Hujan turun menjelang subuh Senin. Syifa terbangun mendengar air menghantam halaman, lalu teringat ember yang masih dipinjam Murni. Ia tidak langsung menelepon. Setelah sarapan dan langit lebih terang, ia mengirim pesan menanyakan keadaan rumah tetangganya.
Murni membalas dengan foto lantai yang kering. Hujan cukup lama, tetapi bagian yang diperbaiki tidak lagi menetes. Mereka masih perlu memeriksa beberapa sudut sebelum mengembalikan meja dan tikar. Syifa menawarkan mampir sebentar dalam perjalanan ke toko, jika mereka memerlukan bantuan mengangkat barang.
Ketika ia datang, suami Murni sudah menggeser meja dari tempat sementara. Mereka memeriksa lantai di bawahnya bersama. Tidak ada genangan baru. Bagian yang pernah basah sudah dibersihkan, dan kain penutup meja kering dapat dipasang kembali setelah permukaan diperiksa.
Murni membentangkan tikar. Salah satu ujungnya masih sedikit lembap, sehingga mereka menjemur bagian tersebut lebih dahulu. Anak Murni datang membawa buku yang sebelumnya dibuka untuk dikeringkan. Halamannya masih bergelombang, tetapi tidak lagi melekat satu sama lain.
'Yang ini boleh ditutup?' tanyanya.
Murni meraba bagian tengah sebelum mengangguk. Syifa membantunya menyusun buku agar lembar yang lepas tidak tercecer. Mereka tidak mencoba menyetrikanya atau melakukan sesuatu yang belum diketahui akan merusak kertas. Anak itu membawa buku ke tempat yang tidak berada tepat di bawah titik kebocoran lama.
Orang yang memperbaiki atap mendapat kabar hasil hujan semalam. Ia meminta Murni tetap mengamati bila terjadi kebocoran pada bagian lain. Suami Murni menyimpan nomor yang dapat dihubungi dan keterangan bahan yang diganti. Biaya yang disepakati sudah dibayar; Syifa menerima kabar penggunaan bantuannya tanpa meminta keluarga itu membuktikan rasa terima kasih setiap kali bertemu.
Ember dikembalikan sesudah dicuci dan dikeringkan. Syifa menaruhnya di dekat pagar rumahnya sebelum melanjutkan ke toko. Murni mengantar hingga jalan dan bertanya apakah pertemuan sore kemarin berjalan baik.
'Kami bicara,' jawab Syifa. 'Aku belum memberi jawaban sebagai pasangan.'
Murni mengangguk. 'Kalau ingin cerita lagi, aku ada.'
'Aku tahu.'
Syifa tidak mengulang seluruh percakapan di sungai. Ia melanjutkan perjalanan dengan ember sudah kembali ke tempatnya dan waktu kerja yang belum terlewat.
Di kota, Athar tiba setelah menempuh perjalanan pulang dari rumah Bagas. Ia mengabarkan kedatangannya sebelum memulai urusan kerja yang telah dijadwalkan. Pesan kepada Syifa hanya menyatakan ia sudah sampai, tanpa menambahkan pertanyaan tentang jawaban yang belum diberikan.
Syifa membacanya ketika ada jeda pelayanan. Ia membalas singkat, lalu berbicara dengan Hadi mengenai pertanyaan pelanggan yang dicatat Sabtu. Pilihan yang tersedia ternyata belum cocok dengan kebutuhan orang tersebut. Syifa memilih memberi jawaban yang sebenarnya daripada memberi keterangan ukuran yang keliru agar barang terlihat sesuai.
Hadi menelepon pelanggan, menjelaskan pilihan dan waktu pencarian lebih lanjut. Pelanggan tidak bersedia menunggu. Catatan permintaan itu tetap disimpan sebagai gambaran kebutuhan yang belum dapat dipenuhi, bukan dipindahkan ke daftar pesanan yang sudah dibayar.
