Dua pekan setelah pertemuan mengenai contoh kursi, Sabtu menjelang akhir bulan ketujuh sejak kedatangan Sherly, Ryan menerima telepon dari rumah kerabat istrinya. Ia diminta datang untuk mengantarnya memperoleh pertolongan persalinan. Tas yang sebelumnya disiapkan berada di dekat pintu. Sherly sendiri menyebutkan tempat yang harus dituju sesuai arahan yang diterimanya.
Ryan mengambil kunci dan mengabarkan kepada Dina bahwa ia akan menjemput Sherly lebih dahulu. Ia tidak meminta ibunya datang menggantikan dirinya. Setelah sampai, ia membantu membawa tas, sementara kerabat menemani Sherly keluar. Ponsel dan dokumen pemeriksaan tetap ikut dibawa, tidak tertinggal karena semua orang merasa terburu-buru.
Di tempat pelayanan, mereka mengikuti arahan petugas. Usia kehamilan yang tercatat sudah sekitar tiga puluh delapan minggu. Keterangan itu mengikuti pemeriksaan selama kehamilan, bukan hitungan semata-mata dari tanggal kedatangan Sherly dahulu. Ia menyerahkan dokumen yang diminta, lalu kembali mendekati istrinya ketika diizinkan.
Sherly menggenggam tangannya. Ryan bertanya apakah ia ingin Dina dihubungi untuk datang. Sherly mengangguk, kemudian meminta agar tas diletakkan pada tempat yang masih dapat dijangkau. Setelah kebutuhan itu dipenuhi, ia kembali memusatkan perhatian pada petugas yang sedang membantunya.
Dina tiba dengan langkah cepat. Ia hampir langsung menanyakan keadaan kepada orang pertama yang dilihatnya, tetapi Ryan menjelaskan mereka sedang mengikuti penanganan. Ia menunjukkan tempat menunggu dan menyampaikan kabar yang memang telah diberikan petugas. Tidak ada janji bahwa semua akan selesai dalam waktu tertentu.
Waktu terasa panjang bagi orang yang menunggu. Ryan beberapa kali memeriksa ponsel, lalu menyimpannya ketika Sherly membutuhkan perhatian. Ia mengambil air saat diminta dan menanyakan sebelum memindahkan barang. Bagian-bagian kecil itu tidak menggantikan bantuan tenaga kesehatan, tetapi dapat dikerjakannya sendiri tanpa menyuruh ibunya melakukan semuanya.
Sore hari, bayi perempuan Sherly lahir. Kabar diberikan setelah petugas memastikan hal yang perlu disampaikan kepada keluarga. Ryan mendekat ketika dipersilakan. Ia melihat wajah kecil yang belum dikenalnya, lalu menoleh kepada Sherly yang kelelahan.
'Kamu mau aku ambilkan sesuatu?' tanyanya.
Sherly meminta air dan waktu untuk beristirahat. Ryan mengangguk. Ia tidak langsung mengangkat ponsel untuk mengumumkan kelahiran kepada semua orang. Ketika hendak mengambil gambar, ia bertanya lebih dulu. Sherly mengizinkan foto tertentu untuk keluarga, tanpa menyebarkan keadaan dirinya ke percakapan yang lebih luas.
Dina menangis ketika melihat cucunya. Ia mengusap pipi, lalu mendengarkan penjelasan tentang hal yang boleh dibantu. Ia tidak mengambil bayi dari posisi yang telah diatur hanya karena ingin segera menggendong. Ketika Sherly meminta tas didekatkan, Dina memindahkannya dan menunjukkan tempat barang yang dicari.
Ryan mengurus kebutuhan administrasi yang diarahkan petugas. Ada bagian formulir yang perlu dipastikan keterangannya, sehingga ia kembali bertanya kepada Sherly ketika istrinya dapat menjawab. Setelah selesai, bukti pembayaran dan dokumen disimpan bersama, bukan ditinggal di atas kursi tunggu.
