Menjelang dua pekan setelah percakapan di sungai, Sabtu pagi, Syifa membuka toko bersama Hadi. Seorang pembuat perabot lokal akan datang membawa foto dan ukuran barang yang biasa dikerjakannya. Perkenalan itu bermula dari pertanyaan Syifa mengenai pekerjaan di sekitar kampung, lalu dilanjutkan percakapan tentang contoh yang dapat diperiksa langsung.
Hadi sudah menyiapkan tempat duduk tanpa mengosongkan seluruh area pajangan. Syifa belum memesan banyak barang. Ia ingin mengetahui bahan, hasil pengerjaan, serta bagaimana mereka akan menangani barang yang memerlukan perbaikan sebelum menyebutnya kerja sama tetap.
Pembuat itu tiba membawa kantong berisi potongan contoh bahan dan beberapa foto hasil pekerjaan. Syifa meminta izin memperhatikan bagian sambungan pada gambar. Ada kursi yang tampak menarik, tetapi foto dari depan belum menunjukkan permukaan di belakang sandaran.
'Boleh melihat dari sisi lain?' tanyanya.
Laki-laki itu mencari foto tambahan. Tidak semuanya tersedia. Ia menawarkan membuat satu contoh kursi agar dapat dicoba, dengan ukuran yang mereka sepakati. Syifa menanyakan biaya contoh, waktu pengerjaan, dan apa yang terjadi bila hasilnya belum layak dipajang.
Mereka tidak menyelesaikan pembicaraan hanya dengan berjabat tangan. Hadi mencatat bagian yang sudah disepakati dan membacakannya kembali. Contoh akan diserahkan lebih dulu untuk diperiksa; pembicaraan mengenai jumlah barang berikutnya menunggu hasilnya. Syifa menyetujui biaya contoh dari anggaran usaha setelah memastikan kebutuhan toko yang lain tetap terpenuhi.
Pembuat menjelaskan pilihan tinggi dudukan. Syifa mengambil meteran dan membandingkannya dengan kursi yang tersedia. Ia meminta Hadi mencoba duduk, kemudian mencoba sendiri. Kaki mereka tidak berada pada posisi yang sama.
'Jangan hanya memakai ukuran saya,' kata Syifa. 'Contohnya perlu dicoba beberapa orang nanti.'
Mereka menetapkan ukuran awal untuk satu contoh. Perubahan setelah pemeriksaan akan dibicarakan dengan jelas, termasuk bagian yang merupakan kesalahan pengerjaan dan bagian yang menjadi permintaan baru. Pembuat berjanji mengabarkan perkembangan sebelum waktu penyerahan, bukan baru menjelaskan keterlambatan ketika Syifa sudah menunggu.
Setelah tamu pergi, Syifa meletakkan potongan bahan di ruang yang tidak mudah tertukar dengan barang jual. Hadi mengusulkan menandai tempat calon pajangan, tetapi Syifa memilih menunggu ukuran benda nyata. Mereka cukup mencatat ruang yang mungkin dipakai tanpa memindahkan barang lain hari itu.
Menjelang sore, Athar datang setelah menemui Bagas. Ia memberi kabar sebelum masuk toko, memastikan Syifa tidak sedang menerima tamu. Hadi sedang mengatur pengiriman, sehingga Athar memilih menunggu di sisi yang tidak menghalangi jalan barang.
Syifa menyelesaikan percakapan dengan seorang pelanggan sebelum menghampirinya. Ia menunjukkan potongan bahan, lalu menceritakan rencana satu contoh. Athar bertanya apakah ia ingin pendapat atau hanya bercerita. Syifa mengatakan ia ingin tahu apa yang sebaiknya dicoba ketika kursi sudah datang.
Athar menyebut kenyamanan duduk dan keamanan permukaan yang sering disentuh. Ia tidak menjamin kualitas benda yang belum dilihatnya. Syifa mencatat hal yang berguna, kemudian menyimpan potongan bahan kembali agar tidak terbawa bersama barang pelanggan.
