Minggu sore, Syifa menutup pagar setelah mengabarkan kepada Murni bahwa ia akan berjalan ke sungai. Athar sudah menunggu di luar, datang dari rumah Bagas sesuai waktu yang dipastikan pagi tadi. Ia tidak membawa kendaraan untuk perjalanan pendek itu. Mereka menyusuri jalan yang pernah dilewati bersama sejak kecil.
Syifa mengenakan sandal yang tidak licin. Ketika bagian jalan menyempit, ia memberi kesempatan orang yang membawa sepeda melewati mereka terlebih dahulu. Athar berhenti di samping tanpa menarik lengannya. Setelah jalan kosong, keduanya melanjutkan langkah hingga suara air mulai terdengar.
Tempat itu masih dapat dikenali meski beberapa bagian tepinya berubah. Syifa memilih duduk pada tanah yang kering, tidak terlalu dekat air. Athar menurunkan kantong berisi minuman dan menawarkannya sebelum duduk di sebelah dengan jarak yang cukup.
'Kamu masih mencari batu kalau ke sini?' tanya Syifa.
Athar menoleh ke tanah di dekat sepatunya. Ada batu kecil yang ujungnya bulat. Ia mengambil satu, memutarnya sebentar, lalu mengembalikannya.
'Kalau sekarang kulempar sepuluh, nanti kamu pikir aku sedang marah.'
'Sedang marah?'
'Tidak. Justru aku takut kelihatan terlalu gugup.'
Syifa tersenyum, tetapi tidak menertawakannya. Ia membuka tutup minuman dan menunggu. Athar menyandarkan kedua tangannya pada lutut, memandang air sebelum kembali menatapnya.
'Aku menyukaimu, Syifa. Sebagai perempuan yang ingin kukenal lebih jauh, bukan hanya teman kecil.'
Ia berhenti setelah kalimat itu. Syifa menunduk pada botol yang dipegangnya. Ada bagian dari dirinya yang sudah memperkirakan arah percakapan ini, namun mendengarnya secara terang tetap berbeda dari menebak alasan di balik setiap perhatian.
'Aku tidak ingin kamu merasa harus menjawab karena aku pernah membantu,' lanjut Athar. 'Kalau kamu tidak menginginkannya, katakan. Aku harus menerima jawaban itu.'
Syifa menggeser botol ke samping, memastikan tutupnya rapat sebelum melepaskannya. Ia ingin menjawab sambil melihat wajah Athar, bukan terus memperhatikan tangannya sendiri.
'Aku senang ada kamu. Tapi itu belum sama dengan aku siap menjadi pasanganmu sekarang.'
Athar mengangguk pelan.
'Aku tidak ingin mengatakan iya hanya karena akhirnya ada orang yang mau mendengarkan,' kata Syifa. 'Aku juga ingin tahu seperti apa kita kalau sedang berbeda pendapat. Selama ini aku sering bertemu kamu ketika aku sedang punya masalah.'
'Kita bisa mulai dari situ. Mengenal yang tidak selalu tentang masalahmu.'
'Jangan dulu membuat jadwal seolah aku sudah menerima.'
Athar menarik napas dan mengangguk lagi. Ia tadi hampir mengubah keinginan menjadi rencana bersama tanpa menunggu Syifa memilih. Ia mengakuinya dengan kalimat singkat, lalu membiarkan hening kembali sebentar.
Seorang anak berlari di jalan setapak, disusul orang dewasa yang memanggilnya agar menjauh dari tepi. Syifa menunggu keduanya lewat sebelum bertanya tentang pekerjaan Athar di kota. Kali ini ia meminta cerita mengenai hari yang biasa, bukan apakah Athar dapat pulang untuk membantunya.
Athar menceritakan pekerjaan koordinasi yang sering membuatnya berpindah dari satu pembicaraan ke pembicaraan lain. Ia harus mengetahui barang yang belum tersedia, waktu orang dapat bergerak, dan janji yang tidak boleh diberikan sebelum mendapat kepastian. Ada bagian pekerjaan yang disukainya, ada yang sering membuatnya kehilangan waktu makan.