Ia tidak menghubungkan kelahiran itu dengan hasil pemeriksaan kesuburan yang pernah dijalaninya. Perawatan ibu dan bayi hari itu tidak menuntaskan pertanyaan lain lewat asumsi. Ryan berada di sana sebagai suami yang harus menjalankan tanggung jawabnya, mendengar kebutuhan Sherly dan mengikuti arahan yang diberikan.
Malamnya, Sherly mengatakan ia belum ingin menerima banyak kunjungan. Dina mengangguk dan menawarkan membantu memberi kabar bahwa keduanya memerlukan waktu istirahat. Ryan menanyakan siapa yang ingin lebih dahulu diberi tahu. Kerabat yang selama ini menyediakan tempat tinggal masuk daftar pertama.
'Kasih tahu kami masih di sini dulu,' kata Sherly. 'Jangan bilang sudah boleh datang kapan saja.'
Ryan menulis pesan sesuai permintaan. Ia membacakannya sebelum mengirim agar tidak ada ajakan yang tidak dimaksudkan istrinya. Dina keluar sebentar untuk makan setelah memastikan ada yang menemani. Mereka bergantian, bukannya bertiga duduk kelelahan sambil lupa kebutuhan sendiri.
Di rumah, Syifa baru selesai mandi ketika kabar singkat kelahiran itu diterima. Ia membaca pesan tentang bayi perempuan dan keadaan yang sedang dipantau sesuai penjelasan petugas. Ia membalas dengan doa untuk Sherly dan anaknya, tanpa mengirim pertanyaan tentang kemiripan wajah atau meminta foto.
Sesudah meletakkan ponsel, Syifa duduk beberapa saat di tepi tempat tidur. Ada rasa yang tidak sederhana ketika mengingat harapannya dahulu. Ia membiarkan kesedihan itu hadir tanpa mengubah kelahiran seorang anak menjadi peristiwa yang harus dihukum. Tangannya bergerak merapikan ujung sarung bantal sebelum ia bangkit untuk mengambil minum.
Malam itu, Syifa mengabarkan kelahiran tersebut kepada Athar. Syifa hanya menyampaikan bahwa bayi Sherly sudah lahir dan ia merasa sedikit sedih memikirkan kehidupannya yang dulu. Athar bertanya apakah ia ingin ditemani bicara melalui telepon. Syifa memilih berbicara sebentar, kemudian mengatakan ingin beristirahat.
Percakapan ditutup sesuai permintaannya. Tidak ada ajakan untuk segera menikah agar ia tidak merasa kalah. Syifa memadamkan lampu ruang makan dan menyiapkan air di dekat tempat tidur. Besok toko tetap memerlukan perhatian; contoh kursi yang telah dipesan juga masih menunggu penyerahan sebelum dapat dinilai.
Ketika Dina kembali, ia membawa makanan untuk Ryan juga. Ia menanyakan lebih dulu apakah Sherly ingin sesuatu dari yang dapat disediakan, lalu menerima jawaban tanpa menyuruhnya segera menghabiskan banyak makanan. Ryan makan pada waktu yang memungkinkan dan mencuci tangan sebelum kembali mendekat.
Sherly sempat membuka mata untuk menanyakan letak ponselnya. Dina menunjuk tas kecil, mengambilkannya setelah diminta, kemudian mengembalikannya ke tempat yang sama ketika Sherly selesai. Tidak ada pesan pribadi yang dibuka sementara pemiliknya tidur. Ryan memeriksa bahwa nomor kerabat masih dapat dihubungi jika mereka memerlukan barang yang belum terbawa. Setelah itu, mereka membiarkan suasana lebih tenang agar Sherly dapat beristirahat lagi.
Di tempat perawatan, Ryan merapikan kantong barang yang terbuka. Sherly sudah memejamkan mata setelah kebutuhan yang dapat dibantu dipenuhi. Ia duduk kembali pada tempat yang diizinkan, menunggu waktu berikutnya ketika ada yang perlu dilakukan. Anak perempuan itu tidak membawa jawaban untuk seluruh kesalahan orang dewasa. Namun kebutuhannya sejak hari pertama sudah nyata dan tidak dapat ditunda sampai semua orang selesai memikirkan dirinya sendiri.