa mengatakan seluruh contoh gagal. Mereka memilih agar kursi diambil dan dikerjakan kembali. Pembicaraan tentang jumlah barang yang mungkin dijual ditunda sampai hasil perbaikannya dapat dilihat.
Sesudah telepon ditutup, Syifa memandang sudut ruangan yang semula ingin dipakainya untuk produk lokal. Ada keinginan cepat melihatnya terisi. Namun, ia juga tahu pelanggan akan datang kepada tokonya bila ada masalah, bukan mencari orang yang membuat barang tersebut.
'Mulai satu contoh dulu saja,' katanya kepada Hadi.
'Baik. Saya pastikan waktu pengambilannya.'
Sabtu itu Athar datang setelah mengurus keperluan keluarganya. Ia mengabari lebih dulu dan tiba ketika Syifa baru selesai melayani seorang pelanggan. Di tangannya ada kantong makanan yang diminta Bagas untuk disampaikan.
'Ayah bilang kebanyakan dibuat. Kalau kamu tidak keberatan menerima.'
Syifa mengambil kantong itu sambil tersenyum. 'Terima kasih. Nanti aku kirim pesan ke beliau.'
Athar melihat kursi di dekat dinding dan menanyakan apakah itu barang baru. Syifa menceritakan contoh yang masih perlu diperbaiki. Ia menunjukkan tepi sandaran tanpa menyuruh Athar menyentuh bagian yang kasar.
'Kamu tetap mau mencoba menjual produk mereka?'
'Aku mau lihat setelah diperbaiki. Kalau masalahnya bisa diselesaikan, kenapa tidak? Tapi aku belum janji menerima banyak.'
Athar mengangguk. Ia tidak menawarkan membeli contoh itu atau menutup kekurangan yang baru diceritakan. Ia justru menanyakan bagaimana Syifa akan mengetahui apakah pilihan tersebut sesuai dengan pelanggannya.
'Aku perlu bertanya kepada orang yang memang mencari barang seperti ini. Bukan hanya menunggu mereka memuji karena aku yang menunjukkan,' jawab Syifa.
Mereka berjalan ke ruang belakang ketika Hadi menerima pelanggan berikutnya. Syifa mengambil dua gelas dan menuangkan teh. Kantong dari Bagas dibuka di meja, dan mereka memilih beberapa potong makanan untuk dimakan saat itu.
Athar bercerita tentang pekerjaan di kota yang membuatnya baru dapat pulang Jumat malam. Ada urusan pasokan yang perlu diperiksa sebelum ia berangkat. Syifa mendengarkan, sesekali menanyakan hal yang tidak dipahaminya. Kali ini ia ingin tahu bagaimana Athar menghabiskan hari ketika tidak sedang membantunya.
'Kamu suka pekerjaan seperti itu?' tanyanya.
'Ada bagian yang kusuka. Ada bagian yang membuatku ingin meletakkan telepon dan keluar sebentar.'
Syifa tertawa. 'Bagian orang mengubah permintaan setelah barang disiapkan?'
'Itu salah satunya.'
Percakapan mereka berlanjut pada cara menghadapi orang yang meminta jawaban cepat sementara informasi belum lengkap. Athar mengakui pernah terlalu cepat menyanggupi sesuatu, lalu harus meminta bantuan rekan untuk membereskannya. Syifa senang mendengar bagian yang tidak selalu membuat sahabatnya terlihat paling siap.
Ketika Hadi memanggil, Syifa kembali ke ruang depan. Pembuat kursi telah mengirim orang untuk mengambil contoh. Ia menunjukkan bagian yang ditandai, memastikan pesan perbaikannya diteruskan dengan benar, lalu membantu memberi ruang saat kursi dibawa keluar. Athar menunggu di dekat meja dan tidak mengambil alih percakapan.
Seorang pelanggan yang tadi menunggu memperhatikan kursi itu ketika melewati pintu. Ia bertanya apakah bentuk serupa bisa dibuat dengan dudukan berbeda. Syifa menjelaskan bahwa barang tersebut masih contoh yang sedang diperbaiki. Ia mendengarkan kebutuhan pelanggan, lalu meminta izin mencatat cara menghubunginya bila contoh berikut sudah layak dilihat.
Ia tidak menerima uang pemesanan hari itu. Pelanggan tersebut masih perlu melihat hasil dan memikirkan ukurannya. Setelah orang itu pergi, Syifa menyerahkan catatan kepada Hadi agar disimpan bersama urusan contoh, bukan dimasukkan sebagai penjualan yang sudah terjadi. Ia merasa kesempatan itu patut diteruskan, tetapi belum ingin menghitung hasil yang belum diperoleh. Baru setelah percakapan selesai, ia kembali ke ruang belakang tempat Athar menunggu.
Syifa meraih kembali gelas tehnya yang tadi belum habis diminum sejak siang. Athar menyebut ia berencana datang makan di rumah Bagas pada Minggu pekan berikutnya. Ia menanyakan apakah Syifa ingin ikut, jika tidak berbenturan dengan urusan toko.
Syifa menatapnya beberapa saat. Ia mengenal Bagas sejak lama. Namun, undangan bersama Athar sekarang memiliki arti yang berbeda setelah pengakuan di sungai.
'Aku ingin datang,' katanya. 'Tapi aku belum ingin semua orang menganggap sudah ada rencana besar.'
'Aku bisa menyampaikannya kepada Ayah. Kita makan bersama. Tidak ada acara lain.'
'Kalau ada yang berubah, bilang sebelum aku datang.'
'Iya.'
Syifa mengangguk. Jawaban itu tidak lahir dari rasa wajib membalas bantuan Athar. Ia sedang ingin mengenal bagaimana lelaki itu berada di tengah keluarganya, mendengar cerita yang tidak hanya berkaitan dengan luka dirinya sendiri.
Menjelang sore, Athar berpamitan agar dapat kembali ke rumah Bagas sebelum malam. Syifa mengantarnya berjalan perlahan sampai teras toko. Setelah mobil itu menjauh, ia kembali ke ruang pajang dan melihat tempat kosong yang ditinggalkan kursi contoh. Masih ada pekerjaan sebelum ruang tersebut dapat diisi. Untuk pertama kalinya, ia menyukai kesempatan memeriksa sesuatu lebih dekat sebelum memilihnya, tanpa harus menutup pintu sejak awal.