'Kalau tidak ada telepon dariku, kamu masih bisa lupa makan?'
'Bisa. Itu kebiasaan burukku sendiri. Bukan tugasmu mengecek setiap hari.'
Syifa tertawa kecil. Athar kemudian bertanya apa yang ingin ia kerjakan di toko selain mengurus akibat pekerjaan Ryan dahulu. Syifa menyebut keinginannya mencoba barang buatan lokal, tetapi masih ingin melihat kualitas dan perhitungannya sebelum menyisihkan tempat pajangan.
'Aku belum mencari orangnya,' katanya. 'Masih ingin tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan pelanggan.'
Athar menanyakan apakah ia ingin diberi pendapat. Syifa mengiyakan. Mereka membicarakan ukuran barang dan kemungkinan menguji contoh lebih dulu, tanpa langsung mencatat nama pemasok atau menetapkan tanggal pembukaan. Syifa menyadari dirinya tidak sekadar sedang didengarkan mengulang luka.
Percakapan beralih ketika Athar melihat Syifa memilih minuman yang tidak terlalu manis. Ia ingat selera yang berbeda sewaktu mereka kecil. Syifa mengatakan kebiasaannya memang berubah; ada makanan yang dahulu dicari sekarang justru jarang dibeli.
'Berarti banyak yang harus kutanyakan lagi,' kata Athar.
'Kalau menganggap semua masih sama, nanti kamu salah beli.'
Athar tertawa. Ia menceritakan makanan yang sering dibuatnya sendiri di kota ketika pulang terlalu malam. Syifa bertanya apakah hasilnya dapat dimakan atau hanya cukup mengenyangkan. Athar mengakui pernah membuang bagian yang hangus dan menyisakan bagian tengah. Keduanya tertawa tanpa perlu menghubungkannya dengan orang yang pernah menyakiti Syifa. Saat tawa mereda, Syifa baru sadar bahunya tidak lagi menegang seperti ketika datang. Ia masih belum hendak memberi jawaban, tetapi tidak lagi sibuk menyusun alasan agar boleh pulang.
Cahaya mulai berubah ketika ia mengambil botolnya kembali. Athar melihat jam, lalu bertanya apakah Syifa ingin pulang. Mereka berdiri setelah merapikan kantong dan memastikan tidak ada bungkus tertinggal. Jalan kembali sedikit menanjak; keduanya memperlambat langkah di bagian yang tidak rata.
'Aku belum memberi jawaban,' kata Syifa ketika rumah-rumah mulai terlihat.
'Aku mendengar.'
'Kalau aku ingin mengajak bertemu lagi, aku akan bilang. Kamu juga boleh bertanya, tapi jangan menganggap diamku berarti setuju.'
Athar menjawab iya. Tidak ada janji bahwa Syifa pasti menerima suatu hari. Ia mengantar sampai pagar, lalu menunggu Syifa menemukan kunci sebelum berpamitan kembali ke rumah Bagas. Besok ia harus pulang ke kota sesuai jadwal kerjanya.
Di teras, Syifa mengeluarkan sandal dan melihat sedikit tanah menempel pada sisinya. Ia membersihkannya dengan air, membiarkan mengering sebelum disimpan. Ponselnya belum berbunyi. Athar tidak mengirim pertanyaan untuk meminta kepastian beberapa menit setelah percakapan selesai.
Syifa masuk dan membuka jendela ruang makan. Sore itu tidak berakhir dengan keputusan besar, tetapi ia mengetahui apa yang sebenarnya ditanyakan kepadanya. Ia juga telah mengatakan apa yang belum dapat diberikannya. Ketika menyiapkan makan malam, ia masih teringat cerita Athar tentang masakan yang hangus. Cerita tentang masakan yang hangus itu membuatnya tersenyum, lalu kembali memperhatikan masakan agar tidak terlalu lama di atas api.