Menjelang akhir bulan keenam, Syifa kembali memeriksa catatan yang dibawanya dari pertemuan dengan Lestari dua pekan lalu. Dokumen lanjutan sudah diterima melalui proses yang ditindaklanjuti, dan penjelasan tentang masa yang harus dijalaninya telah disesuaikan dengan keadaan dirinya. Ia menghubungi Lestari pada waktu yang disepakati untuk memastikan tidak ada urusan yang terlewat.
Percakapan itu berlangsung singkat. Syifa mengulang tanggal dan keterangan yang perlu dipastikan, lalu mendengar konfirmasi bahwa masa yang dibicarakan tersebut sudah selesai. Ia menyimpan jawaban itu bersama berkasnya. Tidak ada orang yang langsung ditelepon untuk meminta tanggal pernikahan baru.
Di rumah, ia mengganti sarung bantal yang sudah kering dan membuka jendela kamar. Ketika melihat map di atas meja kecil, ia mengambilnya untuk dipindahkan ke lemari dokumen. Ia tidak lagi memerlukan catatan itu berada di depan mata sepanjang hari. Kunci lemari diletakkan kembali di tempatnya.
Dina datang siang itu setelah mengirim pesan dan mendapat jawaban. Yang dibawanya dua wadah makanan, bukan undangan untuk membicarakan Ryan. Syifa mempersilakannya duduk sementara ia mengambil piring kecil.
'Ibu mencoba resep yang ada di buku itu,' kata Dina. 'Tapi kurang yakin rasanya sudah benar.'
Syifa mencicipi sesendok. Terlalu manis menurut lidahnya. Ia mengatakan demikian, lalu terkejut ketika Dina tidak segera membela takaran yang dipakai.
'Iya, tadi Ibu menambahkan sedikit lagi,' jawab Dina. 'Seharusnya dicoba dulu.'
Mereka makan sedikit sambil membicarakan cara menyimpan sisanya. Dina meminta wadah itu dikembalikan kapan saja Syifa sempat, tanpa menyuruhnya datang ke rumah pada hari tertentu. Ketika Syifa mengatakan akhir pekannya mungkin terpakai untuk urusan toko, Dina mengangguk.
'Kabari saja. Kalau Ibu yang lewat, Ibu tanya dulu.'
Syifa mengambil air minum. Ada jeda sebelum Dina menyebut Sherly yang sekarang tinggal bersama kerabat. Ia hanya menyampaikan bahwa mereka sudah berbicara dan kunjungan akan dilakukan sesuai kesepakatan. Syifa tidak meminta rincian pemeriksaan atau pertengkaran pasangan itu.
Dina sempat menarik napas seperti ingin berkata lebih banyak. Lalu ia menunjuk makanan di piring yang masih tersisa.
'Kalau terlalu banyak, jangan dipaksakan habis. Simpan untuk nanti saja.'
Syifa mengangguk. Hal yang berubah hari itu kecil, tetapi dapat dilihatnya sendiri. Dina menerima jawaban yang tidak sesuai harapannya tanpa menghubungkan semuanya dengan kewajiban seorang menantu. Ketika berpamitan, ia membawa kembali tasnya dan tidak meninggalkan pesan agar Syifa memikirkan rujuk.
Sore harinya, Ryan menemui Sherly sesuai waktu yang sudah disepakati. Mereka duduk di ruang depan rumah kerabat, dengan daftar kebutuhan dan catatan pinjaman di antara mereka. Ryan sudah memberi jawaban sehari setelah pembicaraan dua pekan lalu, tetapi hari ini ia membawa bukti bahwa uang yang disanggupinya benar-benar tersedia.
'Tiga juta ini dari dana pribadiku,' katanya. 'Aku sudah memisahkannya setelah menghitung kebutuhan yang tetap harus kubayar. Ini bantuan dariku. Bukan pinjaman baru yang harus kamu kembalikan.'