Mereka membeli makanan setelah pekerjaan Syifa selesai. Kali ini Syifa memilih tempat dan mengatakan lebih dulu bahwa ia hanya punya waktu sampai sebelum malam. Ada pekerjaan rumah yang ingin diselesaikannya sendiri. Athar menyetujui tanpa meminta ia memperpanjang pertemuan karena jarang pulang.
Di tempat makan, Athar menceritakan satu kesulitan pekerjaan yang minggu itu membuatnya harus mengubah urutan tugas. Syifa bertanya mengapa ia tidak mengabarkan perubahan lebih awal kepada orang yang menunggu. Athar terdiam, lalu mengakui pertanyaan itu layak ditujukan kepadanya.
'Aku juga tidak suka menunggu tanpa tahu,' katanya. 'Tapi kadang tetap melakukan hal yang sama.'
Syifa tidak menjawab bahwa ia pasti berbeda dari Ryan dalam semua hal. Ia meminta Athar bercerita bagaimana ia memperbaiki keadaan setelah sadar ada orang yang telanjur menunggu. Percakapan berlanjut sampai makanan habis, tanpa meminta Syifa memberi jawaban sebagai pasangan di akhir makan.
'Aku senang mendengar ceritamu yang seperti ini,' kata Syifa ketika mereka bersiap pulang.
'Yang isinya kesalahanku?'
'Yang tidak membuatmu selalu tampak tahu semua jawaban.'
Athar tersenyum. Ia mengatakan besok akan kembali ke kota setelah sarapan bersama Bagas. Perjalanan panjang membuatnya tidak ingin berangkat terlalu sore lalu tiba kelelahan menjelang hari kerja. Syifa mengangguk dan meminta kabar setelah sampai, bukan telepon sepanjang jalan.
Di pagar rumah Syifa, mereka berpisah sesuai waktu yang dibicarakan. Athar kembali ke rumah Bagas. Syifa mencuci tangan, mengganti pakaian, lalu menyelesaikan cucian yang telah disiapkan sebelum berangkat pagi. Ia masih memikirkan jawaban Athar ketika tadi mengakui kesalahannya sendiri.
Di rumah Bagas, Athar memeriksa barang bawaannya sebelum tidur. Ros bertanya apakah ia ingin dibawakan makanan untuk perjalanan. Ia menyebut bagian yang dapat dihabiskannya hari itu, tidak menerima semuanya lalu meninggalkannya di kota sampai rusak. Bagas mengingatkan satu barang yang tadi diletakkan di dekat kursi; Athar memasukkannya ke tas sebelum lupa.
Pagi berikutnya, mereka sarapan tanpa membicarakan kapan Syifa akan datang sebagai calon menantu. Ketika Bagas menanyakan kabarnya, Athar menjawab bahwa toko berjalan dan Syifa sedang mencoba mengembangkan pilihan barang. Ia tidak menyampaikan isi percakapan pribadi di sungai sebagai bahan pembicaraan keluarga.
Setelah berpamitan, Athar memastikan tidak ada barang yang tertinggal, lalu berangkat sesuai rencana. Ros menutup pagar sesudah kendaraan menjauh. Bagas kembali duduk, sementara meja sarapan dirapikan tanpa menunggu anaknya pulang lagi untuk mengurus pekerjaan kecil di rumah itu.
Minggu siang, pesan bahwa Athar sudah tiba di kota masuk setelah Syifa selesai makan. Ia membalas, kemudian membuka kabar dari pembuat kursi mengenai awal pengerjaan contoh. Barang belum selesai dan belum dijanjikan kepada pelanggan. Syifa menyimpan foto perkembangan itu bersama ukuran yang telah disepakati.
Sore harinya ia berjalan ke rumah Murni untuk mengembalikan piring yang dipinjam. Atap tetap tidak menetes pada hujan berikutnya, dan ember sudah lama kembali ke rumah Syifa. Murni menerima piring tanpa mengulang pembicaraan tentang biaya. Mereka berdiri sebentar di teras sebelum Syifa berpamitan, membawa pulang waktu yang masih cukup untuk beristirahat.