Pada hari yang sama, Ryan menjemput Sherly untuk pemeriksaan sesuai janji mereka. Ia datang pada waktu yang sudah dipastikan, membawa kebutuhan yang disebut sebelumnya. Sherly telah menyiapkan catatan dan menunggu di ruang depan rumah kerabat. Dina tidak ikut karena Sherly sudah mengatakan ingin berangkat bersama Ryan kali ini.
Di ruang tunggu, Ryan menawarkan mengambil air. Sherly menunjuk botol yang dibawanya sendiri dan mengatakan masih cukup. Ia memeriksa giliran sebelum membuka catatan pertanyaan. Ada hal yang ingin ditanyakan langsung kepada tenaga kesehatan, sehingga Ryan menunggu alih-alih memberi jawaban dari perkiraannya sendiri.
Pemeriksaan berlangsung tanpa perubahan mendadak yang dijadikan alasan untuk melupakan persoalan mereka. Ryan mendengar penjelasan tentang kebutuhan kunjungan berikutnya dan menanyakan bagian biaya yang perlu disiapkan. Sherly menyampaikan pertanyaannya sendiri. Setelah selesai, mereka mencatat jadwal lanjutan dan menyimpan dokumen yang diberikan.
Dalam perjalanan kembali, Ryan bertanya apakah Sherly ingin makan sebelum pulang. Ia memilih membawa makanan untuk dimakan di rumah. Ryan berhenti membeli sesuai permintaan, kemudian mengantarnya kembali ke tempat kerabat. Pekerjaan dan waktu istirahat Sherly tetap menjadi pertimbangan, bukan alasan agar ia mengikuti semua rencana suaminya hari itu.
Sebelum turun, Sherly mengatakan bahwa bukti penerimaan pembayaran Reno sudah disimpan bersama keterangan Bu Intan. Tidak ada pembayaran tambahan yang disetujui. Bila ada komunikasi baru, ia akan meneruskannya melalui jalur yang telah dibicarakan. Ryan mengangguk dan tidak menyebut pemeriksaan hari ini sebagai bukti bahwa seluruh hubungan mereka sudah pulih.
Sherly masih duduk sebentar sesudah kendaraan berhenti. Ia bertanya apakah Ryan sudah mengabarkan kepada Dina bahwa pemeriksaan selesai, agar ibunya tidak menunggu tanpa kabar. Ryan mengeluarkan ponsel dan menulis pesan singkat di hadapannya, tanpa meneruskan seluruh catatan kesehatan.
'Apa aku perlu mengirim juga?' tanya Sherly.
'Kalau kamu ingin. Aku sudah memberi tahu yang perlu diketahui untuk hari ini.'
Sherly mengambil kantong makanan. Ryan membawakan barang lain sampai pintu, lalu menyerahkannya kepada kerabat setelah dipersilakan masuk. Ia tidak meminta menunggu hingga malam. Ada pekerjaan yang harus dilanjutkan dan Sherly telah mengatakan ingin tidur siang.
Ketika Ryan berpamitan, Sherly menyebut satu kebutuhan yang terlupa dari daftar tadi. Ryan mencatatnya untuk dibawa pada waktu yang disepakati, bukan menyuruh Dina datang mendadak sebagai pengganti. Setelah pintu ditutup, Sherly meletakkan dokumen pemeriksaan di rak yang mudah dijangkau dari tempat tidurnya dan makan sebelum beristirahat.
Sore menjelang malam, Syifa pulang dan melihat tikar rumah Murni sudah tergelar melalui pintu yang terbuka. Anak Murni duduk mengerjakan tugas di atasnya. Ia melambaikan tangan kepada Syifa, lalu kembali menunduk pada buku.
Di rumah, Syifa menaruh ember yang dikembalikan pada tempat penyimpanan. Ia menutup pintu dapur setelah memastikan tidak ada benda basah tertinggal di ambang. Pesan Athar mengenai pekerjaan baru dibacanya sesudah mandi. Kali ini ia membalas dengan pertanyaan ringan tentang makan siang, kemudian meletakkan ponsel untuk menyiapkan makanannya sendiri. Hari itu berakhir tanpa keputusan baru tentang hubungan, tetapi dengan beberapa pekerjaan yang benar-benar selesai.