Sherly meminta waktu untuk memeriksa keterangannya. Ia tidak ingin menerima uang yang ternyata diambil dari pembayaran pemeriksaan atau belanja yang belum dipenuhi. Ryan memperlihatkan perhitungannya, tanpa membawa catatan toko Syifa yang urusannya sudah ditutup.
'Aku tidak mau kamu menagihnya nanti kalau kita sedang bertengkar,' kata Sherly.
'Aku setuju ditulis sebagai bantuan sukarela untuk pembayaran pokok ini.'
Mereka menyampaikan kesepakatan tersebut kepada Bu Intan. Pendamping itu meminta bukti sumber dan penerimaan disiapkan untuk pertemuan yang akan mengatur pembayaran, bersama satu juta yang sudah disisihkan Sherly dari upah. Jumlah rencana pembayaran pokok menjadi empat juta. Uang belum diserahkan kepada Reno hari itu.
Sherly menuliskan pemisahan itu dengan jelas. Satu juta miliknya berasal dari pekerjaan yang upahnya sudah diterima; tiga juta Ryan bantuan pribadi. Tidak ada bagian dari delapan belas juta pengembalian uang toko yang digunakan kembali. Ia menanyakan pula kelanjutan pengaduan ancaman agar pembayaran tidak dibaca sebagai persetujuan atas tuntutan tambahan.
Bu Intan menjawab langkah komunikasi akan disiapkan bersama bukti-bukti yang sudah ada. Sherly tidak diminta menemui Reno diam-diam. Ia meletakkan ponsel setelah jadwal tindak lanjut dicatat, kemudian menyimpan uang dan bukti sesuai petunjuk yang telah dibicarakan.
Menjelang magrib, Ryan berpamitan. Ia mengembalikan kursi ke tempat semula dan membawa gelas bekas minumnya ke dapur setelah mendapat izin. Sherly mengantarnya sampai pintu. Mereka belum tinggal bersama, tetapi ia sudah dapat menyebut tindakan tertentu yang dikerjakan Ryan hari itu, bukan hanya janji bahwa semua akan lebih baik.
Di rumahnya sendiri, Syifa menerima pesan Athar. Ia bertanya apakah pada Minggu sore ada waktu berbicara setelah menyelesaikan urusan Bagas. Syifa membuka jadwal toko sebelum menjawab. Ia menyatakan waktu yang mungkin tersedia, belum menjadikan pertemuan itu jawaban atas sesuatu yang tidak pernah ditanyakan secara terang.
Athar membalas akan memastikan jamnya lagi menjelang hari tersebut. Syifa meletakkan ponsel dan memindahkan makanan pemberian Dina ke wadah yang lebih kecil. Ia mencuci wadah pinjaman agar siap dikembalikan pada kesempatan yang disepakati.
Sebelum membuka buku, ia sempat menerima ketukan Murni dari pagar. Tetangganya hendak meminjam ember karena ada air menetes di salah satu sisi rumah setelah hujan. Syifa mengambil ember yang kosong dan menanyakan apakah barang di bawahnya sudah dipindahkan.
'Sudah. Anak-anak membantu mengangkat tikar,' jawab Murni.
Syifa menyalakan lampu teras untuk melihat jalan yang licin. Ia menawarkan menemani sebentar, tetapi Murni mengatakan suaminya sedang di rumah dan besok mereka akan mencari orang untuk memeriksa bagian atap. Syifa meminta dikabari setelah diketahui apa yang rusak. Ia tidak menjanjikan jumlah biaya sebelum ada pemeriksaan. Setelah Murni pulang membawa ember, Syifa mengeringkan bekas tetes air di ambang pintunya sendiri, lalu mengunci pagar.
Ketika malam turun, ia duduk dengan buku bacaan yang lama terhenti. Pada halaman pertama yang dibukanya, ia harus membaca ulang beberapa paragraf untuk mengingat cerita. Ia membiarkan dirinya mulai dari bagian yang diperlukan, kemudian meneruskan perlahan sampai mengantuk. Ponsel tetap berada di meja, tanpa harus digenggam sepanjang waktu.